Gallery

Kategori Saham I: Slow Growers

Tabel berikut berisikan saham-saham yang tumbuh dengan lambat selama lima tahun terakhir. Saya menggunakan screener dari FT.com. Walaupun masuk ke dalam kategori slow growers, bukan berarti saham-saham berikut tidak layak untuk investasi. Pada umumnya, jika kita berinvestasi pada saham-saham slow grower, dividen menjadi faktor yang penting. Dividend yield (dividend per share / stock price) adalah andalan kita untuk mengkompensasi lambatnya pertumbuhan. Sebenarnya meskipun cukup banyak saham di BEI yang masuk ke dalam kategori slow growers, hanya saham-saham berikutlah yang lolos dari filter ala Peter Lynch dan masih layak untuk kita koleksi.

Sebelum mengambil keputusan, pastikan bahwa kita telah memeriksa kesehatan keuangannya. Secara umum, menurut Peter Lynch ada beberapa faktor yang bisa menjadi panduan kita untuk melakukan analisis.

  1. P/E ratio. Bandingkan besarnya P/E ratio dengan perusahaan sejenis di dalam satu industri.
  2. Besarnya kepemilikan institusi. Semakin rendah semakin baik.
  3. Periksa apakah para insider (direksi atau komisaris) membeli sahamnya. Jangan lupa juga periksa apakah perusahaan melakukan stock buyback. Kedua hal tersebut memberikan efek positif.
  4. Periksa data historis pertumbuhan laba. Apakah labanya tumbuh dengan stabil atau fluktuatif.
  5. Apakah kondisi neracanya kuat? Cara paling mudah adalah memeriksa debt to equity ratio.
  6. Jumlah uang tunai (cash). Jika besarnya cash per share adalah 500 rupiah, maka jarang terjadi harga sahamnya turun di bawah itu.

Khusus untuk saham slow growers, periksa hal-hal berikut:

  1. Karena kita membeli saham jenis ini dengan harapan mendapatkan dividen, periksa apakah perusahaan secara rutin membagikan dividen.
  2. Jangan lupa memeriksa besarnya dividend payout ratio (dividend per share / earnings per share). Jika nilainya cukup rendah, perusahaan akan memiliki cadangan dana pada masa-masa sulit.

Sebagai investor, kita juga harus mengetahui kapan saatnya menjual. Selalu perhatikan kondisi-kondisi yang harus kita pertimbangkan apakah saham slow growers layak untuk dipertahankan atau tidak. Pertimbangkan untuk menjual sahamnya apabila terjadi hal-hal berikut:

  1. Harganya telah naik 30% – 50% sejak kita beli.
  2. Kondisi fundamental sahamnya semakin memburuk. Pada kondisi ini, jangan tertipu melihat harga saham yang terus menjadi semakin murah.
  3. Perusahaan terus kehilangan pangsa selama dua tahun berturut-turut dan mengganti agen iklannya.
  4. Tidak mengeluarkan produk baru dan pengeluaran untuk riset dan pengembangan dibatasi.
  5. Dua akuisisi terhadap bisnis yang tidak berkaitan dengan core business mereka gagal.
  6. Perusahaan membayar terlalu mahal untuk mengakuisisi suatu bisnis. Neracanya berubah dari tidak ada utang dan cash berlimpah menjadi tumpukan utang dan tidak memiliki cash. Tidak ada dana yang dapat digunakan untuk melakukan buyback saham ketika harga sahamnya jatuh sekalipun.
  7. Sekalipun harga sahamnya yang cukup rendah, dividend yield-nya tidak mampu menarik investor untuk masuk.

Demikianlah hal-hal yang perlu kita perhatikan apabila ingin berinvestasi pada saham-saham slow growers. Pada artikel selanjutnya kita akan berdiskusi tentang saham-saham stalwarts dan Fast Growers.

One thought on “Kategori Saham I: Slow Growers

  1. Pingback: Kategori Saham II: Stalwart | Pojok Ide Investasi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s