Gallery

Melakukan Analisis COGS (HPP) untuk Memahami Bargaining Power Perusahaan

COGS (Cost of Goods Sold) atau disebut juga dengan HPP (Harga Pokok Penjualan) adalah biaya langsung yang terkait dengan produksi barang. Sebagai contoh apabila kita memproduksi permen, maka komponen biaya yang masuk ke dalam COGS adalah gula, air, pembungkusnya, listrik, dan tenaga kerja. Lain halnya jika Anda membuka toko kelontong yang menjual permen. COGS permen yang Anda jual adalah biaya untuk membeli permen tersebut dari supplier kita.

COGS seringkali berkaitan dengan posisi relatif kita terhadap pesaing. Apabila permen yang hendak Anda jual diperoleh dengan harga 1.000 rupiah per bungkus sementara toko kelontong sebelah memperolehnya dengan harga 1.200 rupiah per bungkus, maka keuntungan yang Anda peroleh akan lebih besar daripada toko kelontong sebelah tersebut. Hal yang sama juga berlaku apabila kita melakukan analisis terhadap emiten-emiten yang terdaftar di BEI. Perusahaan yang bisa mendapatkan bahan baku dengan biaya lebih murah akan dapat memperbesar keuntungannya. Salah satu cara untuk menekan biaya produksi adalah dengan menggunakan mesin dengan kapasitas lebih besar sehingga biaya produksi per barang menjadi lebih rendah. Selain itu, kedekatan pabrik/outlet dari sumber bahan baku juga akan membuat biaya transportasi menjadi lebih murah.

Walaupun begitu, tidak semua kasus dapat kita pukul rata seperti contoh di atas. Ada kalanya tingginya gross margin mengindikasikan bargaining power dari perusahaan tersebut terhadap konsumennya. Saat membeli ayam goreng di KFC, kita rela untuk membayar dengan harga yang cukup mahal karena kekuatan merk yang dibawanya. Selain itu, kita percaya bahwa proses pengolahannya cukup higienis dan istimewa sehingga layak bagi KFC untuk menjual ayam goreng dengan harga yang sedikit mahal. Lain halnya apabila kita membeli ayam goreng tepung di pinggir jalan. Tentu kita akan bertanya-tanya seandainya penjualnya ‘nekat’ menjual dengan harga mahal. Apa yang dia tawarkan pada kita? Apakah sebanding dengan harganya? Dalam hal ini penjual ayam goreng tersebut berada dalam posisi yang lemah sehingga untuk menarik pembeli harus menjualnya dengan harga yang murah.

Meskipun batubara tergolong komoditas, bukan berarti kita tidak bisa menemukan keunggulan kompetitif dari perusahaan penambangnya. Salah satu sumber keunggulan kompetitif yang mungkin dimiliki adalah kualitas batubaranya. Cadangan batubara di Indonesia umumnya memiliki kadar sulfur yang relatif rendah sehingga memiliki daya saing yang cukup kuat di dalam industri batubara dunia.

Skenario ideal yang ingin kita temui tentunya adalah murahnya biaya bahan baku dan bargaining power yang kuat. Sayangnya kedua hal tersebut cukup jarang kita temui. Oleh karena itulah kita harus mengetahui positioning dari suatu perusahaan dalam menjual produknya.

Sebagai contoh saya akan mencoba melakukan analisis terhadap dua sektor yang ada di BEI, yaitu sektor pakan ternak dan sektor perdagangan ritel.

Pada industri pakan ternak, terlihat bahwa gross margin keempat emiten (CPIN, JPFA, MAIN, dan SIPD) hampir semua kecuali SIPD yang terlihat berbeda. Dengan gross margin hanya 9,7%, SIPD menimbulkan tanda tanya. Apakah memang SIPD bisa mendapatkan bahan baku dengan harga murah ataukah menjual produknya dengan harga yang murah. Untuk ukuran industri umum, gross margin di bawah 10% terbilang sangat kecil dan rentan terhadap kondisi ekonomi. Periksa kembali mengapa gross margin SIPD sangat rendah.

Untuk sektor perdagangan ritel, saya, membaginya menjadi tiga bagian yang diwakili oleh warna yang berbeda. Emiten yang berwarna biru adalah emiten yang menjual barang kebutuhan sehari-hari. Pada bagian yang berwarna hijau, kita melihat emiten yang fokus pada bisnis ritel fashion dan lifestyle. Bagian terakhir adalah emiten yang berada di luar kedua bisnis sebelumnya.

Pada bagian pertama, secara sekilas kita dapat melihat perbedaan segmentasi pasar masing-masing emiten. ALFA dan MIDI memiliki segmen pasar yang hampir sama dengan yang terlihat pada miripnya gross margin kedua emiten tersebut. AMRT yang merupakan pemilik Alfamart terlihat bermain di segmen pasar yang lebih rendah. HERO memiliki warna yang sedikit berbeda karena seperti kita ketahui telah mengubah segmen pasarnya menjadi menengah ke atas sehingga mampu menaikkan harga jual produknya.

Pada bisnis fashion dan lifestyle, seperti yang telah diduga sebelumnya, MAPI sangat jelas dalam positioning. Dengan gross margin sebesar 50,43%, MAPI membidik pasar kalangan menengah ke atas. Yang agak mengejutkan sebenarnya adalah RIMO yang membidik pasar kalangan menengah namun memiliki gross margin yang cukup tinggi yaitu 36,3%. Kita harus menganalisis dengan lebih mendalam untuk mengetahui penyebabnya.

Dengan melakukan analisis terhadap COGS, kita sedikit banyak dapat mengetahui apakah bagaimana positioning suatu perusahaan serta efisiensi dari proses produksi barangnya. Perbedaan gross margin yang cukup signifikan dengan pesaingnya dapat menjadi pijakan awal kita untuk melakukan analisis lebih mendalam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s