Gallery

Menghindari Potensi Kebangkrutan Perusahaan dengan Altman Z-Score

Tidak ada satu pun perusahaan yang terhindar dari risiko kebangkrutan. Tidak ada bisnis yang bisa berjaya selamanya. Kombinasi dari melemahnya prospek industri ke depan digabungkan dengan mismanagement dapat berakibat fatal bagi suatu perusahaan. Potensi kebangkrutan akan semakin menguat manakala ekonomi berada di ambang resesi. Melemahnya daya beli masyarakat akan menguji kokohnya suatu perusahaaan.

Sebenarnya dengan melakukan analisis secara mendalam terhadap keuangan, tanda-tanda melemahnya kondisi fundamental perusahaan dapat terlihat. Walaupun begitu, apabila tidak tersandardisasi, jika 10 orang membuat analisis potensi kebangkrutan suatu bisnis, maka akan muncul juga 10 hasil analisis yang berbeda. Belum lagi apabila penggunaan rasio-rasio yang jika dipergunakan secara bersamaan terkadang memberikan hasil yang saling bertentangan.

Pada tahun 1968, Edward. I Altman memberikan formula yang berfungsi untuk memprediksi potensi kebangkrutan suatu perusahaan. Altman mempergunakan angka-angka di dalam laporan keuangan dan merepresentasikannya dalam suatu angka, yaitu Z-Score yang dapat menjadi acuan untuk menentukan apakah suatu perusahaan berpotensi untuk bangkrut atau tidak. Output tunggal ini juga dapat membantu memecahkan kebuntuan apabila kita mencoba untuk menganalisis berbagai rasio yang terkadang penafsirannya saling bertentangan.

Formula untuk mendapatkan Altman Z-Score adalah sebagai berikut:

Z-Score = 1.2T1 + 1.4T2 + 3.3T3 + 0.6T4 + 0.999T5

Di mana:

T1 = Working Capital / Total Assets

T1 bertujuan untuk mengukur besarnya aset likuid apabila dibandingkan dengan keseluruhan aset yang dimiliki. Pemikiran ini didasarkan dari pengamatan Altman terhadap current ratio dan acid ratio yang kurang baik untuk memprediksi kebangkrutan.

T2 = Retained Earnings / Total Assets

Parameter ini berguna untuk mengukur apakah laba secara kumulatif mampu untuk mengimbangi jumlah aset.

T3 = Earnings Before Interest and Taxes / Total Assets

Parameter ini berguna untuk mengukur profitabilitas suatu bisnis tanpa memandang seberapa besar utang dari perusahaan.

T4 = Market Value of Equity / Total Liabilities

Parameter ini berguna untuk mengukur tingkat leverage dari suatu perusahaan. Utang yang terlampau besar akan berbahaya bagi kelangsungan perusahaan, terutama apabila di belakangnya terdapat bunga yang harus dibayar.

T5 = Sales/ Total Assets

Disebut juga dengan assets turnover dan biasanya dipergunakan untuk mengukur tingkat efisiensi suatu bisnis dalam memanfaatkan aset yang dimiliki. Karena nilai assets turnover berbeda-beda untuk tiap-tiap industri, kita harus lebih bijak dalam menafsirkan angka ini.

Penafsiran dari nilai Z yang didapatkan adalah sebagai berikut:

Z-Score > 3,00 – Berdasarkan laporan keuangan, perusahaan dianggap aman

2,70 ≤ Z-Score <  2,99 – Terdapat kondisi keuangan di suatu bagian yang membutuhkan perhatian khusus

1,80 ≤ Z-Score < 2,70 – Ada kemungkinan perusahaan akan mengalami kebangkrutan dalam 2 tahun ke depan

Z < 1,80 – Perusahaan berpotensi kuat akan mengalami kebangkrutan

Contoh penggunaan Altman Z-Score adalah sebagai berikut:

Terlihat bahwa Z-Score untuk ASII adalah 3,99. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa ASII berada pada posisi yang cukup aman dari potensi kebangkrutan.

Mari kita coba dengan contoh lain. Kali ini kita akan mencari Z-Score dari APOL.

Kontras dengan ASII, Z-Score dari APOL adalah 0,12. Hal ini menandakan bahwa APOL berada dalam permasalahan yang amat serius. Secara kasat mata, terlihat bahwa modal kerja (working capital) APOL negatif yang menunjukkan bahwa terdapat permasalahan likuiditas. Selain itu, retained earnings yang negatif menandakan bahwa APOL dari tahun ke tahun tidak dapat menghasilkan laba. Apabila kondisi ini terus dibiarkan, bukan tidak mungkin ekuitas APOL akan bernilai negatif. Satu hal lagi yang penting untuk diperhatikan adalah besarnya utang APOL apabila dibandingkan dengan nilai ekuitasnya. Dengan kondisi seperti itu, tidaklah heran APOL dikatakan berisiko untuk bangkrut walaupun tetap diperlukan analisis yang lebih mendalam terhadap kondisi keuangannya.

Altman Z-Score ini dapat menjadi wahana kontrol bagi kita sebelum mulai berinvestasi pada suatu saham. Tentu saja Altman Z-Score ini memiliki beberapa keterbatasan. Formula Z-Score tersebut tidak dapat diterapkan pada semua industri. Sebagai contoh, industri di mana jumlah utang yang besar merupakan hal yang normal seperti industri utilitas dan infrastruktur akan mendapatkan Z-Score yang sangat rendah. Selain itu, Altman Z-Score ini juga tidak cukup kuat untuk memprediksikan kondisi perusahaan-perusahaan non-manufaktur di mana nilai Sales/Total Assets pada industri ini secara normal jauh lebih besar daripada perusahaan manufaktur. Oleh karena itu terdapat kemungkinan terdapat bias pada hasil pengukuran Z-Score.

Modifikasi Altman Z-Score

Untuk mengantisipasi kelemahan dari formula asli Altman Z-Score, ada beberapa solusi yang ditawarkan. Untuk perusahaan pribadi, kita tidak bisa menghitung market value of equity. Oleh karena itu dilakukan perbaikan formula sebagai berikut:

Z-Score = 0.717T1 + 0.847T2 + 3.107T3 + 0.420T4 + 0.998T5

Terdapat sedikit perubahan pada nilai T4 di mana T4 = book value of equity/liabilities. Sedangkan penafsiran hasil Z-Score yang didapatkan adalah sebagai berikut:

Z-Score > 2,90 – Berdasarkan laporan keuangan, perusahaan dianggap aman

1,23 ≤ Z-Score <  2,90 – Terdapat kondisi keuangan di suatu bagian yang membutuhkan perhatian khusus

Z < 1,23 – Perusahaan berpotensi kuat akan mengalami kebangkrutan

Untuk perusahaan non-manufaktur, formulanya dimodifikasi menjadi sebagai berikut:

Z-Score = 6.56T1 + 3.26T2 + 6.72T3 + 1.05T4

Terlihat bahwa T5 dihilangkan untuk menghilangkan bias assets turnover seperti yang dijelaskan sebelumnya. Penafsiran hasil Z-Score adalah sebagai berikut:

Z-Score > 2,60 – Berdasarkan laporan keuangan, perusahaan dianggap aman

1,1 ≤ Z-Score <  2,60 – Terdapat kondisi keuangan di suatu bagian yang membutuhkan perhatian khusus

Z < 1,1 – Perusahaan berpotensi kuat akan mengalami kebangkrutan

Walaupun Z-Score ini secara umum cukup bagus dalam melindungi kita dari berinvestasi pada perusahaan-perusahaan yang berpotensi untuk mengalami kebangkrutan, kita harus pandai-pandai menafsirkan nilainya apakah relevan dengan nature dengan kondisi industri di mana perusahaan berada.

39 thoughts on “Menghindari Potensi Kebangkrutan Perusahaan dengan Altman Z-Score

  1. T2 = Retained Earnings / Total Assets . pak gimana cara nyari Retained Earnings ini, apakah sudah ada di laporan keuangan spt FT.com atau kita itung sendiri ? klo itung sendiri gimana perhitungannya ?
    terima kasih atas penjelasan Altman Z-Score nya

  2. slam…
    btw apa c kelebihan z-score bila dibanding alat prediksi lain?? faktor apa saja yg membuat persamaan z-score dapat diterapkan di Indonesia, secara dhlu ditemukan di AS.tengkyu

  3. @doni
    retained earnings pasti disebutkan di laporan keuangan

    @sofie
    pembandingnya apa?
    z-score lumayan juga kok. Paling tidak secara relatif akan terlihat emiten mana yang lebih berisiko.

  4. bapak,saya mau menanyakan ttg kalimat: “industri di mana jumlah utang yang besar merupakan hal yang normal seperti industri utilitas dan infrastruktur akan mendapatkan Z-Score yang sangat rendah.”
    Jumlah utang yang besar pada industri utilitas dan infrastruktur adalah hal yang normal, alasannya apa ya pak?

    Apakah pernyataan bahwa lembaga keuangan (bank dan non bank) juga normal apabila mempunyai utang besar juga pernyataan yang benar,pak?semakin besar utang lembaga tersebut, maka semakin baik.

    Terima kasih sebelumnya pak, saya sekarang baru tahap pengerjaan skripsi dan masih bingung perihal tersebut.

  5. @dedi
    biasanya perusahaan pada kedua industri tersebut memiliki earning power yang sangat kuat. jarang sekali revenuenya turun.
    Kalau bank memang secara alami utangnya besar karena tabungan nasabah dianggap sebagai utang. Kalau lembag keuangan non bank belum tentu seperti itu.

  6. pak saya mau menanyakan tentang modifikasi altman z-score untuk perusahaan non manufaktur dikatakan di atas bahwa T5 dihilangkan untuk menghilangkan bias assets turnover.
    maksudnya menghilangkan bias assets turnover itu bagaimana ya?
    saya masih kurang jelas..

    mohon penjelsannya pak karena saat ini saya sedang proses penyusunan skripsi.
    trima kasih..

  7. @atie
    Pada perusahaan non manufaktur, umumnya mereka menawarkan service dan bukan menjual barang. Nilai T5 menggambarkan assets turnover yang filosofinya adalah memahami seberapa efisien aset yang dimiliki dapat memberikan pendapatan. Pada perusahaan service, fixed asset biasanya tidak berhubungan langsung dengan pendapatan. Misalnya, apabila perusahaan menambah satu buah kantor, tidak secara otomotis pendapatannya akan naik. Lain halnya dengan perusahaan manufaktur. Apabila kapasitas mesin ditambah sebesar X%, maka pendapatan pun akan naik sebesar X%. Oleh karena itulah pada perusahaan manufaktur, nilai assets turnover seringkali tidak memberikan informasi yang cukup berarti.

  8. pak mw tanya, apa latar belakang munculnya altman z-score. kmudian apa beda antara z-score dan z-model. yg saya tahu altman merivisi formulanya. kira2 kenapa altman merevisi formulanya? thanks

  9. terimakasih sblmnya, artikel ini sangat membantu. Saya mau nanya, itu koefisien dr berbagai formula seperti 1.2T1+ dll itu 1.2 nya dapet drmna ya? Apa sudah given? Dan klo prshn non manufaktur contohnya apa saja ya. Thx sblmnya.

  10. @erwin
    altman z-score digunakan untuk mengukur potensi kebangkrutan. Formula direvisi untuk bisa diterapkan pada industri yang lebih luas

    @carissa
    setahu saya koefisien itu hasil penelitian dan bersifat empiris.

  11. saya mau nanya ttng rumus altman yang cocok pada perusahaan manufaktur yang go public biasanya ada yang pakai model pertama apakah harus yang model revisi apa model yang pertamaa
    terima kasih sebelumnya

  12. ma’af sya mau tanya, untuk koefisien yang terdapat di persamaan altman z-score itu apakah dapat disesuaikan dengan kondisi ekonomi di Indonesia saat ini?
    mohon bantuannya ya…:-)
    terimakasih

  13. maaf, maksud saya market value of equity.. apa itu tertera dalam neraca? apa EBIT yg dipakai benar-benar dari operating income, bukan setelah ditambahkan pendapatan lain dan dikurangi beban lain selain bunga dan pajak tentunya.. saya mohon masukannya terimakasih

  14. Saya mau tanya tentang rumusan Z-score ini Pak, khususnya untuk APOL. Sebenarnya bagaimana perhitungan dari retained earnings, EBIT, Market value of equity, dan total liabilities? Karena waktu saya cocokkan dengan perhitungan saya, kok terdapat perbedaan. Mohon penjelasannya. Terima Kasih🙂

  15. apakah kalian semua uda mengetahui bagaimana mencari markety value of equity????
    dan itu bisa di lihat d man yah???
    mhoonn bantuannya yahhh..

  16. Pak tanya, bapak tadi menjelaskan kalau T5 harus dihilangkan untuk diterapkan pada perusahaan non manufaktur, karena penambahan ruangan tidak serta merta berpengaruh terhadap pendapatan..kalau saya terapkan pada perusahaan perbankan misalnya, perusahaan perbankan menginvestasikan modalnya dengan membangun cabang baru dikota lain, logikanya, dengan penambahan cabang baru dapat berpengaruh terhadap pendapatan pak? ini berarti perhitungan dengan menggunakan T5 masih diperlukan dong?Mohon petunjuknya.terimakasih

  17. Kalau begitu, secara spesifik, untuk perhitungan Z score yang bapak rumuskan untuk non manufaktur itu bisa diterapkan pada perusahaan apa misalnya?
    Selain itu atas dsar perhitungan apa saja rumusan Z-score bisa bapak modifikasi? kalau bisa membuat modifikasi baru seperti saat ini, mungkin bapak bisa mempertimbangkan perumusan baru Z-score lagi, dengan menambahkan variabel-variabel yang mungkin muncul pada perusahaan perbankan. Karena memang sepertinya belum kompatibel dengan perusahaan perbankan

  18. Ok pak, terima kasih.
    Saya sudah beli buku bapak, cukup bagus. Pembahasan untuk rumus Altman dibuku bapak, sama persis dengan postingan diatas.
    Kesimpulan sementara saya, rumus Altman non Manufaktur yang baru masih belum kompatibel dengan perbankan.

  19. Salam kenal dulu ya mas sebelumnya,

    trs syarat LK seperti apa yang bisa menggunakan metode Z-Score,

    saya punya LK koperasi 5 tahun,
    saya skrg lagi dalam penyusunan skripsi pak,

  20. pak,bagaimana perhitungan untuk perusahaaan telekomunikasi..apakah masuk ke perusahaan non manufaktur?/lalu bagaimana perhitungan Z Score nya?terimakasih sebelumnya/..

  21. pak,saya mau tanya,market value of equity untuk contoh perusahaan ASII di atas = 140.465.600. untuk mendapatkan angka tersebut,jumlah saham beredar dan harga saham nya dapat dilihat dmn ya? apakah di LK ada? trims.

  22. Pingback: Ratio and Valuation Sheet v1.2 | Pojok Ide Investasi

  23. pak parahita, saya mau tanya pak bagaimana cara altman mendapatkan koefisien dari setiap rumus nya?
    saya mohon bantuan nya pak untuk bahan skripsi

  24. pak parahita… ada beberapa model prediksi kebangkrutan yang ditemukan di luar negeri seperti model altman, springate, fulmer, CA score, dll. apakah model tersebut relevan jika digunakan untuk memprediksi kepailitan di Indonesia dengan kondisi market Indonesia dan pasar asing yang berbeda. apakah koefisien model2 tresebut perludisesuiakna kembali jika dgunakan untuk melakukan prediksi di indonesia?
    mohon balasannya untuk menambah informasi penyusunan skripsi saya. Terima kasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s