Gallery

Berapakah Nilai Wajar IHSG?

Salah satu pertanyaan menarik bagi para pelaku pasar adalah: Berapakah nilai wajar IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan)? Pertanyaan ini cukup sederhana akan tetapi untuk menjawabnya tidaklah semudah membalik telapak tangan. Jika kita berbicara tentang IHSG, artinya kita berbicara tentang seluruh emiten yang terdaftar di IDX (Indonesia Stock Exchange / BEI). Jawaban dari pertanyaan tersebut akan didapatkan jika kita memasukkan seluruh emiten ke dalam perhitungan. Apabila kita mencari nilai wajar dari satu emiten, kita bisa melakukan analisis mendalam untuk mendapatkan asumsi yang sesuai sehingga mendapatkan hasil yang akurat. Sayangnya, hal tersebut hampir tidak mungkin dilakukan apabila kita melakukan valuasi terhadap keseluruhan emiten karena akan membutuhkan waktu, usaha, dan biaya yang sangat besar.

Lalu bagaimanakah solusinya?

Yang bisa kita lakukan adalah berhitung dengan menggunakan data agregat dan kemudian melakukan simplifikasi yang diperlukan. Setidaknya, kita akan memperoleh big picture dengan usaha yang tidak terlalu besar.

Ada dua pendekatan yang akan saya paparkan melakukan penilaian terhadap harga wajar IHSG yaitu, 1)  P/E Ratio dan 2) Market Cap to GDP Ratio. Kedua pendekatan tersebut memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing yang akan dapat Anda lihat pada bagian selanjutnya dari tulisan ini.

Menilai Harga Wajar IHSG dengan Menggunakan P/E Ratio

Salah satu cara untuk menilai pasar adalah dengan menelusuri data historis P/E ratio-nya.  Rasio ini umum digunakan untuk melakukan penilaian terhadap suatu emiten secara cepat. Kali ini kita akan mencoba untuk mengimplementasikannya untuk menghitung nilai wajar IHSG.

Data pertama yang kita butuhkan untuk menghitung P/E ratio IHSG adalah harga. Untuk itu, kita harus mengumpulkan data harga historis seluruh saham, menyesuaikan dengan stock split, rights issue dan aksi korporasi lainnya kemudian mengalikannya dengan jumlah saham beredar.

Sulit? Ya benar. Terlalu besar effort yang harus kita keluarkan untuk itu. Sebagai solusinya, saya mencari data historis market cap IHSG. Data tersebut bisa didapatkan di laporan tahunan IDX yang tersedia di situsnya.

Ok, masalah pertama kita terpecahkan. Lalu bagaimana mencari data kedua, yaitu earnings per share (EPS)? Karena nominator yang kita gunakan adalah market cap (price x outstanding share), maka denumerator yang akan kita gunakan adalah total laba bersih dari seluruh emiten di IDX. Sampai pada titik ini, kesulitan kita akan bertambah. Mau tidak mau kita harus mencari data historis laba bersih masing-masing emiten di IDX dan kemudian menjumlahkannya. Beruntungnya, saya memilikinya J Tentu saja data tersebut tidak secara instan saya dapatkan. Untuk mengumpulkannya dibutuhkan waktu dan usaha yang cukup besar. Bagaimana caranya? Jangan tanya di sini, karena jawabannya akan cukup panjang J Untuk saat ini, cukup diketahui bahwa datanya ada.

Karena datanya sudah terkumpul, kita dapat mulai melakukan perhitungan P/E Ratio IHSG. Hasilnya terlihat pada gambar berikut ini:

Berdasarkan grafik tersebut, kita mendapatkan gambaran bahwa P/E ratio IHSG berayun-ayun dari nilai terendah 9,78x ke nilai tertinggi di 18,71x dengan rata-rata 14,76x. Saya memberikan toleransi sebesar +/- 10% untuk nilai rata-rata tersebut untuk mendapatkan range wajar P/E ratio IHSG. Terlihat bahwa dengan P/E ratio 16,41x pada akhir tahun 2011, saat ini IHSG berada di atas batas atas nilai wajarnya. Menurut pendapat saya, IHSG masih berada pada level yang cukup wajar mengingat saat ini pasar sudah mulai mengantisipasi kinerja emiten di 2012 sehingga forward P/E ratio-nya akan berpotensi menurun.

Menilai Harga Wajar IHSG dengan Menggunakan Total Market Cap / GDP Ratio

Pendekatan kedua yang dapat dilakukan untuk menilai harga wajar IHSG adalah dengan menggunakan total market cap / GDP ratio. Data untuk menghitungnya relatif mudah didapatkan. Market cap IHSG bisa kita dapatkan di laporan tahunan IDX seperti yang telah saya sebutkan sebelumnya. Sementara itu, kita bisa memperoleh data historis GDP Indonesia di situs IMF. Dengan demikian, kita bisa langsung melakukan perhitungan dan menggambar grafiknya untuk memperoleh gambaran besarnya.

 

Terlihat bahwa sejak tahun 1998 sampai 2011, market cap / GDP ratio naik turun dengan kecenderungan meningkat. Tren naik dari rasio tersebut cukup wajar mengingat setiap tahunnya ada pertambahan jumlah emiten di IDX yang mendongkrak market cap secara keseluruhan. Titik puncak dan titik lembah dari grafik di atas perlu kita perhatikan karena bisa menjadi referensi untuk mengetahui kewajaran IHSG. Saya mengarsir area yang menjadi batas atas dan batas bawah dari market cap/GDP ratio. Satu hal yang harus diperhatikan adalah sejalan dengan pertambahan jumlah emiten, batas-batas tersebut dapat terus meningkat. Sebagai contoh, pada tahun 1999, rasio tersebut mencapai puncaknya di 41,08% yang kemudian diikuti oleh penurunan IHSG pada tahun-tahun berikutnya. Kejadian yang sama terulang pada tahun 2007 ketika rasio ini berada di level 50,33% yang kemudian diikuti oleh penurunan IHSG setelahnya.

Apakah yang terjadi pada tahun 2010? Terlihat bahwa rasio tersebut kembali menembus rekor tertinggi di level 50,45% namun masih diikuti oleh kenaikan IHSG walaupun tidak terlalu tajam. Walaupun begitu, seperti yang kita ketahui pada tahun 2011 sampai dengan saat ini IHSG mengalami koreksi yang cukup besar sementara rasionya semakin menurun. Satu hal yang perlu saya garis bawahi adalah bahwa titik puncak dari rasio ini akan terus bertambah tinggi seiring dengan bertambahnya jumlah emiten. Jika kita merujuk pada perubahan titik puncak rasio ini dari tahun 1999 s.d 2007, maka kemungkinan titik puncak akan bergeser ke level 59% dalam beberapa tahun ke depan.

Saya cenderung untuk tidak berharap banyak pada akurasi market cap / GDP ratio pada kasus Indonesia karena umumnya rasio tersebut akan lebih efektif untuk diterapkan pada market yang sudah mature. Jumlah emiten yang terdaftar di IDX relatif masih sedikit dibandingkan dengan jumlah keseluruhan perusahaan yang ada sehingga agak sulit untuk menentukan kewajaran nilai IHSG berdasarkan rasio ini. Meskipun begitu, dengan melakukan sedikit interpolasi, kita tetap bisa mendapatkan gambaran besarnya.

Final Words

Baik P/E ratio maupun Market Cap / GDP ratio memberikan gambaran yang menarik tentang posisi IHSG saat ini. Kedua rasio tersebut saling mengkonfirmasi bahwa saat ini walaupun IHSG berada di level yang cukup tinggi, masih tersisa ruang untuk terus melaju. Tentu saja risiko akan tetap ada dan kita harus selalu berhati-hati.

Sebagai referensi tambahan, silakan membaca artikel-artikel berikut:

 

Disclaimer is on.

Tulisan ini bukanlah ajakan atau membeli suatu saham. Keuntungan maupun kerugian yang diakibatkan oleh pengambilan keputusan berdasarkan tulisan ini tidak menjadi tanggung jawab penulis.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s