Gallery

Menuju Revolusi Industri Ketiga

Sumber: Body, Mind and Seoul

Guncangan-guncangan yang terjadi pada sistem ekonomi dan keuangan dunia selama beberapa dekade terakhir bisa jadi bukanlah hanya sekedar riak-riak kecil melainkan penanda dari sebuah masa transisi dari sistem ekonomi lama menuju ke sistem ekonomi baru. Walaupun perubahan ini bukanlah suatu hal yang baru, sebuah revolusi selalu menjadi masa-masa yang berat dan penuh tantangan karena cenderung untuk menggoyang suatu tatanan yang telah terpelihara dengan baik dalam jangka waktu yang panjang.

Sebelum menuju ke menu utama, saya akan bercerita sedikit tentang revolusi industri. Harus diakui, perkembangan kebudayaan, teknologi, dan ilmu ekonomi sangat dipengaruhi oleh adanya revolusi industri. Setiap revolusi industri memiliki sebuah tatanan yang mendobrak pemahaman sebelumnya dan terus berkembang hingga tergantikan oleh revolusi industri selanjutnya. Terdapat dua hal yang selalu menjadi pondasi dari revolusi industri, yaitu media komunikasi dan sumber energi.

Sekitar dua abad silam, revolusi industri pertama telah membuat manusia mengenal buku dan surat kabar sebagai media komunikasi sebagai implikasi dari ditemukannya mesin cetak. Penemuan mesin cetak tersebut telah secara drastis meningkatkan persentase orang yang melek huruf. Pilar kedua dari revolusi industri pertama adalah ditemukannya mesin uap yang dengan cepat menggantikan tenaga manusia dalam pembuatan barang. Pekerjaan yang dahulu menggunakan tenaga manusia mulai digantikan oleh alat-alat mekanis.

Awal abad ke-20 merupakan penanda dimulainya revolusi industri kedua. Ditemukannya listrik dan minyak bumi menjadi motor bagi era ini. Listrik menjadi fondasi ditemukannya media komunikasi baru seperti telegraf, telepon, radio, dan TV. Sementara itu, minyak menjadi sumber energi penggerak alat transportasi baru: mobil. Dengan segera mesin-mesin pertanian yang hanya membutuhkan sedikit tenaga kerja menggusur para petani. Pabrik-pabrik yang memanfaatkan listrik mulai diisi oleh para pekerja yang sebelumnya adalah para penggarap ladang pertanian. Penemuan listrik dan pemanfaatan minyak bumi benar-benar telah mengubah cara hidup manusia. Rel-rel kereta yang usang mulai digantikan dengan jalan raya. Jaringan telpon mulai digelar secara luas sebagai media komunikasi baru. Negara-negara di Eropa, Amerika Serikat, dan Jepang yang mampu memanfaatkan perubahan era ini dengan segera menjadi makmur.

Revolusi Industri Ketiga

Kemakmuran yang diperoleh oleh negara maju telah menyebabkan tenaga kerja menjadi komponen produksi yang mahal. Oleh karenanya, pada akhir abad ke-20, kebutuhan yang besar terhadap buruh menyebabkan para produsen mengalihkan produksinya ke negara-negara yang menawarkan jumlah buruh besar yang bersedia untuk dibayar dengan murah.

Setelah berjalan hampir satu abad, revolusi industri kedua mulai tersendat-sendat jalannya. Pabrik-pabrik yang dahulu dipenuhi oleh para pekerja semakin lama semakin sepi digantikan oleh gemuruh mesin-mesin yang bekerja dengan sangat efisien.

Media komunikasi lama seperti surat kabar, majalah, dan TV mulai tergantikan oleh internet yang mampu memberikan layanan yang sama dengan kecepatan penyebaran yang jauh lebih tinggi dan jumlah informasi yang jauh lebih besar. Komputer tablet perlahan-lahan mulai menggantikan surat kabar sementara teknologi seluler telah menggusur kabel-kabel telepon sebagai wahana komunikasi.

Apa yang terjadi dengan sumber energinya (minyak)? Kita telah melihat bagaimana selama beberapa tahun terakhir harga minyak mengalami gejolak yang luar biasa karena berulang kali terhempas oleh kabar menipisnya cadangan minyak dunia. Walaupun dengan sangat perlahan, pengembangan sumber energi terbarukan mulai berjalan.

Tanpa terasa kita sedang menuju ke revolusi industri ketiga, dengan internet sebagai media komunikasinya dan energi terbarukan sebagai sumber energinya.

Seperti lazimnya sebuah revolusi, akan ada korban yang berjatuhan. Pada beberapa paragraf di atas telah dijelaskan bahwa para fungsi para buruh pabrik mulai tergantikan oleh mesin. Dengan kata lain, untuk memproduksi barang dibutuhkan tenaga kerja yang sangat sedikit. Dampaknya, kita akan bisa memperoleh barang-barang kebutuhan kita dengan harga yang lebih murah.

Sayangnya, era kelimpahan ini justru menimbulkan paradoks. Apabila banyak tenaga kerja yang tergusur, bagaimana mereka bisa membeli barang-barang yang berlimpah tersebut.

Salah satu penanda lain yang harus diperhatikan adalah banyaknya subsidi. Kita melihat bagaimana pemerintah AS secara tidak langsung menyubsidi rakyatnya dengan mengizinkan debitur ‘subprime’ untuk membeli rumah. Kita bisa menyaksikan sendiri bagaimana efek yang ditimbulkannya.

Apa yang dialami oleh negara-negara Eropa belakangan ini merupakan sisi lain dari subsidi. Kebijakan pemerintahnya untuk memberikan subsidi atas kebutuhan hidup rakyatnya tanpa terasa menjadi bom waktu. Banyaknya tenaga kerja yang mulai tergantikan oleh mesin membuat jumlah penganggur yang harus dipelihara oleh pemerintah semakin meningkat.

Kedua contoh di atas memiliki akar permasalahan yang sama yaitu adanya pergeseran sistem ekonomi. Perubahan fondasi industri telah menyebabkan tatanan yang terjaga selama ini menjadi kacau-balau.

Salah satu penanda lainnya adalah semakin meningkatnya kebutuhan akan produk yang terkostumisasi. Era produksi barang secara massal mulai berlalu. Penyebaran informasi yang begitu cepat melalui internet menyebabkan orang memiliki kebutuhan yang sangat beragam. Perubahan ini dapat kita amati manakala seorang pekerja kreatif jauh lebih dihargai dibandingkan dengan buruh yang memproduksi barang massal. Produksi barang secara terpusat akan mulai berkurang karena harus bersaing dengan produsen-produsen dengan skala yang lebih kecil yang menyasar ceruk (niche) pasar tertentu dan sanggup memberikan barang dan jasa yang terkostumisasi.

Apakah ini hanyalah mimpi di siang bolong? Anda dapat menilainya sendiri. Bukalah mata lebar-lebar untuk mengamati perubahan yang terjadi di sekeliling Anda saat ini.

One thought on “Menuju Revolusi Industri Ketiga

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s