Gallery

Porter’s Five Forces, Tool Analisis Kualitatif Saham yang Ampuh

Michael E. Porter, Sumber: NNDB

Michael Eugene Porter bisa dibilang adalah pelopor dalam bidang manajemen strategis modern. Pemikirannya mengenai strategi dan kompetisi antar perusahaan mampu mengubah peta analisis manajemen strategis. Porter memperoleh gelar Bachelor pada jurusan teknik penerbangan dan  teknik mesin dari Princeton. Gelar MBA dan Ph.D diperolehnya dari Harvard.

Porter mengemukakan model Five Force’s yang merupakan framework yang sangat handal untuk menganalisis kekuatan-kekuatan yang mempengaruhi tingkat kompetisi di dalam suatu industri. Apa manfaatnya bagi kita sebagai investor? Sangat besar. Dengan memahami karakteristik suatu industri, kita akan dapat mengetahui kekuatan apa saja yang mempengaruhi kelangsungan hidup suatu perusahaan. Model Five Forces ini masuk ke dalam ranah analisis kualitatif dan saya rekomendasikan sebagai analisis awal sebelum melakukan analisis lebih mendalam.

Pemikiran Michael Porter mendapatkan perhatian yang cukup besar dari Warren Buffett dan terlihat pada pandangannya mengenai pentingnya suatu bisnis memiliki economic moat atau biasa disebut oleh Porter sebagai competitive advantage.

Framework analisis Five Forces adalah sebagai berikut:

Di dalam model Porter, terdapat lima kekuatan yang mempengaruhi kuatnya persaingan di dalam suatu industri:

  • The threat of substitute products or service
  •  The threat of increased competition from rivals in the market
  •  The threat of new entrants into the market
  • The bargaining power of suppliers
  • The bargaining power of buyers

Untuk dapat menggunakan model ini dengan baik untuk melakukan analisis, diperlukan pemahaman yang cukup mendalam terhadap suatu industri. Model ini dapat menjadi senjata yang ampuh karena hasilnya dapat kita pergunakan untuk menilai apakah strategi yang diterapkan oleh suatu perusahaan cocok dengan karakteristik industrinya.

Pada dasarnya kelima kekuatan tersebut adalah ancaman bagi suatu perusahaan. Semakin kuat perusahaan menghadapi kelima ancaman tersebut, semakin besar competitive advantage perusahaan tersebut.

The threat of substitute products or service

Semakin banyak barang atau layanan yang dapat menggantikan produk suatu perusahaan, maka posisi perusahaan tersebut semakin lemah. Contohnya, posisi Astra International sebagai ATPM akan terancam apabila transportasi massal semakin berkembang. Adanya transportasi massal yang bagus akan menyebabkan penjualan mobil ataupun motor menurun. Contoh lainnya adalah ancaman SMS terhadap telegram. Saat ini sudah terbukti bahwa layanan SMS dari operator seluler telah menelan layanan telegram karena jauh lebih efektif dan efisien. Jika pelanggan tidak mudah untuk mencari pengganti produk kita, maka dikatakan kita memiliki competitive advantage.

The threat of increased competition from rivals in the market

Ancaman berikutnya adalah meningkatnya persaingan dari kompetitor. Salah satu contoh penyebabnya meningginya tingkat persaingan adalah perang harga serta inovasi produk baru dari kompetitor. Secara umum dapat dikatakan bahwa semakin banyak jumlah kompetitor, semakin tinggi tingkat persaingan di dalam industri tersebut. Di sinilah brand equity memegang peranan yang sangat penting. Perusahaan dengan brand equity yang sangat kuat seperti Unilever dengan Pepsodent atau Indofood dengan Indomie akan mampu menyisihkan para pesaingnya yang memiliki brand equity yang lebih rendah.

The threat of new entrants into the market

Manisnya keuntungan yang didapat dari suatu bisnis akan dengan cepat menarik para pemain baru untuk terjun ke dalam persaingan. Masing-masing industri memiliki karakteristik tersendiri mengenai hal ini. Porter memperkenalkan konsep barrier to entry untuk menggambarkan tingkat kesulitan pemain baru untuk masuk ke dalam suatu industri. Semakin kuat barrier to entry, semakin aman posisi pemain lama di dalam industri tersebut, Contoh barrier to entry yang sangat kuat adalah besarnya modal untuk memulai usaha di dalam industri tersebut. Industri pertambangan minyak dan gas serta industri telekomunikasi merupakan contoh yang bagus. Contoh barrier to entry yang lemah adalah apa yang dialami oleh industri rekaman belakangan ini. Saat ini, sangat mudah bagi band-band baru untuk mendapatkan kesempatan untuk rekaman. Kemajuan teknologi juga memungkinkan mereka untuk melakukan proses rekaman secara indie dan mengurangi ketergantungan terhadap major label. Band-band yang lama pun akhirnya mendapatkan ancaman yang cukup serius karena melemahnya barrier to entry ini.

The bargaining power of suppliers

Perusahaan yang bergantung pada sedikit supplier akan memiliki bargaining power yang lemah. Kelangkaan supplier akan membuat mereka dengan mudah menaikkan harga bahan baku sehingga profit margin suatu perusahaan semakin menipis. Sebaliknya, perusahaan yang memiliki banyak alternatif supplier akan memperoleh keuntungan yang besar. Salah satu contoh lemahnya bargaining power of supplier adalah Carrefour. Dengan brand equity yang dimilikinya, Carrefour dapat dengan mudah mengganti supplier-nya apabila menaikkan harga karena masih banyak supplier lain yang mengantri.

The bargaining power of buyers

Semakin banyak jumlah pesaing suatu perusahaan, maka pelanggan (buyer) akan memiliki bargaining power yang lebih kuat dan menurunkan tingkat keuntungan perusahaan tersebut. Sebaliknya,apabila jumlah pemain di dalam suatu industri relatif sedikit, maka posisi tawar pelanggan akan melemah. Sebagai contoh adalah industri semen. Jumlah pemain di dalam industri ini relatif sedikit sehingga pelanggan tidak memiliki posisi tawar yang kuat.

Perusahaan yang memiliki kekebalan terhadap ancaman-ancaman tersebut memiliki competitive advantage yang cukup besar dan dapat menjadi pijakan awal kita untuk melakukan analisis dengan lebih mendalam. Berdasarkan analisis ini pula lah kita dapat melihat perbedaan antara great business dengan mediocre business. Perusahaan yang kebal terhadap ancaman-ancaman tersebut umumnya dalam jangka panjang memiliki kinerja yang sangat baik.

5 thoughts on “Porter’s Five Forces, Tool Analisis Kualitatif Saham yang Ampuh

  1. Pingback: PENERAPAN DAN IMPLEMENTASI E-COMMERCE DI INDONESIA | Agies Soja Frisyalina Blog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s