Gallery

Sebuah Pandangan Tentang Diversifikasi

Salah satu cara untuk mengurangi risiko investasi adalah dengan melakukan diversifikasi. Dengan melakukan diversifikasi, kita akan mengurangi risiko kerugian apabila salah satu atau lebih perusahaan yang kita miliki bangkrut atau mengalami masalah fundamental yang tidak terduga. Secara matematis, semakin banyak saham yang kita miliki, semakin kecil risiko portfolio kita akan jatuh nilainya.

Bayangkan Anda saat ini memiliki 4 saham yang katakanlah masing-masing berpotensi untuk memberikan imbal hasil 40%. Tiga dari empat saham yang Anda miliki ternyata memang benar memberikan imbal hasil seperti yang diharapkan sementara saham keempat memberikan imbal hasil hanya 5%. Secara total, imbal hasil portfolio Anda adalah 31,25%. Anda telah berhasil memperkecil risiko jika hanya memiliki satu jenis saham yang imbal hasilnya hanya 5% tersebut. Pada kasus ini, diversifikasi yang dilakukan telah berhasil menyelamatkan portfolio Anda.

Mari kita teruskan dongeng kita ini.

Jika seandainya ada salah satu saham yang ternyata imbal hasil jauh dinatas perkiraan, katakanlah 80% sementara ketiga saham yang lain memberikan imbal hasil sesuai dengan harapan, yaitu 40%. Portfolio Anda akan memberikan imbal hasil 50%, yang tentu saja lebih tinggi dari ekspektasi.

Pelajaran yang kita dapatkan adalah bahwa diversifikasi secara matematis memang benar akan mengurangi risiko. Di sisi lain, diversifikasi yang Anda lakukan akan mengurangi potensi imbal hasil apabila ada salah satu atau lebih saham yang performanya sangat bagus. Pada skenario kedua, Anda akan memperoleh imbal hasil 80% apabila hanya berinvestasi pada satu saham saja.

Contoh di atas tentu saja sangat sederhana karena hanya melibatkan empat jenis saham. Bagaimana seandainya Anda memiliki 10, 20, 30, atau bahkan 50 jenis saham? Anda akan mengurangi risiko tunggal akibat kejatuhan salah satu saham namun akan mengorbankan potensi keuntungan yang besar pada saham-saham yang kinerjanya cemerlang.

Di BEI kita mengenal indeks LQ-45 yang berisikan 45 saham unggulan. Apabila kita memiliki seluruh saham yang terdaftar di indeks LQ-45, hampir pasti imbal hasil portfolio kita akan serupa dengan kinerja LQ-45. Jika hanya memiliki 30 saham, mungkin kinerja portfolio kita akan sedikit berbeda dengan kinerja indeks LQ-45. Jika kita memiliki hanya 20 jenis saham, kemungkinan imbal hasil portfolio kita berbeda dengan indeks LQ-45 menjadi semakin besar. Bagaimana jika kita hanya memiliki 10 jenis saham, atau malahan mungkin hanya lima jenis? Kinerja portfolio kita akan jauh berbeda dengan kinerja indeks LQ-45 dan lebih bergantung pada kemampuan stock picking kita.

Sejauh apa kita harus mendiversifikasikan portfolio kita?

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, mari kita mereview ulang apa yang telah kita lakukan sebelum menyusun portfolio. Seorang investor akan menganalisis saham-saham yang menarik secara mendalam termasuk risiko-risiko yang mungkin . Dengan melakukannya berarti kita telah memahami risiko yang mungkin akan timbul. Akan sangat riskan apabila kita mengetahui sebuah perusahaan berpotensi bangkrut namun kita tetap memaksakan diri membeli sahamnya. Jika kita mengabaikan risiko tersebut dan berharap saham tersebut akan berkinerja bagus, artinya investasi kita telah mengarah ke spekulasi. Proses investasi dengan tingkat spekulasi yang tinggi akan lebih susah ditebak hasilnya. Saya pribadi akan berusaha menghindari gaya investasi seperti itu. Sebuah proses investasi yang dilakukan secara detil dan mendalam kemungkinan besar akan memberikan hasil yang setimpal. Tentu saja saya tidak akan mengesampingkan adanya faktor kebodohan atau ‘bad luck’. Ada kemungkinan saya salah dalam menilai harga wajarnya ataupun gagal mengantisipasi risiko yang mungkin terjadi. Oleh karenanya, saya akan memberikan margin of safety untuk mengantisipasi kebodohan ataupun ‘bad luck’ tersebut.

Jadi, jika proses pemilihan saham telah dilakukan dengan benar dan telah ada penambahan margin of safety, sebenarnya kita telah mengurangi risiko secara signifikan. Pada kondisi tersebut, kita harus lebih kritis dalam menafsirkan makna diversifikasi. Lakukanlah diversifikasi secukupnya. Akan lebih bagus lagi apabila kesemua saham yang kita miliki memang memiliki,prospek yang bagus. Dengan demikian kita tidak akan mengalami kesulitan dalam melakukan diversifikasi. Agak konyol menurut saya apabila kita melakukan diversifikasi semata-mata hanya untuk menyebar risiko sementara kita tahu bahwa ada saham-saham yang masuk ke dalam portfolio kita yang tidak menjanjikan imbal hasil yang memuaskan.

Keadaan memang akan berbeda apabila kita melihat dari sudut pandang seorang fund manager reksa dana misalnya. Mereka mengelola dana yang sangat besar jumlahnya namun dibatasi oleh berbagai macam aturan. Sebagai contoh, seorang manajer investasi hanya diperbolehkan memiliki maksimum 5% dari dari dana yang dikelola untuk satu jenis saham. Tidaklah mungkin bagi mereka untuk memiliki hanya 5 atau 10 jenis saham saja. Selain itu, apabila suatu reksa dana dalam prospektusnya hanya diperbolehkan memiliki saham-saham yang tergabung dalam indeks LQ-45, reksa dana tersebut akan melewatkan kesempatan untuk memiliki saham-saham prospektif yang tidak masuk ke dalam indeks LQ-45. Di sini lah keuntungan kita sebagai investor individual. Tidak ada aturan yang melarang kita untuk mengalokasikan 40% dana kita untuk satu saham saja. Kita pun bebas untuk memilih saham apa saja, bahkan yang kapitalisasi pasarnya sangat kecil sekalipun. Kita memiliki kemewahan-kemewahan yang tidak dimiliki oleh para manajer investasi tersebut.

Kesimpulannya, pertimbangkan masak-masak sebelum melakukan diversifikasi. Pastikan bahwa diversifikasi yang kita lakukan memang diperlukan dan bukan semata-mata hanya untuk menyebar risiko. Manfaatkan keunggulan kita sebagai investor individual yang memiliki kebebasan tak terbatas dalam memilih saham.

3 thoughts on “Sebuah Pandangan Tentang Diversifikasi

  1. Hmm.. tidak dijelaskan di sini ya definisi resiko.. sebenernya penting lho itu bwt pembahasan selanjutnya.. yg dimaksud di sini resiko sistematik ato tdk sistematik.. kemudian definisi operasionalnya di sini apa..

    mungkin saya salah.. tp yg saya tangkap di sini resiko yg dimaksud hanyalah resiko tdk sistematik.. khususnya jika saham yg kita punyai nilainya berkurang. padahal bisa juga resiko itu termasuk ‘underperformed’. percuma porto +20% jika benchmark (IHSG, LQ45 atau S&P500 ) +50% misalnya.

    kemarin baca2 tentang Modern portfolio theory / Markowitz theory.. tentang diversifikasi itu.. jd temanya msh sama dgn yg ini. mungkin suatu saat bisa dibahas dengan gaya bahasa sederhana supaya banyak yang lebih ngerti..

    salam cuan :malus

    disclaimer on.. tdk punya barang :malus

  2. @KornelWicaksono
    Ya, yang saya maksud adalah risiko individual saham, namun tidak terbatas pada variasi dari imbal hasilnya. Risiko yang saya maksud juga mencakup risiko kehilangan seluruh modal kita apabila perusahaan bermasalah atau bangkrut.

    Modern portfolio theory adalah teori yang cukup kontroversial. Di mana kontroversialnya? Silakan cari2 di web🙂

  3. Salam Kenal pak Parahita, saya setuju dengan pentingnya memahami diversifikasi.
    Diversifikasi layaknya pedang bermata dua. Over diversifikasi akan membuat kita tidak dapat konsentrasi mempelajari/memahami secara mendalam & mengikuti perkembangan tindakan manajemen pada emiten yang ada di portfolio kita. Sedangkan non diversifikasi secara ekstrem (hanya memiliki saham 1 emiten dan bertaruh besar2an) juga beresiko.
    Walaupun sudah kita usahakan mengurangi resiko melalui margin of safety, menganalisa kemungkinan2 terburuk yang dapat terjadi pada emiten tsb, menurut saya masih ada resiko lain yang mungkin kita lewatkan dan tidak dapat kita kontrol (black swan).

    Nah pertanyaannya? berapa idealnya jumlah emiten yang tepat agar tidak over diversifikasi namun juga tidak ekstrem fokus? Mungkin jawabannya akan berbeda pada masing2 investor, mungkin tergantung dari faktor2 seperti : kondisi psikologis finansial, waktu & kemampuan yang dimiliki investor untuk menganalisa, memahami dan mengingat suatu emiten. Saya sendiri merasa lebih dari 10 emiten cukup membuat saya “mumet”, sedangkan penempatan dana lebih dari 50% total portfolio jg sudah membuat saya “deg2an”.

    Konsep diversifikasi ini seharusnya sungguh2 dipahami oleh seluruh investor, terutama calon investor yang akan terjun ke dunia pasar modal. Jangan menelan “mentah2” slogan investasi : “jangan masukkan seluruh telur ke dalam 1 keranjang”. mungkin slogan itu tidak salah, namun belum lengkap. karena jika kita memasukkan 100 telur ke dalam 100 keranjang, bagaimana cara membawa dan menjaganya dengan hanya memiliki dua tangan?🙂.

    Saya jg setuju dengan pandangan pak Parahita mengenai keunggulan kita(investor ritel) dibanding dengan manajer investasi. jika sangat yakin dengan prospeknya (90%) kita bebas untuk mengalokasikan persentase dana kita terhadap emiten tersebut. beda dengan reksadana yang diregulasi.

    NB : Saya request pembahasan mengenai metode pengukuran kinerja portfolio donk.🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s