Gallery

Talking about Investing in IPO

IPO Garuda, Sumber: Antarafoto

Belakangan ini cukup banyak pertanyaan mengenai investasi pada saham saat IPO (Initial Public Offering). Dari sisi pandang perusahaan, IPO merupakan sarana untuk mendapatkan dana segar untuk kelangsungan usahanya. Untuk itu, investor sebelumnya bersedia merelakan proporsi kepemilikan berkurang.

Bagi investor, IPO memunculkan harapan atas prospek baru. Pada dasarnya, sesuatu yang baru memang cenderung menyegarkan. Promosi yang gencar dari pihak emiten dan underwriter menambah kesemarakan itu. Harus diakui, ada cukup banyak perusahaan yang bisnisnya terus cemerlang dan bisnisnya terus tumbuh sampai belasan bahkan puluhan tahun setelah IPO. Sebut saja Unilever, Aqua, Astra  International, Gudang Garam, dan lain-lain. Jika Anda membeli sahamnya ketika IPO, maka nilai investasi Anda akan tumbuh menjadi berkali-kali lipat. Kisah Aqua pernah dibahas dalam artikel sebelumnya. Saham Aqua yang melakukan IPO pada tahun 1990 sampai dengan saat artikel tersebut ditulis telah naik sebesar 1.450 kali lipat atau jika dihitung return yang didapatkan sekitar 28,3% per tahun. Perhitungan tersebut belum termasuk dividen yang didapatkan selama 20 tahun. Apabila kita berbicara tentang Amerika Serikat, bisa Anda bayangkan jika Anda membeli saham Microsoft atau Yahoo! Saat IPO. Tidak ayal banyak yang tertarik untuk memburu saham perusahaan yang akan IPO.

Sayangnya, tidak semua IPO memberikan cerita indah bagi investornya. Ada beberapa saham yang harganya cenderung stagnan atau malah turun setelah IPO. Lalu apa yang dapat kita pelajari dari hal tersebut? Sebagus apapun penawaran dan promosi dari underwriter tentang prospek dari emiten yang akan IPO, kita harus memastikan bahwa bisnis yang mereka tawarkan memang benar-benar bagus. Kriteria-kriteria umum mengenai baik buruknya kondisi fundamental perusahaan beserta valuasinya mutlak berlaku saat kita menganalisa emiten yang sedang IPO. Karena saat IPO ada dana segar yang dapat dimanfaatkan oleh perusahaan, kita juga harus melakukan analisa tambahan terkait dengan hal tersebut.

Pandangan klasik mengenai IPO ini salah satunya diutarakan oleh Benjamin Graham. Ia berpendapat bahwa saat IPO, perusahaan membutuhkan dana yang cukup besar untuk berbagai macam tujuan yang biasanya bermuara pada satu hal, yaitu mahalnya harga saham yang ditawarkan. Walaupun cukup beralasan, terdapat sebuah masalah pada argumen tersebut. Jika sebuah bisnis benar-benar bagus, maka meskipun dijual dengan harga yang mahal, sahamnya tetap menarik untuk dibeli karena bisnisnya akan mampu untuk terus tumbuh di masa mendatang. Oleh karena itulah kita harus melakukan assessment dengan sungguh-sungguh terhadap prospek bisnis emiten yang akan melakukan IPO. Sayangnya, biasanya agak susah mendapatkan laporan keuangan historis yang mendetil untuk perusahaan yang akan IPO. Hal ini tentu saja mempersulit kita untuk melakukan assessment dan risiko kita untuk berinvestasi semakin besar.

Sebelum memutuskan untuk berinvestasi pada saham emiten yang akan melakukan IPO, pastikan bahwa Anda mengetahui apa tujuan emiten tersebut. Beberapa tujuan yang umum antara lain, memenuhi kebutuhan ekspansi, menambah modal kerja, membayar utang, dan lain-lain. Sebaiknya kita berhati-hati apabila dana hasil IPO digunakan hanya untuk membayar utang karena hal tersebut tidak memberikan nilai tambah bagi pemegang saham.

Satu hal yang tidak kalah pentingnya adalah memantau kinerja perusahaan setelah IPO dilakukan. Pastikan bahwa penggunaan dana IPO sesuai dengan yang mereka nyatakan di dalam prospektus karena hal tersebut merupakan salah satu indikasi bahwa emiten memiliki komitmen yang kuat terhadap investornya.

Study Case: Krakatau Steel (KRAS)

Salah satu IPO yang ‘hot’ pada tahun 2010 adalah Krakatau Steel yang melantai dengan kode KRAS. IPO KRAS ini cukup menyita perhatian publik karena munculnya kontroversi mengenai mahal atau murahnya harga penawaran sahamnya. Kontroversi ini timbul karena posisi KRAS sebagai salah satu BUMN yang memiliki fungsi strategis, yaitu pengolahan baja. Ditambah lagi, KRAS merupakan market leader di industri pengolahan baja di Indonesia sehingga IPO ini memiliki arti yang sangat penting.

Mari kita mulai melakukan analisis terhadap bisnisnya. Mau tidak mau harus diakui bahwa baja merupakan komoditas yang berarti akan relatif susah untuk membedakan kualitas produksi dari satu pabrik dengan pabrik yang lain. Oleh karena itu, harga jual produsen baja sangat ditentukan oleh supply dan demand semata. Produsen baja tidak bisa seenaknya menaikkan harga jual karena konsumen bisa berpindah ke produsen lain yang memberikan harga lebih murah.

Meskipun begitu, KRAS memiliki satu keunggulan yang cukup kuat yaitu lokasinya yang berada di Cilegon yang memudahkan mereka untuk mendistribusikan baja hasil produksinya serta menekan biaya produksi.

Dalam IPO, KRAS melepas sekitar 3,16 miliar lembar saham dengan harga penawaran Rp 850 per lembarnya. Dengan demikian dana yang diraup dari IPO adalah sekitar Rp 2,7 triliun. Berdasarkan prospektus, rencana alokasi dana hasil IPO beserta estimasi nilainya adalah sebagai berikut:

Alokasi Dana IPO KRAS, Sumber: Prospektus IPO Krakatau Steel

Terlihat bahwa sebagian besar dana IPO dipergunakan untuk ekspansi. Hanya sekitar 24,2% atau sekitar Rp 649 miliar yang dipergunakan untuk menambah modal kerja. Sampai dengan titik ini, rencana alokasi dana IPO KRAS cukup menarik dan dapat kita perdalam lagi.

Selanjutnya mari kita melihat beberapa rasio keuangan KRAS selama tiga tahun terakhir.

Tampaknya kinerja keuangan KRAS selama tiga tahun terakhir kurang menggembirakan. Margin-nya relatif rendah dan merupakan ciri khas produsen komoditas. Mengingat sebagian dana alokasi IPO dipergunakan untuk melakukan modernisasi peralatan produksinya, maka ada harapan margin KRAS akan membaik di masa datang.

ROE sebagai indikator imbal hasil pada pemegang saham juga sangat rendah. Investor biasanya mengharapkan ROE minimal 15%. DER perusahaan sendiri sepertinya masih dalam taraf wajar dan mengindikasikan bahwa KRAS tidak terlalu bermasalah dengan utangnya.

Kata kunci yang bisa kita harapkan dari IPO KRAS ini adalah peningkatan efisiensi dan perluasan usaha. Jika KRAS berhasil melakukannya, maka kita akan melihat pada laporan keuangan di masa datang. Jika tidak, maka lampu kuning mulai menyala bagi para investornya.

Bagaimana dengan valuasinya? Melihat kondisi keuangan KRAS yang tidak stabil selama tiga tahun terakhir, agak sulit bagi kita untuk melakukan proyeksi laporan keuangannya di masa mendatang. Yang bisa kita lakukan adalah melihat dari sisi relative value. Di level harga 850,  PER KRAS adalah 27,1 dan terbilang cukup tinggi. Selain itu, pada tahun 2009 operating profit KRAS tiba-tiba anjlok dan mempersulit kita untuk menghitung ROC (Return on Capital) yang valid. ROC ini bisa menjadi alat bantu untuk melakukan valuasi pada perusahaan yang highly leveraged. Namun dalam kasus KRAS ini sepertinya tidak terlalu diperlukan karena DER KRAS masih dalam tahap wajar.

Lalu apa kesimpulannya?

Secara kuantitatif, kinerja KRAS cukup sulit untuk diprediksi dan hal ini memperbesar risiko kita berinvestasi. Jika kita memiliki sahamnya, pastikan bahwa terdapat kinerja di masa datang dan dana hasil IPO dipergunakan sesuai dengan pernyataan mereka dalam prospektus.

Memang cukup menggiurkan keuntungan yang kita harapkan dari IPO, akan tetapi tidak berbeda dengan emiten yang sudah lama melantai di bursa, analisa yang kita lakukan harus sama detilnya, tidak ada perkecualian.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s