Gallery

Bagaimana Faktanya? (Bag. 4): Price to Sales Ratio (PSR)

Jika berbicara tentang Price to Sales ratio (PSR), kita tidak bisa melupakan peranan Kenneth L. Fisher yang mempopulerkan rasio ini.  Kenneth L. Fisher adalah anak dari Philip Fisher, seorang investor legendaris yang menjadi salah satu mentor Warren Buffett. Selama ini rasio yang paling banyak dikenal oleh investor adalah PER yang nilainya lebih mudah kita dapatkan dari berbagai sumber. Mengapa Ken Fisher menggunakan PSR sebagai acuan valuasinya? Argumen mendasar atas penggunaan PSR adalah karena sales/revenue relatif lebih stabil dan tidak banyak dipengaruhi oleh kebijakan akuntansi yang digunakan oleh perusahaan.

Keunggulan lain dari PSR adalah kemampuannya untuk memberikan nilai yang selalu positif. Ketika ekonomi sedang terguncang, besar kemungkinan perusahaan merugi. Pada kondisi tersebut, PSR dapat membantu kita untuk menganalisis perusahaan seperti itu.

Ken Fisher mengatakan bahwa ia sangat menyukai saham-saham dengan PSR < 0,75 karena menurut pengamatannya, saham-saham tersebut berpotensi memberikan imbal hasil yang memuaskan di masa mendatang. Ken Fisher mengungkapkan pula bahwa nilai PSR tertinggi yang dapat ditoleransi adalah 1,5.

Apakah pendapat Ken Fisher tentang PSR berlaku pada emiten-emiten di BEI? Mari kita periksa.

 

Sumber: http://www.ft.com & http://www.reuters.com, diolah

Satu kata dari saya tentang pernyataan Ken Fisher: Amazing!!! Terlihat bahwa saham-saham dengan PSR < 1,5 memberikan imbal hasil yang tinggi. Di masa ekspansi, saham-saham dengan PSR < 0,25 harganya rata-rata naik 47% dalam setahun ke depan. Terlihat pula saham-saham dengan PSR < 1,5 memberikan imbal hasil yang tinggi. Anomali terjadi untuk saham-saham dengan 5 <= PSR < 10 yang memberikan imbal hasil rata-rata 39,34%. Walaupun imbal hasilnya tinggi, saya tidak berani untuk menyentuh saham-saham dalam kategori tersebut karena ada kemungkinan tingkat spekulasinya cukup tinggi.

Di masa krisis, apa yang diungkapkan oleh Ken Fisher terlihat lebih jelas. Tingginya imbal hasil yang diberikan oleh saham-saham dengan PSR < 1,5 terlihat mencolok dibandingkan dengan saham-saham lainnya.

Berdasarkan hasil pengamatan, terlihat bahwa nilai PSR yang rendah dapat memberikan clue bagi kita dalam melakukan pemilihan saham.

Tantangan berikutnya bagi kita adalah: bagaimana mengkombinasikan hasil pengamatan terhadap rasio-rasio yang telah dibahas pada artikel bagian 1 – 4 sehingga dapat meningkatkan kemampuan stock-picking di BEI? Tunggu artikel selanjutnya🙂

Disclaimer is on.

Street Investing: “Because everyone can do fundamental analysis…”

5 thoughts on “Bagaimana Faktanya? (Bag. 4): Price to Sales Ratio (PSR)

  1. Luar biasa pak, baru denger ratio yang satu ini, artikel selanjutnya kalau bisa dengan contoh konkret suatu emiten ya, jadi langsung praktek🙂 Thanks again pak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s