Gallery

Pelajaran Berharga dari Yunani

Artikel  di New York Times yang berjudul The Way Greeks Live Now membuat saya tercenung. Artikel tersebut bercerita tentang betapa hebatnya dampak dari krisis ekonomi yang melanda Yunani terhadap kehidupan warganya saat ini. Tercatat sejak tahun 2009, seperempat perusahaan di Yunani gulung tikar. Sementara itu, separuh UKM di sana mengatakan bahwa mereka sudah tidak mampu lagi membayar karyawannya. Yang lebih mengerikan lagi, hampir separuh dari warga yang berusia di bawah 25 tahun adalah pengangguran.

Saya jadi teringat pada artikel saya yang lalu tentang krisis Yunani ini. Pada artikel tersebut saya menyinggung tentang bagaimana krisis Yunani terjadi dan kemungkinan dampaknya terhadap perekonomiannya. Artikel yang saya tulis pada pertengahan tahun 2010 tersebut telah mendapatkan jawabannya saat ini.

Beratnya hidup warga Yunani saat ini merupakan akibat dari utang pemerintah yang terlalu berlebihan. Manakala pemerintah sudah tidak mampu lagi mendapatkan dana dari utang, ekonomi Yunani langsung terpangkas. Daya beli warganya menurun tajam dan membuat banyak sekali perusahaan gulung tikar. Akibatnya dapat ditebak. Pengangguran mulai merajalela di mana-mana. Seandainya pun perusahaan tidak melakukan layoff, ada kecenderungan mereka akan memotong gaji karyawannya agar tetap bisa bertahan.

Agar dapat mempertahankan standar hidupnya atau bahkan untuk hanya sekedar bertahan hidup, rakyat Yunani mulai menguras tabungannya di bank. Hal ini adalah tanda-tanda yang tidak bagus. Mungkin untuk sementara tabungan mereka  akan dapat memberikan penghidupan. Tapi sampai kapan? Apa yang terjadi ketika tabungan mereka habis?

Pada artikel yang saya baca tersebut, warga Yunani mulai berbondong-bondong mencari pekerjaan di luar negeri. Yang tidak mempunyai keahlian cukup, kembali hidup di desa dan bercocok tanam.

Kita bisa melihat bahwa inti permasalahannya adalah penggunaan utang untuk menunjang gaya hidup.

Sekarang apa yang kita lihat di negara kita ini. Saat ini memang utang pemerintah bisa dibilang cukup terkontrol karena jumlahnya masih sekitar 30% dari GDP. Yang saya khawatirkan adalah perilaku kita sendiri. Saat ini saya melihat betapa mudahnya orang mengambil kredit untuk membeli barang-barang konsumsi. Yang lebih parah lagi mungkin barang tersebut tidak terlalu dibutuhkan. Saya masih ingat ketika pertama kali muncul fasilitas kredit handphone. Waktu itu saya agak terheran-heran. Jika untuk membeli handpone saja mencicil, bagaimana dengan barang-barang lainnya yang lebih mahal? Berkaitan dengan kredit juga, kita bisa melihat bagaimana mudahnya membeli sepeda motor. Dengan DP yang sangat kecil, motor sudah di tangan. Bagi saya hal ini cukup mengkhawatirkan. Saya percaya bahwa orang Indonesia mampu untuk memenuhi kebutuhannya. Yang harus menjadi perhatian adalah bahwa seringkali tanpa sadar cicilan-cicilan kecil itu apabila dikumpulkan akan menjadi besar juga. Adanya kredit tanpa sadar perlahan-lahan akan membuat kita menetapkan standar hidup di atas kemampuan sebenarnya. Jangan sampai kita melewatkan pelajaran berharga dari Yunani tersebut.

Hal menarik lainnya yang bisa saya dapatkan dari krisis Yunani ini adalah bahwa mau tak mau kita harus menyingsingkan lengan dan fokus pada hal-hal yang nyata. Saya jadi teringat pada artikel di koran Kompas pagi ini tentang para wirausahawan muda. Sungguh luar biasa anak-anak semuda itu telah mampu membangun bisnis dan berjalan dengan sukses. Seperti yang dikatakan oleh Stiglitz, akar masalah dari krisis global dan krisis-krisis lainnya yang melanda dunia saat ini adalah kurangnya lapangan pekerjaan. Dengan ekonomi yang semakin efisien, semakin sedikit tenaga kerja yang dibutuhkan untuk memproduksi suatu barang. Lantas mau dikemanakan para pekerja tersebut?

Salah satu jawabannya ya itu tadi. Jumlah wiraswasta harus terus bertambah untuk mengatasi minimnya jumlah lapangan pekerjaan yang tersedia. Di Yunani, sudah mulai ada tren untuk memenuhi kebutuhan diri sendiri tanpa tergantung oleh orang lain. Hal itulah yang sebenarnya menjadi kunci jawabannya. Seberapa besar sih kemampuan pemerintah untuk menciptakan lapangan kerja? Oleh karena itu, saya salut pada para wirausahawan muda tersebut yang berhasil menciptakan lapangan pekerjaan bagi orang lain.

2 thoughts on “Pelajaran Berharga dari Yunani

  1. hutang pemerintah rasionya 25%-an. tapi itu ilusi, soalnya mereka mau ngutang lagi sekitar 133 triliun untuk menutupi APBN. dan kita semua tahu sebagian besar hutang2 itu akan dikorupsi,

  2. menarik sekali ulasan nya Pak.

    Dalam agama Islam, sebagian besar ulama tidak menganjurkan berhutang, kecuali untuk memenuhi kebutuhan pokok dalam keadaan terdesak. Karena hutang adalah instrumen yang rentan manipulasi, dalam hal ini riba, dan mematikan “kontrol” emosi dan rasa kecukupan.

    Ketika manusia merasa “mampu” memiliki berbagai macam benda didunia, saat itu pula ia sedang mematikan/menumpulkan filter/sensor atas kelayakan dan kemampuan diri. Ketika filter itu mati total, maka tiada lagi penahan laju nafsu, dan ketika nafsu tersebut diakomodir oleh instrumen2 pendukung (semisal kebijakan financing yang mudah dan murah) maka bersiaplah untuk menunggu “jebol”-nya waduk penghidupan dan terkena banjir kebangkrutan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s