Gallery

1602: Sebuah Nostalgia VOC dengan Bangsa Indonesia

Pada tahun 1592, konsorsium yang terdiri atas 9 pedagang Belanda mengirimkan dua bersaudara, Cornelis dan Frederick de Houtman ke Lisabon, Portugal untuk mencuri peta yang menunjukkan jalan ke Spice Islands yang tak lain adalah Indonesia. Mereka pun dihukum penjara selama 3 tahun karena mencuri peta tersebut. Selepas dari penjara, Cornelis de Houtman pun mendapatkan pendanaan untuk melakukan ekspedisi pencarian Spice Islands berdasarkan peta yang berhasil dicuri. Dengan bermodalkan 300.000 guilder, ekspedisi pun dimulai. Ekspedisi itu pun tidak sia-sia.

Bagi kita, nama Cornelis de Houtman sudah tidak asing lagi. Kita telah mengenalnya karena namanya selalu disebutkan di dalam buku sejarah Indonesia sebagai pemimpin pertama kedatangan Belanda ke Indonesia.  Pada kenyataannya, perilakunya yang kasar akhirnya menyebabkan masalah di mana-mana, antara lain Banten, Madura, Bali, dan Aceh. Di tempat terakhir itu ia terbunuh oleh Laksamana Malahayati dan sekaligus menghentikan perjalanan ekspedisi tersebut.

Ekspedisi pencarian rempah-rempah tidak berhenti sampai di situ. Tergiur oleh potensi keuntungan yang akan didapatkan, para pedagang beramai-ramai mendatangi nusantara. Walaupun begitu, pada pelayaran-pelayaran awal,  perdagangan rempah-rempah tidak memberikan keuntungan yang memadai. Banyak sekali pihak yang bersaing untuk mendapatkan rempah-rempah sehingga harga di Spice Islands meroket sementara harga di Eropa jatuh karena banyaknya suplai.

Menyadari hal tersebut, para pedagang pun mulai berpikir untuk berdagang bersama di bawah satu bendera. Dengan didukung penuh oleh pemerintah Belanda, pada tanggal 20 Maret 1602 berdirilah VOC (Vereenigde Oost-Indische Compagnie) yang juga dikenal dengan nama Dutch East India Company. Walaupun terlahir setelah berdirinya East India Company, VOC mengukirkan sejarah sebagai maskapai dagang pertama yang menerbitkan saham yang diperdagangkan di bursa. Yang menarik, pemegang saham VOC tidak terbatas pada kalangan tertentu. Bisa dikatakan hampir semua golongan masyarakat memilikinya, termasuk buruh dan pembantu rumah tangga.  Para investor VOC akan mendapatkan dividen ketika keuntungan mulai mengalir. Mulai dari awal berdirinya sampai dengan tahun 1796, VOC telah mempekerjakan sekitar 1 juta orang, mengirimkan 4.785 kapal, dan memperdagangkan lebih dari 2,5 juta ton barang. Sebagai perbandingan, maskapai dagang Inggris, East India Company yang menjadi pesaingnya hanya memiliki 2.690 kapal dengan jumlah barang dagangan hanya seperlima dari VOC. Dapat dikatakan pada kurun waktu tersebut, VOC memonopoli perdagangan rempah-rempah dunia.

Sebagai gambaran keberhasilan VOC, pada tahun 1699, investornya memperoleh dividen reguler sebesar 40% dari modal awal yang mereka tanamkan. Sayangnya, korupsi yang parah akhirnya menenggelamkan VOC.  Net profit margin yang pada masa awal kejayaannya sekitar 18% terus turun dari waktu ke waktu menjadi 10%, 6%, dan terakhir 3,4%.

Sebenarnya tidak terbayangkan oleh saya bahwa VOC, yang kita sebut penjajah Belanda merupakan salah satu perusahaan terbesar pada zamannya. Pada masa itu, perjalanan ke Indonesia ditempuh dalam waktu 1 tahun. Saya merasa geli sendiri. Negara-negara yang jauh di seberang lautan berjuang mati-matian untuk datang ke negeri kita karena telah diakui sebagai negeri  yang makmur sementara kita sendiri mungkin tidak terlalu menyadarinya dan berpikiran sebaliknya.

4 thoughts on “1602: Sebuah Nostalgia VOC dengan Bangsa Indonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s