Gallery

Liquidity dan Solvency

Sumber: http://www.cliffkule.com

Saat ini, problem utama yang mengancam jalannya perekonomian di dunia adalah kredit. Kita telah melihat bagaimana krisis kredit perumahan yang melanda AS pada tahun 2008 telah membuat seluruh dunia ikut demam. Bursa saham di seluruh dunia berguguran dan membuat banyak orang stres. Tanpa ampun, surat-surat utang ikut berguguran dan dengan segera likuiditas menciut. Buntutnya adalah munculnya QE (Quantitative Easing) untuk menyerap aset-aset yang membusuk tersebut dan membayarnya dengan uang yang dihasilkan dari ketiadaan. Hasilnya, USD ambrol dan harga emas membubung tinggi. Ilustrasi mengenai QE ini dapat dilihat di sini.

Berkaitan dengan kredit, kita melihat bagaimana negara-negara di Eropa seperti Yunani dan Irlandia berjuang untuk lepas dari tekanan utang. Pemerintahnya memberikan kesejahteraan pada rakyatnya dengan dibiayai oleh utang. Besar pasak daripada tiang. Apa yang mereka konsumsi jauh lebih besar daripada yang mereka hasilkan. Tahun 2011 ini, kita melihat bagaimana AS juga mengalami permasalahan yang serupa walaupun tidak seekstrim kedua negara tersebut. Hanya saja, jumlah nominal utang AS memang sangat besar dan membuat banyak pihak menjadi khawatir.

Dari dalam negeri, kita telah melihat bagaimana negara kita pada tahun 1997 diguncang hebat oleh krisis moneter karena membengkaknya utang swasta akibat pelemahan rupiah. Kejadian tersebut tidak akan dengan mudah terhapus dari ingatan kita.

Berkaca dari kejadian-kejadian tersebut, saat kita berinvestasi saham, liquidity dan solvency perusahaan menjadi hal yang sangat penting. Liquidity adalah ketersediaan cash untuk membayar kewajiban-kewajiban jangka pendek sementara solvency adalah kemampuan perusahaan untuk melunasi kewajiban-kewajiban jangka panjangnya. Umumnya, rasio yang digunakan untuk memantau liquidity adalah current ratio (current assets / current liabilities) sementara untuk mengukur solvency yang digunakan adalah rasio debt to equity (DER).

Liquidity

Untuk kepentingan operasionalnya, perusahaan membutuhkan modal kerja. Yang disebut modal kerja adalah selisih antara current asset dengan current liabilities. Perusahaan akan mengambil produk yang akan dijualnya. Terkadang perusahaan membayar secara tunai namun bisa juga pembayarannya ditunda. Penundaan pembayaran ke supplier ini akan masuk ke dalam akun utang usaha (account payable) pada neraca. Hal yang serupa akan terjadi ketika perusahaan melakukan penjualan. Perusahaan bisa saja menerima uang tunai ataupun penundaan pembayaran dari pelanggan. Piutang ini akan masuk ke dalam akun piutang dagang (account receivable). Jika perusahaan dapat mengelola modal kerja dengan baik, maka aktivitas operasionalnya tidak akan terganggu. Mengapa likuiditas ini sangat penting? Walaupun perusahaan memiliki potensi bisnis yang bagus, pengelolaan modal kerja yang buruk akan menyebabkannya tidak bisa memanfaatkan potensi tersebut secara maksimal karena aktivitas operasionalnya terganggu.

Untuk mengukur tingkat likuiditas perusahaan, rasio yang umum untuk digunakan adalah current ratio yang dapat diperoleh secara mudah dengan membagi current asset dengan current liabilities. Secara umum, suatu perusahaan dikatakan cukup likuid apabila memiliki current ratio minimal 1. Walaupun begitu, kita dapat memberikan pengecualian terhadap perusahaan utilitas dengan memberikan toleransi current ratio di bawah 1. Mengapa? Umumnya perusahaan utilitas memiliki earning power yang tinggi. Mereka akan dengan mudah melunasi kewajiban-kewajiban jangka pendeknya dengan mengandalkan pendapatan bulan depan. Hal yang berbeda dialami oleh perusahaan produsen alat berat. Tidaka ada kepastian bahwa bulan depan akan ada pendapatan sehingga current ratio di bawah 1 akan menjadi sinyal peringatan.

Walaupun cukup umum digunakan, current ratio memiliki kelemahan. Kita mengasumsikan bahwa seluruh akun di dalam current assets dapat dipergunakan untuk melunasi kewajiban jangka pendek. Di dalam current assets terhadap item inventory yang tidak akan menjadi masalah apabila dapat dijual dengan cepat dan tidak memiliki masa kadaluarsa. Masalahnya akan berbeda apabila suatau perusahaan bergerak di bidang penjualan retail barang elektronik. Agar inventory dapat dicairkan dengan cepat, mereka mungkin harus memberikan diskon yang cukup besar dan hal tersebut akan membuat nilai current ratio yang kita hitung menjadi bias. Untuk mengatasi permasalahan ini, kita bisa menghilangkan komponen inventory dalam analisis likuiditas dan menghitung quick ratio atau biasa disebut juga dengan acid test.

Kita bisa mengatakan bahwa perusahaan dengan current ratio > 1 cukup likuid namun tetap harus waspada apabila nilai current ratio tersebut terlalu tinggi karena menandakan suatu perusahaan memiliki dana yang tidak terpakai.  Jika memang perusahaan memiliki cash yang melimpah apabila tidak ada project yang memerlukan tambahan pendaanaan, ada baiknya cash tersebut dikembalikan kepada investor dalam bentuk dividen atau bisa juga dipergunakan untuk melakukan stock buyback.

Solvency

Jika pada bagian sebelumnya kita membahas mengenai liquidity, pada bagian ini kita akan membahas mengenai solvency. Berbeda dengan liquidity, solvency merupakan kemampuan perusahaan untuk melunasi kewajiban-kewajiban jangka panjangnya. Rasio yang umum digunakan adalah debt to equity ratio (DER). Dengan rasio tersebut, kita dapat menilai apakah struktur permodalan perusahaan cukup kuat. DER yang tinggi menandakan bahwa bisnisnya dibiayai dengan utang yang cukup besar. Pada kondisi normal, perusahaan bisa melakukan roll-over terhadap utangnya.  Utang lama dilunasi dengan membuat utang baru dan demikian seterusnya. Permasalahan akan mulai timbul ketika kredit menjadi seret. Perusahaan akan mengalami kesulitan untuk melakukan roll-over utangnya. Jika pun bisa, biasanya bunganya sangat mahal. Risiko ini akan cukup kecil apabila DER perusahaan tidak terlalu tinggi. Saya biasanya mencari perusahaan dengan DER tidak lebih dari satu.

Apa yang terjadi belakangan ini pada perekonomian dunia terkait erat dengan utang.  Ada kemungkinan likuiditas kredit akan menciut dan tentu saja berdampak pada kelangsungan bisnis perusahaan. Oleh karena itu, sebaiknya kita sangat memperhatikan faktor liquidity dan solvency ini dalam melakukan analisis terhadap kondisi keuangan perusahaan.

Dapatkan buku saya, “Investing Ideas” di sini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s