Gallery

Ingin Menjadi Stock-Picker?

Beberapa waktu lalu saya ngobrol-ngobrol dengan teman-teman di sebuah grup BBM. Topiknya (selalu) menarik, yaitu tentang stock picking. Kali ini kami tidak membahas mengenai saham apa yang layak untuk dibeli akan tetapi lebih kepada saham-saham seperti apa yang layak dibeli. Thanks to communication technology, walaupun hanya di dunia maya, kami bisa ngobrol dengan leluasa seperti sedang hangin’ out di sebuah café.

Ok, mari kita lanjutkan.

Musuh dari seorang stock picker adalah pasar yang efisien. Pasar yang efisien menandakan bahwa sebagian besar saham dihargai secara wajar. Jika memang pasar seperti ini ada, maka tidak akan ada gunanya kita repot-repot mencari saham yang murah. Beruntungnya, pada kenyataannya paling tidak pasar tidak selalu efisien. Jikalau pasar sedang dalam kondisi efisien pun masih ada saham-saham yang tidak dihargai dengan wajar.

Pada kondisi pertama, pasar dalam kondisi efisien namun ada beberapa saham yang tidak dihargai dengan wajar. Apakah mungkin? Mungkin saja. Jika kita perhatikan, saham-saham yang aktif diperjualbelikan setiap harinya tidaklah banyak. Perhatikan pula saham apa saja yang sering dibahas oleh para analis saham. Saham-saham yang kita dengar sehari-hari mungkin jumlahnya hanya sekitar 30% dari seluruh saham yang terdaftar di BEI. Lalu kemana saham-saham yang lain? Bisa dibilang saham-saham tersebut adalah saham yang terlupakan. Mengapa ada saham yang aktif diperdagangkan dan ada yang sepi-sepi saja? Well, penjelasan paling sederhana adalah memang karena kinerjanya jelek sehingga tidak ada yang mau menyentuh. Hal lain yang menjadi penyebabnya adalah sedikitnya jumlah saham yang beredar di pasar sehingga otomatis volume perdagangan pun tipis.

Walaupun begitu, beberapa kali saya menemukan beberapa saham yang kinerjanya bagus namun dihargai dengan sangat murah. Mengapa bisa begitu?  Jika kita amati, para pemain besar sangat mendominasi pasar. Sebut saja: reksa dana, dana pensiun, asuransi, dan lain-lain. Mereka memiliki dana kelolaan yang besar dan umumnya sangat konservatif dalam mengalokasikannya. Sebagai contoh, suatu reksa dana hanya diijinkan untuk membeli maksimum 10% dari Nilai Aktiva Bersihnya pada saham tertentu. Selain itu, reksa dana saham hanya diijinkan untuk membeli 5% dari jumlah modal disetor dari suatu emiten. Aturan tersebut memang dibuat agar reksa dana tidak terpapar pada risiko yang berlebihan pada efek tertentu. Di sisi lain, adanya aturan seperti itu akan membatasi reksa dana untuk cenderung hanya membeli saham-saham yang berkapitalisasi besar agar dana kelolaannya dapat dialokasikan dengan lebih mudah.

Pembatasan bagi institusi besar akan menjadi keuntungan bagi kita. Pada umumnya, saham-saham yang banyak dimiliki oleh institusi besar harganya cenderung mahal atau paling tidak wajar. Saham yang terlalu banyak diperhatikan dan diulas akan cenderung mahal harganya. Mungkin hampir semua informasi tentang saham tersebut telah tercermin pada harganya. Jika kita mencari saham-saham yang murah, bukan di situ tempatnya.

Mari kita mencoba untuk mencari saham yang jarang terdengar dan analisa baik-baik. Menemukan saham yang murah dan berkinerja baik memang membutuhkan banyak jam terbang, akan tetapi reward-nya juga besar. Walupun begitu, ada satu hal yang harus kita perhatikan. Walaupun kita akhirnya menemukan saham yang murah dan berfundamental bagus, ada hambatan lainnya yang harus diatasi, yaitu diri kita sendiri. Pada dasarnya manusia itu suka melakukan sesuatu yang juga dilakukan oleh orang lain. Melakukan sesuatu secara kolektif akan membuat kita nyaman. Sayangnya, dalam investasi hal tersebut tidak akan membantu kita. Saham-saham yang terlupakan akan membuat kita merasa tidak nyaman karena tidak banyak orang lain yang ingin membelinya. Di sinilah jam terbang akan sangat berpengaruh pada pengambilan keputusan kita.

Pada kondisi kedua, pasar dalam kondisi tidak efisien. Pasar tidak selamanya efisien. Ada kondisi-kondisi tertentu yang menyebabkannya tidak efisien. Salah satu contohnya adalah ketika terjadi crash. Memang betul suatu crash ada penyebabnya. Akan tetapi pada kenyataannya, efek dari crash tersebut seringkali lebih hebat daripada seharusnya. Pada kondisi darurat, manusia akan melakukan apa saja untuk menyelamatkan diri dan seringkali tindakan yang irasional pun ditempuh. Pandangan mata yang terlatih akan membuat kita mampu membedakan mana saham yang seharusnya jatuh harganya dan saham mana yang kejatuhannya tidak rasional. Oleh karena itulah kita harus mengetahui sebagus apa bisnisnya dan apakah saham tersebut dijual dengan harga murah atau tidak. Jika ketika crash kita tidak mengetahui saham apa yang sudah murah dan saham mana yang masih mahal, kita tanpa sadar telah melakukan gambling, suatu hal yang tidak saya rekomendasikan dalam berinvestasi.

Pada kondisi ketiga, pasar berada dalam kondisi efisien. Mungkin pada 80% dari seluruh hari perdagangan pasar dalam kondisi efisien. Apa yang bisa kita lakukan? Yang pertama adalah diam saja. Sebagai investor kita memiliki hak untuk tidak membeli ataupun menjual. Kita juga memiliki hak untuk tidak memiliki satu saham pun. Apakah pada kondisi pasar seperti ini kita tidak bisa memiliki saham? Bisa. Para pelaku pasar cenderung untuk short-sighted. Dalam hal ini 1-2 tahun pun masih saya katakan short-sighted. Saat ini kebanyakan rekomendasi saham hanya diperuntukkan beberapa bulan ke depan. Jarang sekali ada rekomendasi saham yang mengatakan: “ok, hold saham ini untuk 5 tahun ke depan”. Di sinilah keuntungan yang bisa kita ambil sebagai long-term investor. Meskipun harga saham dihargai dengan wajar, apabila bisnisnya bagus dan kita memegang dalam jangka panjang, pertumbuhan bisnisnya akan tercermin pada kenaikan harganya. Sebagai contoh, bisa saja kita berbarengan membeli saham Coca Cola dengan Warren Buffett. Jika kita hanya berencana hanya hold untuk 1 tahun, keuntungan yang didapatkan tidaklah besar karena keuntungan yang besarnya cukup signifikan akan kita peroleh jika kita hold dalam jangka panjang, sebuah kesabaran yang jarang dimiliki oleh investor pada umumnya.

Jadi, masih ingin menjadi stock-picker?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s