Gallery

Sebuah Tulisan Yang Menggugah (Catatan Tentang Krisis Global)

Sumber: The Daily Bail

Beberapa waktu yang lalu saya membaca sebuah tulisan dari Joseph Stiglitz yang berjudul Book of Jobs yang dimuat di situs vanityfair.com. Tulisan tersebut bisa dibaca di:

http://www.vanityfair.com/politics/2012/01/stiglitz-depression-201201

Tulisan tersebut membuka pemikiran saya terhadap krisis global yang terjadi sejak tahun 2008 silam. Seperti yang kita tahu, krisis tersebut telah mengguncang perekonomian dunia dengan hebatnya. Setelah Amerika Serikat, kini giliran Eropa yang mulai bergejolak. Kita telah melihat bagaimana Yunani terkena dampak dari krisis karena besarnya utangnya.

Apa yang membuat tulisan Stiglitz begitu menarik? Mari kita simak bersama bagian pembuka dari artikel tersebut.

“Forget monetary policy. Re-examining the cause of the Great Depression—the revolution in agriculture that threw millions out of work—the author argues that the U.S. is now facing and must manage a similar shift in the “real” economy, from industry to service, or risk a tragic replay of 80 years ago.”

Stiglitz mengatakan bahwa penyebab krisis global bukanlah sekedar permasalahan kredit melainkan adanya pergeseran pada ekonomi riil. Selanjutnya, Stiglitz membawa kita untuk menengok kembali ke tahun 1929 ketika depresi besar melanda Amerika Serikat.

“At the beginning of the Depression, more than a fifth of all Americans worked on farms. Between 1929 and 1932, these people saw their incomes cut by somewhere between one-third and two-thirds, compounding problems that farmers had faced for years. Agriculture had been a victim of its own success. In 1900, it took a large portion of the U.S. population to produce enough food for the country as a whole. Then came a revolution in agriculture that would gain pace throughout the century—better seeds, better fertilizer, better farming practices, along with widespread mechanization. Today, 2 percent of Americans produce more food than we can consume.”

“What this transition meant, however, is that jobs and livelihoods on the farm were being destroyed. Because of accelerating productivity, output was increasing faster than demand, and prices fell sharply. It was this, more than anything else, that led to rapidly declining incomes. Farmers then (like workers now) borrowed heavily to sustain living standards and production. Because neither the farmers nor their bankers anticipated the steepness of the price declines, a credit crunch quickly ensued. Farmers simply couldn’t pay back what they owed. The financial sector was swept into the vortex of declining farm incomes.”

Pada petikan tersebut, Stiglitz mengatakan bahwa revolusi pertanian telah menyebabkan sebagian besar petani kehilangan pekerjaan karena digantikan oleh mesin. Jika pun bertahan, pendapatan mereka menurun drastis. Untuk mempertahankan standar hidupnya, mereka mulai berutang lebih banyak. Dari sinilah malapetaka tersebut bermula.

Solusi dari depresi besar didapatkan ketika pemerintah memulai transformasi struktural dengan mengubah Amerika yang berorientasi agraris menjadi manufaktur. Dengan segera para petani yang kehilangan pekerjaannya dapat disalurkan ke industri manufaktur dan mulailah Amerika Serikat menjadi negara industri dengan struktur ekonomi yang berbeda dengan sebelumnya. Yang perlu dicatat adalah pemulihan ekonomi dilakukan bukan dengan mengembalikan kondisi sebelum depresi terjadi melainkan dengan mencari bentuk ekonomi baru yang mampu memberikan lapangan pekerjaan bagi jutaan penganggur.

Selanjutnya, Stiglitz mengemukakan bahwa krisis global yang terjadi saat ini memiliki kesamaan yang kuat dengan depresi besar.

“The parallels between the story of the origin of the Great Depression and that of our Long Slump are strong. Back then we were moving from agriculture to manufacturing. Today we are moving from manufacturing to a service economy. The decline in manufacturing jobs has been dramatic—from about a third of the workforce 60 years ago to less than a tenth of it today. The pace has quickened markedly during the past decade. There are two reasons for the decline. One is greater productivity—the same dynamic that revolutionized agriculture and forced a majority of American farmers to look for work elsewhere. The other is globalization, which has sent millions of jobs overseas, to low-wage countries or those that have been investing more in infrastructure or technology. (As Greenwald has pointed out, most of the job loss in the 1990s was related to productivity increases, not to globalization.)”

Mirip seperti depresi besar, saat ini ekonomi bergeser dari era manufaktur menuju era service. Semakin lama, mesin produksi semakin efisien sehingga membutuhkan lebih sedikit tenaga kerja. Dampaknya, banyak orang kehilangan lapangan kerja dan untuk mempertahankan standar hidupnya, mereka terpaksa berutang lebih banyak. Sepertinya kalimat ini sudah saya tuliskan sebelumnya di atas ketika membahas tentang depresi besar 1929. Terlihat mirip?

Orang Amerika semakin bergantung pada utang dan pada suatu titik memicu krisis perumahan dan mengobarkan krisis global yang membuat seluruh dunia meriang.

Mirip seperti depresi besar, krisis global ini adalah sebuah indikasi dari bergesernya struktur ekonomi. Kerusakan yang telah terjadi sedemikian parahnya sehingga ada kemungkinan tidak ada jalan kembali. Selama belum ada lapangan kerja baru bagi para penganggur, maka ekonomi dunia akan susah untuk kembali stabil. Seperti yang dikemukakan Stiglitz, ekonomi akan pulih namun dengan struktur yang berbeda dari sistem ekonomi yang kita kenal sebelumnya.

4 thoughts on “Sebuah Tulisan Yang Menggugah (Catatan Tentang Krisis Global)

  1. Cakupan alur yang menarik disini adalah krisis pekerjaan & penghasilan yang berkurang menyebabkan orang yang tidak bekerja tidak berpenghasilan dan orang yang sudah bekerja akan berkurang penghasilannya shg mereka akan berhutang. Barangkali solusi yg diperlukan utk tdk terjebak dlm krisis penggangguran & hutang ini adalah hard work dan self reliance, jd orang yang belum bekerja ini harus hard work sendiri dan tidak mengandalkan pemerintah ataupun pinjaman bank untuk mendapatkan penghasilan.

  2. Tulisan dan analisis yg menarik. Perubahan memang sulit dielakkan. Orang2 seperti kita yg telah relatif akrab dengan teknologi informasi dan mengenal investasi mgkn bisa dan mudah menyesuaikan diri. Tapi kebanyakan orang masih berpikir dengan cara lama. Analisis ini masih perlu dilanjutkan dg alternatif solusi utk rakyat banyak, yg bisa dilakukan dan mudah dipahami 🙂

  3. ini memamng bahasan yang sangat menarik untuk di pecahkan , disaat ekonomi sangat melunjak terus ,teknologi memang salah satu penyebab adanya srisis ini. akan tetapi tak bisa di mungkiri juga kita tak bisa lepas dari itu semua karna berkembangnya teknologi seiring dengan berkembangnya pikiran dan kebutuhan kita .
    sehingga yang perlu kita perbuat hanualah membawa diri kita untuk bisa mengimbangi itu semua.sedangkan yang bisa kita lakukan untuk saudra kita yang memerlukn pekerjaan, semwua itu pasti ada jalan keluarnya. contoh: di dalam pabrik krupuk yang duluhnya masih memakai cra tradisional sehingga memerlukan banyak karyawan , akan tetapi tak bisa di alak kalau tenaga kerja di ganti dengan mesin .karyawan berhenti atau berkurang akan tetapi itu bisa diatasi dengan mengajarkan ke pada karyawan itu tentang teknologi itu sehingga mereka bisa mengikuti dan tidak kehilangan pekerjaan . tak hanya itu juga , pemasaran yang baik tentang produk itudan dari konsumen untuk lebih mencintai produk dlm negri bisa mengurangi beban krisis.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s