Gallery

Amerika oh Amerika

Selama puluhan dekade, Amerika Serikat menjadi tanah impian. Ekonominya yang terus tumbuh dan menguat menarik laron-laron untuk mendekatinya. Tak terhitung banyaknya imigran yang memasuki Amerika Serikat dengan harapan akan adanya kehidupan yang lebih baik.

Amerika Serikat adalah tanah harapan dan simbol dari kemajuan peradaban modern. Sepertinya umumnya suatu kemajuan, ada harga yang harus dibayar untuk itu. Setiap orang harus makan, dan Amerika Serikat telah jauh melampaui hal tersebut. Standar hidup warganya terus meningkat dan untuk menjamin kelangsungannya membutuhkan biaya. Normalnya, dana untuk membiayai pengeluaran pemerintah berasal dari pajak, seperti juga lazimnya sebuah rumah tangga yang membiayai pengeluaran sehari-hari dengan pendapatannya dari hasil bekerja ataupun berdagang.

Masalah mulai timbul ketika pendapatan tidak sebanding dengan pengeluaran. Standar hidup yang semakin tinggi menuntut adanya kenaikan pendapatan. Manakala pendapatan sudah tidak mencukupi, terpaksalah menempuh the dark way, yaitu berutang.  Memang benar saat ini hampir setiap negara memiliki utang karena jika hanya mengandalkan pajak akan sulit sekali mendongkrak pertumbuhan ekonomi. Selama besarnya utang dijaga sebenarnya tidak akan menjadi masalah besar. Namun yang kita bicarakan kali ini adalah Amerika Serikat, sebuah negara super power yang tentu saja kebutuhannya sangat besar. Sudah puluhan tahun mata uangnya, U.S dollar menjadi alat tukar perdagangan internasional atau dengan kata lain hampir setiap negara membutuhkan U.S dollar ketika hendak melakukan ekspor atau impor. Karena itulah Amerika Serikat mampu berutang secara masif untuk menjembatani gap antara pendapatan dan pengeluarannya.

Tanpa disadari, rakyat Amerika Serikat tumbuh menjadi sangat konsumtif. Krisis perumahan yang melanda Amerika Serikat pada tahun 2008 silam telah menjadi alarm pertama bagi mereka. Mahalnya harga properti memaksa mereka untuk berutang di luar kemampuannya. Karena sangat besar utangnya, kenaikan suku bunga pinjaman akan berdampak sangat besar terhadap kemampuan mereka untuk mencicilnya. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa rakyat Amerika Serikat memiliki standar hidup di luar batas kemampuannya . Yang lebih miris lagi, Amerika Serikat membagi sebagian bebannya kepada negara-negara lain yang telah membeli surat utangnya.

Alarm kedua bagi Amerika Serikat mulai berdering akhir-akhir ini. Pinjaman nasional Amerika Serikat terus membengkak dan hampir melampaui batas atas yang telah disepakati yaitu $14,3 triliun atau sekitar 122.000 triliun rupiah, sebuah jumlah yang fantastis. Amerika Serikat telah menyentuh batas yang membuat utangnya berpotensi untuk default jika tidak dinaikkan. Kabar terakhir menyebutkan bahwa senat AS telah menyetujui kenaikan plafon ini. Sayangnya, pengobatan tersebut hanya akan bersifat sementara karena di kemudian hari penyakitnya akan kambuh lagi dengan efek yang lebih besar. Pemerintah AS diberikan waktu 10 tahun untuk menutup defisit anggaran sebesar $2,4 triliun atau sekitar 20.600 triliun rupiah.

US Government Net Debt as Percent of GDP. Sumber: World Economic Outlook Database April 2011

Setelah sempat turun ke level 35% pada tahun 2001, rasio utang pemerintah AS terhadap GDP semakin meningkat dan pada tahun 2009 telah mencapai 60%. Tren ini cukup mengkhawatirkan mengingat besar nominal utang terkait.

Bagi negara lain, tentu saja ini bukan hal yang menyenangkan. Pemotongan anggaran akan mengakibatkan penurunan tingkat konsumsi dan Amerika Serikat adalah salah satu konsumen terbesar di dunia. Dengan kata lain, ada potensi terjadinya penurunan ekspor ke AS dan ekonomi dunia akan berjalan lebih lambat.  Ketidakpastian kondisi ekonomi di AS juga akan membuat para investor mengalihkan dananya ke tempat lain. Salah satu negara yang prospektif adalah Indonesia. Kita bisa melihat bagaimana IHSG terus menanjak ditopang oleh derasnya dana asing yang masuk.

Kekhawatiran lain atas masalah utang AS ini adalah credit rating. Moody’s, salah satu lembaga pemeringkat kredit telah mewanti-wanti akan meninjau status peringkat kredit AS saat ini. Sampai dengan saat ini, surat utang pemerintah AS mendapatkan peringkat AAA (paling tinggi). Jika peringkat tersebut menurun sebagai akibat dari masalah utang ini, dampaknya akan sangat luas. Jika hal tersebut terjadi, AS harus membayar bunga yang lebih besar ketika membuat utang baru dan suku bunga di AS secara keseluruhan akan naik sehingga berpotensi menimbulkan krisis baru.

Para investor sepertinya harus memikirkan kembali definisi dari risk-free rate. Selama ini kita menganggap bahwa surat utang pemerintah AS dapat mewakili jenis aset yang (hampir) risk-free. Ancaman dari Moody’s membuka mata kita bahwa keberadaan risk-free asset itu nyaris seperti utopia. Jika aset teraman yang kita tahu sudah menjadi lebih berisiko, instrumen apa lagi yang bisa dijadikan acuan?

Satu hal yang ada di depan mata kita adalah gulungan ombak yang semakin besar. Apakah kita siap untuk berselancar di atasnya?

2 thoughts on “Amerika oh Amerika

  1. Pak,,bagaimana proyeksi pasar saham kita,,terutama bagi saya investor awam yang baru mulai dengan reksadana saham,,apakah akan seperti tahun 2008?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s