Gallery

Adakah Graham and Doddsville Investor di Indonesia?

Sumber: Peter Lim’s Financial Thoughts

Semalam saya akhirnya berkesempatan untuk membaca sebuah artikel fenomenal yang ditulis oleh Warren Buffett sampai selesai. Artikel tersebut cukup panjang (sekitar 13 halaman). Artikel tersebut merupakan transkrip dari pidatonya pada tahun 1984 di Columbia Business School yang dimuat oleh Hermes, sebuah majalah kampus. Di kampus tersebut juga lah ia bertemu dengan guru besarnya, Benjamin Graham. Artikel tersebut berjudul “The Superinvestors of Graham-and-Doddsville” yang dapat diunduh di sini.

Mengapa artikel tersebut begitu fenomenal? Jawabannya mungkin adalah karena di dalam artikel tersebut Buffett mencoba menyangkal teori pasar efisien yang selalu didengung-dengungkan oleh para akademisi. Selama ini mereka menganggap Buffett adalah sebuah pencilan, sebuah anomali di tengah efisiennya pasar yang artinya mungkin hanya ada 1% dari populasi di bumi ini yang sepertinya. Well, jika kita hanya melihat jumlah kekayaannya mungkin hal tersebut benar. Namun apabila kita mau melihat lebih jauh, kita akan menemukan hal yang berbeda dan sangat menarik. Hal tersebutlah yang diceritakan oleh Buffett di dalam artikelnya.

Buffett memulai artikelnya dengan bercerita tentang sebuah kontes nasional  untuk menebak hasil lemparan uang logam. Andaikan seluruh warga Amerika mengikuti kontes tersebut  dan setiap paginya menebak sisi muka uang logam apa yang muncul hari itu. Entah itu kepala atau ekor. Mereka masing-masing mempertaruhkan uang satu dollar. Orang yang menebak sisi muka yang benar akan mendapatkan uang taruhan dari orang yang salah menebak. Orang malang tersebut otomatis langsung tersisih dari kontes. Dari hari ke hari uang taruhan semakin menumpuk karena apa yang dimenangkan langsung dipertaruhkan keesokan harinya. Pada hari ke-20, akan ada 215 orang (dari 225 juta) yang memperoleh kemenangan sebanyak satu juta dollar. Nah, di sinilah sisi menarik dari cerita tersebut. Jika ada peserta yang sukses sampai dengan hari ke-20, itu artinya dia berhasil menebak dengan tepat sisi uang logam mana yang muncul setiap harinya sebanyak 20 kali berturut-turut.  Mungkin para pemenang tersebut sudah dianggap sebagai setengah dewa. Jika tidak dapat menahan diri, mungkin mereka sudah mulai bercerita panjang lebar mengenai teknik-teknik untuk menebak hasil lemparan uang logam, suatu hal yang menyedihkan karena sesuai dengan statistik, mereka hanyalah pencilan, orang-orang yang beruntung di antara 225 juta peserta awal.

Namun ceritanya tidak berhenti sampai di situ. Saya akan mencoba menyampaikannya dengan bahasa saya.

Bagaimana jika seandainya 30% pemenang kontes tersebut berasal dari sebuah kota kecil yang tidak kita kenal namanya? Proporsi yang aneh tersebut akan membuat kita bertanya-tanya dan berusaha mencari tahu apa penyebabnya. Jika memang ini adalah murni keberuntungan, mestinya pemenangnya akan terdistribusi secara sempurna di masing-masing negara bagian. Adanya konsentrasi pemenang di sebuah area yang sangat sempit akan sangat menarik perhatian. Pasti ada sesuatu yang membuat mereka berhasil. Menurut Buffett, di dunia investasi, kota kecil tersebut adalah kota pemikiran yang bernama Graham-and-Doddsville di mana penduduknya mengikuti panduan Ben Graham dalam menebak lemparan koin. Ups, maksud saya dalam berinvestasi. Jika ada sekelompok kecil orang yang beruntung karena mengikuti panduan investasi tertentu, ada kemungkinan mereka bukanlah pencilan. Mereka tersebar di seluruh negeri dengan pemikiran yang sama. Saham yang mereka beli hampir tidak ada korelasinya satu sama lain namun tetap memberikan hasil yang sama.

Untuk memperkuat argumennya, Buffett memaparkan rekam jejak investasi para value investor. Data yang ia berikan bercerita bahwa para value investor telah mampu untuk membukukan keuntungan dari tahun ke tahun untuk periode yang panjang, sesuatu yang mustahil untuk dilakukan di dalam pasar yang efisien. Artikel Buffett ini merupakan sentilan yang cukup keras karena disampaikan dalam pidatonya di sebuah kampus bisnis tersohor dan juga merupakan almamaternya.

Amerika Serikat merupakan salah satu negara yang memiliki bursa saham yang paling terbuka dan semua orang dapat memanfaatkan informasi yang tersedia. Bagaimana dengan di Indonesia? Harus diakui bahwa keterbukaan informasi kepada investor masih perlu diperbaiki. Namun, justru di situlah menariknya.

Semakin tidak efisien suatu pasar, semakin besar peluang seorang value investor untuk mendapatkan keuntungan. Jika gerakan pasar didominasi oleh aspek psikologis, maka akan banyak sekali saham yang harganya berbeda jauh dari nilai sebenarnya.

Apakah suatu hari akan muncul yang disebut sebagai Superinvestors of Graham-and-Doddsville di Indonesia?

One thought on “Adakah Graham and Doddsville Investor di Indonesia?

  1. Pasti akan muncul Pak. Jelas tidak dengan tiba2, mengingat value invsting hanya bagi mereka yang sabar dan cermat. Dengan sejarah Bursa kita yang masih relatif muda, mungkin 20-30 tahun lagi orang2 yang sekarang telah menerapkan prinsip2 value investing di BEI akan mulai bermekaran dan tercatat sebagai “orang2 kaya” Indonesia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s