Belajar dari Lo Kheng Hong

Sepertinya sudah banyak sekali artikel yang membahas tentang investor yang satu ini. Kisah keberhasilan investasinya memang fenomenal. Saya masih ingat ketika membaca sebuah artikel tentang Lo Kheng Hong di sebuah majalah sekitar 5 tahun yang lalu. Ketika itu ia bercerita bagaimana ketika menjual harta bendanya untuk membeli saham UNTR. Sepertinya, saham itulah yang menjadi titik tolak keberhasilan investasinya sehingga disebut-sebut sebagai Warren Buffett-nya Indonesia.

Walaupun ada kontroversi tentang keberhasilannya tersebut, banyak hal yang bisa dipelajari dari Lo Kheng Hong. Dari beberapa wawancara dengan Beliau di koran dan majalah, saya mendapatkan beberapa kesimpulan tentang strategi pemilihan sahamnya.

Yang pertama adalah penilaian manajemen. Saya mendapatkan kesan bahwa bagi Lo Kheng Hong, kualitas manajemen beserta GCG (Good Corporate Governance) menjadi faktor terpenting dalam pemilihan saham. Hal tersebut cukup masuk akal. Namun seingat saya dalam hal ini, Beliau berbeda dengan Warren Buffett. Warren Buffett lebih memilih memilih bisnis yang kasarnya, dengan metode autopilot pun bisa berjalan dengan lancar. Walaupun begitu, dalam hal ini Lo Kheng Hong lebih menekankan pada kejujuran manajemen dan bukan kualitasnya.

Langkah kedua dari Lo Kheng Hong adalah memilih sektor usaha. Ia akan mencari sektor-sektor yang menarik dan potensial.

Berkaitan dengan langkah kedua, langkah selanjutnya adalah mencari bisnis yang tumbuh dengan mantap. Menurut Lo Kheng Hong, ia akan mencari perusahaan yang tumbuh dengan konsisten apalagi  jika sebuah labanya naik terus selama 5 tahun.

Langkah terakhir adalah valuasi. Lo Kheng Hong menggunakan PER sebagai patokan untuk melakukan valuasi. Dia akan mencari saham-saham dengan PER kurang dari 5. Sepertinya agak ekstrim memang karena perusahaan yang bagus dan dijual semurah itu cukup jarang. Oleh karena itulah Lo Kheng Hong mengatakan bahwa crash di market merupakan peluang emas karena akan banyak saham bagus yang dijual murah.

Hal menarik lainnya yang saya tangkap adalah kita harus punya daftar saham-saham yang menarik walaupun saat ini harganya sedang mahal. Apa gunanya? Ketika pasar sedang jatuh, kita akan langsung mengetahui saham-saham mana yang harus dibeli.

Jika kita perhatikan, strategi yang digunakan oleh Lo Kheng Hong dalam memilih saham sebenarnya cukup umum. Jika Anda membaca buku-buku tentang investasi sepertinya anjurannya ya sebagian besar seperti itu. Lalu mengapa Lo Kheng Hong bisa berhasil? Sepertinya jawabannya adalah konsistensi dan kesabaran. Berdasarkan pengalaman selama ini, saya jarang menemui orang yang mampu memegang saham selama bertahun-tahun walaupun mengetahui bahwa saham yang dimilikinya berkinerja bagus. Godaan terbesar investor adalah tetap memegang suatu saham yang harganya tidak ke mana-mana sementara saham-saham lain mulai melesat. Perasaan sebagai looser ini akan berpotensi memicu kita untuk menjual saham yang kita miliki dengan saham yang sedang naik harganya tersebut. Saya sendiri pun terkadang mengalami hal tersebut. Oleh karena itu lah saya cukup kagum dengan Lo Kheng Hong atas kesabarannya ketika memegang suatu saham, sebuah kemampuan yang dipengaruhi oleh banyaknya jam terbang. Oleh karena itulah bagi saya tidak ada salahnya untuk mengikuti apa yang dilakukannya walaupun tentu saja tidak dengan mentah-mentah. Setiap orang memiliki profil risiko dan horison investasi yang berbeda-beda. Hal tersebut akan menjadi bahan pertimbangan dalam berinvestasi saham.

Hal terpenting yang saya pelajari adalah bahwa sebelum terjun menghitung angka-angka di dalam laporan keuangan, terlebih dahulu kita harus memahami bisnisnya dan prospeknya di masa mendatang. Tanpa melalui proses tersebut, perhitungan kita tidak akan mengenai sasaran.

9 thoughts on “Belajar dari Lo Kheng Hong

  1. Pak parahita..

    Bagaimankah cara menilai suatu perusahaan ini GCG atau tidak.
    Saya banyak mendengar bahwa perhatikan manajmnnya, apabila sering mencuri uang perusahaan = tinggalkan.

    Tapi pada praktiknya
    Bagaimana mengetahuinya ya pak?

    Thx’s

  2. pak parahita, maaf sebelum nya, dalam meng analisis saya selalu kepentok masalah data..
    apakah pak parahita punya suatu spreadsheet yang bisa meng-load data dari suatu sumber,

    karena menurut saya dengan load data yang kita bisa modifikasi, analysis kita akan beragam dan variatif, kalo yang pro saya pernah dengar bloomberg terminal, tapi untuk versi excell apakah bapak punya, maaf sebelum nya, bila ada biaya yang perlu di keluarkan saya bersedia mengganti nya

    Terima Kasih

  3. Luar biasa sekali sharingnya🙂 Sama, penyakitku sama pa, perasaan looser seringkali menyerang tatkala sy sedang mengakumulasi sebuah saham, dongkol dan ingin untuk segera menjualnya…
    Smoga artikel ini membawa perubahan terhadap style investasi sy. Trimakasih

  4. @sriyanto
    Saya ada sih, cuma harus saya cari dulu🙂

    @Teddy Supriyadi
    Amiin. Memang jadi investor itu harus sabar🙂

    @donny
    Sama2🙂

  5. Yang benar, saldo (efek dan dana) tidak boleh kosong dan tidak ada transaksi dalam 6 bulan.
    Jika saldo kosong dan tidak ada transaksi selama 6 bulan akan menjadi dormant account.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s