Gallery

ACES: The Hardware King (Bag. 1)

Yang terlintas pertama kali di kepala saya ketika mendengar Ace Hardware adalah sebuah gerai yang menjual berbagai macam perkakas dan peralatan rumah tangga. Seperti yang dinyatakan sendiri oleh mereka, Ace Hardware (kode BEI: ACES) adalah peritel untuk produk home improvement dan gaya hidup.  Walaupun mereka memiliki beberapa kompetitor namun tampaknya merekalah market leader di bisnis ini. Kekuatan Ace Hardware ini tidak terlepas dari dukungan dari PT Kawan Lama Sejahtera sebagai pemegang saham mayoritas (59,97%) yang telah dikenal sebagai pemain lama untuk penyedia perkakas dan alat-alat rumah tangga. Pada tahun 2010, Ace Hardware membuka Toys Kingdom yang merupakan ritel mainan yang menyasar segmen anak-anak, remaja, dan dewasa. Namun sepertinya karena masih baru, segmen usaha mainan ini belum mampu untuk menyumbang penjualan bagi  Ace Hardware secara signifikan seperti terlihat pada tabel berikut:

Sumber: Laporan Tahunan ACES 2010, diolah

Segmen mainan hanya menyumbang 0,51% pendapatan total ACES. Penyumbang utama penjualan ACES adalah produk-produk perbaikan rumah (home improvement) (64,14%) sementara produk gaya hidup (life style) memberikan kontribusi 35,35% terhadap penjualan total.

Hal menarik yang saya temui di laporan keuangan ACES adalah besarnya persentase opex/ SGA expense (selling, general & administration expense) terhadap laba kotor yaitu 69%. Seperti yang diketahui laba operasi merupakan laba kotor setelah dikurangi opex. Dengan demikian tingginya opex akan membuat tergerusnya laba usaha dan laba bersih. Dari LK ACES terlihat bahwa komponen gaji karyawan menempati urutan teratas yang menyumbang 39,4% opex. Urutan kedua ditempati oleh biaya sewa yang menyumbang 14,8% opex.

Apa kesimpulannya?

Seperti umumnya bisnis retail, karyawan memegang peranan sangat penting karena mereka akan langsung berhubungan dengan pelanggan. Gaji karyawan yang terlalu rendah akan menurunkan motivasi kerja dan pada akhirnya berakibat buruk bagi layanan mereka. Sebaliknya, gaji yang terlalu tinggi akan membuat laba kotor tergerus sehingga kinerja perusahaan akan menurun. Di sinilah letak peranan manajemen untuk mengelolanya sehingga komponen gaji karyawan persentasenya optimal.

Ok, mari kita menyelami kondisi operasionalnya lebih mendalam dengan memperhatikan tabel berikut:

Sumber: Laporan Tahunan ACES 2010

SSG (Same Store Growth) ACES sempat mengalami penurunan -1,7% pada tahun 2009 karena krisis global dan kembali positif di tahun 2010 (+5,6%). SSG yang positif sangat penting untuk mengetahui apakah meningkatnya penjualan hanya disebabkan oleh penambahan jumlah gerai atau tidak.  Yang jelas, store area ACES terus meningkat dari tahun ke tahun, sebanding dengan bertambahnya jumlah gerainya. Nilai SSG yang positif dan pertumbuhan store area serta jumlah gerai merupakan kombinasi yang bagus untuk menopang pertumbuhan ACES. Hal ini terlihat pada net profit yang terus meningkat dari tahun ke tahun seperti terlihat pada chart di bagian kanan bawah. Untuk kontrol saya menyertakan chart operating cash flow. Terlihat bahwa net profit naik beriringan dengan operating cash flow sehingga dapat dikatakan kinerja ACES cukup bagus.

Secara operasional dapat dikatakan bahwa ACES cukup mengesankan. Di samping itu, pertumbuhan ekonomi Indonesia yang cukup tinggi membuat penjualan perusahaan-perusahaan retail secara umum meningkat. Pada bagian kedua kita akan berdiskusi tentang kinerja keuangan dan valuasi ACES.

Bagian kedua dapat dibaca di sini:

ACES: The Hardware King (Bag. 2)

6 thoughts on “ACES: The Hardware King (Bag. 1)

  1. ” Hal menarik yang saya temui di laporan keuangan ACES adalah besarnya persentase opex/ SGA expense (selling, general & administration expense) terhadap laba kotor yaitu 69% “. Ini mksdnya SGA dibagi sama Operating income ?

  2. thanks Pak parahita….kemaren saya baru saja download LK Aces. Karena saya tertarik dgn growth revenuenya…. ditunggu tulisan ACES bagian keduanya…sebagai perbandingan dan pembelajaran evaluasi saham yg saya lakukan dgn master dunkz.

  3. @bram & aneka
    yg dimaksud adalah perbandingan opex (beban usaha) terhadap laba kotor. Kalau opex terlalu besar, maka agak susah mengharapkan laba bersih akan tumbuh dengan stabil karena perubahan sedikit saja pada revenue akan menggoyangnya.

  4. Pingback: ACES: The Hardware King (Bag. 2) | Pojok Ide Investasi

  5. Pingback: ACES: The Hardware King (Bag. 3) – Valuasi | Pojok Ide Investasi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s