Gallery

Mendeteksi Cash Burner

Cash flow merupakan bensin bagi suatu perusahaan. Tanpa adanya asupan cash flow, perusahaan tidak akan dapat beroperasi dengan sempurna. Jika suatu perusahaan menghabiskan uang lebih cepat daripada menghasilkan uang dari bisnisnya maka perusahaan tersebut dikatakan melakukan cash burning atau gampangnya lebih besar pasak daripada tiang. Sama seperti kita juga, apabila pengeluaran lebih besar daripada pemasukan, maka kita akan mendapatkan masalah di kemudian hari.

Perusahaan yang laba bersihnya positif belum tentu cash flow-nyajuga positif. Pendapatan dicatat ketika terjadi penjualan. Namun apabila pembayarannya secara kredit, tidak ada cash flow yang masuk. Penjualan tersebut akan tercatat ke dalam account receivable (piutang usaha) dan tidak menambah cash flow.

Sebagai contoh katakanlah perusahaan membukukan penjualan secara kredit sebesar Rp 10 miliar. Setelah dikurangi dengan segala macam biaya, didapatkan laba bersih sebesar Rp 1 miliar. Perusahaan akan mencatat laba bersihnya adalah sebesar Rp 1 miliar.  Karena penjualannya secara kredit, maka tidak ada cash flow yang masuk. Kasus tersebut memang cukup ekstrim karena biasanya tidak semua penjualan dilakukan secara kredit. Meskipun begitu, kita mengetahui bahwa laba bersih yang tinggi tidak menjamin bahwa cash flow perusahaan sehat. Analisis terhadap cash flow akan membantu kita untuk mendeteksi apakah suatu perusahaan berpotensi menjadi cash burner.

Aspek lainnya yang dapat membantu kita untuk mendeteksi adanya cash burning adalah working capital. Working capital adalah selisih antara current asset dengan current liabilities atau biasa disebut dengan modal kerja. Idealnya, suatu perusahaan memiliki working capital positif yang memberikan indikasi bahwa perusahaan tersebut akan mampu memenuhi seluruh kewajiban jangka pendeknya. Perusahaan yang memiliki working capital negatif tentu saja harus berusaha untuk mencari dana segar untuk memenuhi kewajiban-kewajiban jangka pendeknya. Sumber dana yang paling sehat tentu saja adalah operating cash flow.

Berdasarkan operating cash flow dan working capital, kita dapat mengkategorikan perusahaan menjadi empat jenis:

Berdasarkan model tersebut, mari kita perhatikan contoh berikut:

Working Capital Positif dan Cash Flow Positif

Perusahaan pada kondisi ini kemungkinan kecil melakukan cash burning. Current assets yang dimiliki cukup besar untuk memenuhi kewajiban-kewajiban jangka pendek sementara operating cash flow yang positif memberikan dana segar baru. Berdasarkan contoh di atas, Astra International (kode: ASII) berada di dalam kategori ini. Dapat dikatakan bahwa ASII berpeluang tipis mengalami cash burning.

Working Capital Positif dan Cash Flow Negatif

Pada kondisi ini, perusahaan masih dapat memenuhi kewajiban-kewajiban jangka pendeknya namun cash flow yang negatif akan menggerus kas perusahaan dan ke depannya berpotensi membuat working capital perusahaan menjadi negatif. Jika tidak ada langkah-langkah strategis dari pihak manajemen untuk mengatasi hal ini, maka perusahaan akan melakukan cash burning dan terancam kelangsungannya. Pada contoh kita melihat bahwa DAVO masuk ke dalam kategori ini. Dalam jangka pendek, jumlah kas yang dimiliki akan mampu menopang operasional perusahaan sehari-hari. Pertanyaannya, sampai kapan perusahaan dapat beroperasi dengan kondisi seperti ini?

Working Capital Negatif dan Cash Flow Positif

Perusahaan yang berada pada kondisi ini biasanya baru saja berhasil membalikkan kondisi keuangannya. Cash flow yang positif akan menjadi sumber energi bagi operasional perusahaan. Pertanyaannya, apakah cash flow positif yang dihasilkan akan mampu menambal lubang pada working capital? Contoh kita pada tabel adalah CITA. Terlihat bahwa walaupun working capital-nya negatif, asupan dana segar dari aktivitas operasi akan membuatnya menjadi sehat kembali. Pada kondisi tersebut, dalam waktu kurang dari satu tahun CITA akan dapat melakukan recovery secara sempurna.

Working Capital Negatif dan Cash Flow Negatif

Perusahaan yang berada pada kondisi ini seharusnya sudah menyalakan sinyal alarm bagi investornya. Secara cepat perusahaan harus mendapatkan dana segar dan manajemen harus melakukan evaluasi serta bernegosiasi dengan supplier untuk mendapatkan harga yang lebih murah. Contoh kita di atas adalah ITTG. Jika ITTG bisa mendapatkan dana segar, baik dari pinjaman ataupun rights issue maka working capital akan dapat diselamatkan. Namun jika tidak ada perbaikan yang efektif di sisi operasional, operating cash flow yang negatif akan membawa perusahaan ke dalam lubang yang sama.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s