Gallery

Susi Air: Sebuah Niche yang Sempurna

Logo Susi Air, Sumber: Susi Air website

Jika Anda diberikan tiket pesawat dan bebas untuk memilih tujuan domestik, apa pilihan Anda? Mungkin daftar jawaban Anda adalah antara lain:  Semarang, Denpasar, Makassar, Medan, dan lain-lain. Bagaimana jika saya berikan alternatif lain seperti Pangandaran, Cilacap, Simeulue, Kutacane, Nunukan, Nabire,  Larantuka? Lho, memang ada ya penerbangan ke kota-kota tersebut?

Kebetulan saya kemarin membaca sebuah berita di detik.com mengenai Susi Air. Dikatakan bahwa saat ini Susi Air kinerjanya sudah melampaui Merpati Airlines. Terus terang saya cukup terkejut. Sebelumnya saya memang pernah sekilas mendengar mengenai Susi Air namun tidak menyangka apabila mampu untuk bersaing dengan pemain lama seperti Merpati. Namanya yang kurang terlihat meyakinkan sebagai sebuah maskapai justru memberikan ketertarikan tersendiri.

Suami istri pemilik Susi Air, Sumber: Susi Air website

Pemilik Susi Air adalah suami istri Christian von Strombeck dan Susi Pudjiastuti. Sepertinya memang nama maskapainya diambil dari nama sang istri, Susi. Maskapai ini berdiri pada tahun 2004 dan pada awalnya melayani transportasi hasil-hasil perikanan dari perusahaan yang juga mereka miliki, PT ASI Pudjiastuti. Pada akhir tahun 2004, Susi Air menambah armadanya dengan 2 buah Cessna Caravan yang dipesan langsung dari pabriknya. Ketika terjadi tsunami di Aceh dan Sumut, Susi Air berperan membawakan obat-obatan dan alat-alat medis untuk menangani para korban. Sejak itulah namanya mulai dikenal dan terus berkembang sampai dengan saat ini.

Sebuah Niche yang Sempurna

Beberapa tahun belakangan ini dunia penerbangan di Indonesia diramaikan munculnya maskapai-maskapai low cost carrier (LCC) yang mendapatkan pangsa pasar baru yang  muncul karena daya beli masyarakat semakin menurun. Sekilas tampaknya LCC ini cukup menjanjikan. Sayangnya, masih terdapat kelemahan-kelamahan mendasar dari model bisnis mereka. Pada umumnya, maskapai-maskapai LCC tersebut menggunakan bandara-bandara utama dan rute-rute yang sama dengan maskapai biasa. Dapat dibayangkan bahwa mereka berhadapan dengan struktur biaya yang sama dengan maskapai biasa namun memberikan harga yang yang lebih murah. Tentu saja margin yang mereka dapatkan akan semakin menipis. Walaupun begitu, tingginya demand untuk penerbangan yang murah menyebabkan banyak pemain baru bermunculan. Hasilnya, industri penerbangan komersial di Indonesia saat ini menjadi industri yang berdarah-darah karena para pemainnya terpaksa melakukan efisiensi habis-habisan agar dapat bertahan memberikan harga tiket yang murah. Saya sendiri agak pesimis mengenai hal ini. Apabila mereka tetap bertahan dengan beroperasi di bandara utama di kota besar, bisa kita bayangkan mahalnya biaya operasional mereka seperti biaya sewa hanggar, ground handling, dan lain-lain.

Kehadiran Susi Air ini sangat menarik perhatian saya karena menawarkan sesuatu yang berbeda. Susi Air menggunakan pesawat-pesawat kecil dalam operasinya dan memilih rute-rute yang selama ini belum dilayani oleh maskapai lain. Seandainya pun mereka beroperasi di kota besar, sebisa mungkin mereka tidak memilih bandara utamanya. Di Jakarta, Susi Air memilih bandara Halim Perdanakusuma dan bukan Soekarno-Hatta. Dengan demikian biaya operasionalnya akan semakin rendah. Satu lagi yang pasti, tidak semua orang hidup di kota besar dan Susi Air yang melayani rute-rute ke kota kecil dan pedalaman akan mendapatkan pasar yang cukup besar karena tidak banyak memiliki pesaing di sana. Contoh rutenya antara lain: Jakarta – Cilacap, Jakarta – Pangandaran, Medan – Kutacane, Tarakan – Malinau, Kupang – Larantuka, dan Nabire – Biak. Penerbangan melalui rute-rute tesebut dapat dilakukan karena Susi Air memiliki pesawat-pesawat berukuran kecil seperti Cessna Caravan, Piaggio Avanti, dan Pilatus yang tidak membutuhkan landas pacu yang panjang.

Tajamnya insting bisnis dari pasangan ini juga terlihat dari layanan carter yang mereka berikan:

  • Individual and Executive Charters. Layanan carter untuk hampir seluruh bandara di Indonesia dan negara-negara sekitarnya.
  • Survey flights. Layanan carter pesawat untuk survey dan dipandu oleh pilot yang berpengalaman untuk survey.
  • Freight services. Layanan kargo untuk keadaan darurat.
  • Flight training center di Pangandaran.
  • Surf charters. Layanan pengantaran para surfer ke tujuan-tujuan surfing yang sulit dijangkau oleh pesawat-pesawat berukuran besar.

Layanan-layanan tersebut masing-masing memiliki niche tersendiri dan memberikan competitive advantage yang cukup besar bagi Susi Air. Dengan kelebihan-kelebihan yang dimilikinya, Susi Air bukannya tidak memiliki kelemahan. Pilihan rute penerbangan ke kota-kota kecil berpotensi untuk menimbulkan permasalahan, terutama yang terkait dengan Pemda setempat. Hal ini merupakan tantangan yang bila berhasil dilalui akan menjadikan Susi Air sebagai maskapai yang “wonderful”.

Bagi kita investor, jenis bisnis seperti yang dimiliki oleh Susi Air ini merupakan salah satu jenis bisnis yang sangat layak untuk dilirik karena memiliki competitive advantage yang sangat kuat. Sayangnya mereka tidak listed di BEI🙂.

2 thoughts on “Susi Air: Sebuah Niche yang Sempurna

  1. Saya pernah lihat ulasan dan wawancara Bu Susi di Kick Andy beberapa tahun yang lalu (temanya saat itu tentang para wirausahawan/ti yang memulai bisnis dari nol hingga mencapai posisi tinggi–from zero to hero, bersama dgn Pemilik Ouval dan Tela-Tela) dan saya sangat terkesan dengan gaya dan cara beliau merintis dan membawa beberapa usahanya survive dan berkembang hingga seperti sekarang. Minimal dari sudut pandang valuasi People/Pengelola, kita sebagai investor akan merasa aman jika mengetahui sebuah perusahaan dikelola oleh orang2 jujur dan gigih, serta tak pernah berhenti berinovasi dalam rangka memberi yang terbaik untuk kemaslahatan usaha dan orang2 disekitarnya, seperti beliau. Nice Article, Pak.

  2. Memang ibu ini seorang pengusaha yang sangat jeli dan pekerja keras, sayang managemen susi air sangat buruk, apabila bisnis kita bagus tapi managemen sangat buruk hanya tinggal menungu waktu bisnis tersebut hancur

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s