Gallery

The Chicken War: FAST vs PTSP

Pangsa pasar restoran cepat saji di Indonesia memang cukup besar. Meledaknya jumlah penduduk kelas menengah di Indonesia turut menjadi katalis bagi pertumbuhan bisnis ini. Salah satu jenis makanan cepat saji yang populer adalah ayam goreng. Di BEI, terdapat dua emiten yang bergerak di bisnis ayam goreng cepat saji. Yang pertama adalah FAST dengan lini usahanya, KFC (Kentucky Fried Chicken) dan PTSP dengan lini usaha utamanya CFC (California Fried Chicken).  Selain membuka gerai ayam goreng cepat saji (CFC), PTSP juga memiliki unit bisnis lain yaitu Sapo Oriental dan Cal Donuts. Walaupun begitu, jumlah gerai CFC jauh lebih banyak dibandingkan dengan gerai lain sehingga kita anggap core business PTSP adalah restoran ayam goreng cepat saji. FAST sendiri telah berdiri sejak 30 tahun yang lalu, sedangkan PTSP memulai usahanya sekitar 21 tahun yang lalu.

Sebelum mencoba membandingkan kedua emiten tersebut, mungkin ada baiknya kita mencoba melihat besarnya skala operasi mereka. Biasanya info tersebut terdapat pada laporan tahunan. Namun sayangnya mereka belum mengeluarkan laporan tahunan untuk tahun 2010. Oleh karena itu, kita coba untuk melihat laporan tahunan 2009.

Sumber: Laporan tahun FAST & PTSP 2009

Terlihat bahwa jumlah gerai FAST lebih banyak dibandingkan dengan PTSP. Jumlah karyawan FAST pun jauh lebih banyak, yaitu 13.229 orang dibandingkan dengan PTSP yang memiliki karyawan sejumlah 1.838 orang. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan bahwa jumlah aset FAST pun jauh lebih besar dibandingkan dengan PTSP (lebih dari 10 kali lipatnya).

Outlet Zooming

Karena sumber pendapatan kedua emiten tersebut adalah gerai-gerai mereka, maka skala operasi keduanya akan terlihat apabila kita mencoba zooming ke level outlet-nya.  Saat sebuah outlet didirikan, maka biaya untuk membeli bangunan ataupun peralatan produksi akan masuk ke dalam item fixed assets di neraca. Terlihat bahwa outlet FAST secara rata-rata berukuran lebih besar dibandingkan dengan PTSP. Untuk membangung satu outlet, FAST membutuhkan biaya sekitar 510 juta rupiah, sedangkan PTSP hanya membutuhkan biaya sekitar 208 juta rupiah. Coba perhatikan apakah benar outlet KFC rata-rata berukuran lebih besar apabila dibandingkan dengan outlet milik CFC. Tidaklah mengherankan jumlah karyawan per outlet yang dibutuhkan oleh FAST adalah sekitar 36 orang sementara PTSP  hanya membutuhkan sekitar 9 orang untuk bekerja di tiap-tiap gerainya.

Bagaimana dengan efisiensi operasionalnya?

Dengan revenue sebesar 2,4 triliun rupiah dan fixed asset sebesar 188 miliar rupiah pada tahun 2009, fixed assets turnover (revenue / fixed assets) FAST adalah 13,08x. PTSP sendiri memiliki fixed assets turnover sebesar 5,17x. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa FAST lebih efisien dalam memanfaatkan fixed assets nya untuk memperoleh pendapatan.

Crunching the Numbers

Setelah selesai membandingkan ukuran kedua emiten serta zooming per outlet, mari kita mulai bicara mengenai laporan keuangannya secara korporat.

Sumber: Laporan Keuangan FAST & PTSP (2006 – 2010)

Terlihat bahwa tidak terlihat perbedaan yang cukup mencolok untuk margin kedua emiten (gross margin, operating profit margin, dan net profit margin). Gross margin PTSP sedikit lebih baik dari FAST (66% vs 56%). Yang cukup menarik perhatian saya adalah ROE dari PTSP yang cukup tinggi yaitu sekitar 43%. Hal ini diakibatkan karena kecilnya nilai ekuitasnya. Sebagai catatan, pada tahun 2006, ekuitas PTSP hanya bernilai 86 juta rupiah dan sampai dengan tahun 2010 akumulasi retained earning-nya masih negatif. Apa artinya? Akumulasi retained earnings negatif bisa ditafsirkan bahwa selama umur hidupnya, PTSP merugi sehingga menggerus nilai ekuitasnya. Untungnya, kondisi PTSP beberapa tahun terakhir mulai membaik dan membukukan ekuitas sebesar 36 miliar rupiah pada tahun 2010. Sementara itu, ROE FAST sendiri selama lima tahun terakhir cukup stabil di kisaran 24% – 25%. Sebuah angka yang cukup bagus.

Hal lain yang cukup menarik dari PTSP adalah penurunan DER yang signifikan selama 5 tahun terakhir. Walaupun terbilang cukup tinggi (1,86), angka ini sudah jauh membaik dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.

Menyimak angka-angka di atas, ada satu kesimpulan yang bisa kita ambil. FAST terlihat cukup baik dan konsisten kinerjanya sementara PTSP sedang berjuang untuk melakukan perbaikan. Karena kinerjanya kurang stabil, tampak bahwa market hanya menghargai PTSP dengan PER satu digit sementara FAST memiliki PER 11x – 17x.

Bisakah PTSP mengejar ketertinggalannya?

2 thoughts on “The Chicken War: FAST vs PTSP

  1. Susah, karena KFC pny competitive advantage yang sangat kuat yaitu, jika kita tanya anak2, mau makan dimana…. jawabannya KFC sm spt indomie

  2. setuju sama om baihaki..

    petuah om warren :
    it’s better to buy a wonderful company with fair price rather than a fair company with wonderful price.

    so i still choose FAST ketimbang PTSP,
    kecuali PTSP :
    1. punya lini bisnis baru yang meningkatkan competitive advantagenya (soalnya saya liat CFC sama cal donut tu kurang ada di benak rakyat indonesia..mindset indonesia saya liat KFC, and kl sektor donut itu JC0)
    2.dividend payoutnya bagus (kl diliat 10 taun terakhir dari taun 2000 berdasarkan data e-bursa.com si PTSP ga pernah bagi dividend) T_T

    namun saya setuju banyak perbaikan di sisi PTSP, terutama DER.

    bagaimana menurut bung parahita?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s