Gallery

Debt: Looks Good until S**t Happens

Besarnya potensi pasar memang sangat menggoda untuk ditangkap. Keramaian yang kita lihat sehari-hari di mal adalah gambaran atas suburnya pertumbuhan kelas menengah di negeri ini. Hal tersebut tidaklah mengherankan dan tercermin pada kinerja emiten-emiten di BEI seperti yang pernah saya paparkan pada tulisan saya sebelumnya. Cepatnya perputaran uang berujung pada meningkatnya penjualan. Pada titik tertentu, produsen harus melakukan ekspansi untuk dapat meningkatkan hasil produksi. Umumnya, kenaikan laba otomatis akan diikuti oleh membanjirnya cash flow yang dapat dimanfaatkan emiten untuk membiayai ekspansinya. Walaupun demikian, ada kalanya tingginya jumlah permintaan membutuhkan modal yang cukup besar untuk biaya ekspansi. Tidak tertutup kemungkinan emiten harus berutang agar dapat berkekspansi sampai ke level yang sesuai dengan jumlah permintaan. Hal ini wajar-wajar saja selama utang yang diambil bersifat produktif dan mampu memberikan imbal hasil yang lebih tinggi daripada bunga yang harus dibayarkan.

Seperti lazimnya terjadi pada ekonomi yang sedang bergerak cepat, pertumbuhan akan diikuti oleh kenaikan utang. Pada kondisi tersebut faktor kehati-hatian merupakan kunci untuk dapat bertahan pada level rasional. Godaan untuk berutang yang sedemikian besar berpotensi untuk membutakan mata terhadap risiko yang mengancam di baliknya. Seperti diutarakan Hyman Minsky, ekspansi utang yang keblinger merupakan awal dari bubble. Pada tahap tertentu utang akan menjadi mesin pendorong yang handal untuk mendukung pertumbuhan laba. Pada kondisi tersebut, kita harus selalu menyadari bahwa semua itu ada batasnya. Perubahan kondisi ekonomi seringkali membuat banyak perusahaan salah arah dan terjebak dalam utang yang menggunung. Berdasarkan pengalaman di masa lampau kita dapat melihat bahwa utang menjadi pemicu terjadinya krisis ekonomi. Penyebab macetnya laju pertumbuhan ekonomi bisa bermacam-macam dan seringkali tidak terduga. Apapun itu, ketika roda ekonomi mulai melamban dan bahkan berbalik arah, utang akan menjadi beban yang sangat berat untuk dipikul.

Pada tahun 1997, Indonesia mendapatkan pelajaran yang sangat keras yang meluluhlantakkan tatanan ekonominya. Selisih suku bunga dalam rupiah dan mata uang asing yang cukup besar memicu para pengusaha untuk berutang dalam mata uang asing. Lambat laun utang semakin menggunung dan berubah menjadi malapetaka manakala rupiah anjlok nilainya.

Sebelas tahun kemudian, utang kembali menjadi pemicu terjadinya krisis perumahan di AS yang dengan cepat merambat ke seluruh dunia. Seperti yang kita ketahui, IHSG terbatuk-batuk terkena imbas krisis di AS sehingga jatuh bebas ke level 1.100 setelah sebelumnya mencapai level tertinggi di 2.840. Krisis tersebut menjadi pil pahit bagi AS yang terlalu longgar dalam mengawasi perkembangan utangnya. Adanya instrumen turunan dari subprime mortgage telah menjadi senjata penghancur yang melipatgandakan tingkat kerusakannya.

Fenomena paling gres adalah krisis yang melanda negara-negara di Eropa. Tidak sulit untuk menebak penyebabnya. Utang pemerintah yang tak terkendali untuk membiayai defisit anggaran telah mencapai batas toleransi. Setelah Yunani, kita melihat Spanyol, Irlandia, dan mungkin Portugal akan menjadi korban berikutnya.

Apa pelajaran terpenting yang bisa kita peroleh? Cepatnya perputaran roda ekonomi akan membuat risiko berutang seakan-akan terkubur di dasar sungai. Ketika musim kemarau datang dan sungai-sungai mengering, kita akan menyaksikan risiko tersebut terkuak dan seringkali menampakkan dirinya dalam bentuk yang mengerikan.

Saat ini secara keseluruhan utang pemerintah Indonesia masih terbilang rendah. Demikian pula dengan utang perusahaan swasta, terutama yang terdaftar di BEI. Emiten masih mampu untuk terus membukukan kenaikan laba tanpa harus berutang secara berlebihan. Saya tidak tahu apakah akan ada masa ketika sejarah berulang dan perusahaan tertimbun kembali oleh segunung utang. Ketika masa itu datang, perusahaan yang konservatif dalam berutang akan lebih ringan kakinya untuk melepaskan diri dari kubangan lumpur.

2 thoughts on “Debt: Looks Good until S**t Happens

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s