Gallery

GARP: Menggabungkan Value Investing dengan Growth Investing

Ketika kita berbicara mengenai value investing, yang terbayang adalah membeli saham yang dijual dengan harga yang lebih murah dibandingkan dengan value-nya. Value investing ibaratnya adalah seperti membeli barang diskon di supermarket. Setiap harinya, supermarket akan me-rolling barang-barang yang didiskon. Jika kita jeli, kita bisa mendapatkan barang dengan harga yang cukup murah. Permasalahan dari value investing adalah, saham yang terdiskon seringkali bukan saham dengan bisnis terbaik. Saham dengan kondisi keuangan dan prospek pertumbuhan laba yang bagus biasanya dijualdi harga premium dan jarang sekali dijual murah kecuali terjadi crash di market.

Growth investing memiliki sudut pandang yang berbeda dari value investing. Seorang growth investor akan melihat saham dari sudut pandang potensinya untuk tumbuh di masa mendatang. Growth investor sangat menyadari bahwa saham-saham seperti itu hampir selalu dijual dengan harga yang sangat mahal karena market telah memperhitungkan potensinya di masa mendatang. Selama laba tetap tumbuh dengan pesat, harga akan terus naik. Jebakan fatal dari strategi ini adalah ketika harga mencerminkan potensi pertumbuhan yang sangat jauh di atas kemampuan normal suatu bisnis. Sebagus-bagusnya bisnis, amat jarang terjadi laba dapat tumbuh 100% per tahun secara konsisten selama lebih dari 5 tahun. Jika kita market melakukan priced-in berdasarkan pertumbuhan yang terlalu tinggi, harga akan meroket tanpa ditopang oleh kondisi fundamental bisnis yang kuat.

Munculnya GARP (Growth at Reasonable Price) sendiri merupakan solusi dari kelemahan dari kedua strategi investasi tersebut. Konsep dasar dari GARP adalah mencari saham-saham yang memiliki potensi untuk tumbuh namun dijual dengan harga yang sewajarnya. GARP sendiri tidak mengharuskan membeli saham yang terdiskon banyak. Menemukan sebuah bisnis cemerlang yang berpotensi untuk tumbuh dalam jangka panjang dan dijual dengan harga wajar merupakan sasaran dari GARP.

Saat kondisi market memburuk, growth stocks biasanya merupakan saham yang paling parah mengalami penurunan harga. Terlebih lagi apabila kondisi ekonomi menyebabkan pertumbuhan labanya tidak setinggi yang diharapkan. Sebaliknya, pada saat market bullish, value stock akan naik lebih lambat daripada kenaikan pasar dan menyebabkannya menjadi laggard. GARP stock akan bergerak di antara kedua jenis saham tersebut pada kondisi bullish maupun bearish.

Karakteristik masing-masing strategi investasi sedikit banyak dapat digambarkan pada grafik berikut:

Sumber: Indian Value Investors

Salah satu pengikut dari GARP ini adalah Peter Lynch yang terkenal dengan PEG ratio-nya. Lynch akan dapat mentoleransi saham yang dijual pada PER yang tinggi selama potensi pertumbuhannya dapat menjustifikasi tingginya PER tersebut. Kondisi yang lebih ideal didapatkan apabila saham tersebut memiliki bisnis yang bagus. Dalam hal ini, Warren Buffett bisa digolongkan sebagai investor GARP juga. Didikan dari Ben Graham memang membentuk Warren Buffett sebagai value investor yang tangguh. Namun rekannya, Charlie Munger-lah yang berhasil ’menuntun’ Buffett untuk mempertimbangkan prospek jangka panjang dari suatu bisnis dan bukan hanya karena murahnya ketika akan membeli suatu saham.

Tentu saja strategi GARP ini tidak semata-mata bergantung pada PEG ratio. Investor GARP memandang bahwa pertumbuhan yang bagus hanya dapat dihasilkan jika kondisi keuangannya solid. Yang termasuk dalam kriteria tersebut antara lain adalah struktur permodalannya. Utang yang terlalu besar akan berpotensi menggulingkan kapal portfolio kita saat angin berbalik arah. Selain itu, ROE yang cukup tinggi merupakan indikator lain yang bisa dijadikan pedoman untuk menemukan saham GARP.

Market cenderung memberikan perhatian yang sangat besar terhadap saham/sektor yang labanya melonjak tajam dan seringkali bersikap over reaktif terhadap kenaikan tersebut. Akibatnya sudah bisa ditebak, saham-saham tersebut akan menjadi primadona dan kita tidak akan bisa mendapatkannya di harga wajar karena semua orang menginginkannya.

GARP stocks biasanya dapat ditemui di sektor-sektor yang sedang dilupakan oleh pasar. Saham-saham tersebut mungkin jarang muncul di list ‘most active stock’ dan hal tersebut adalah hal yang bagus apabila kita hendak berinvestasi dalam jangka panjang. Harga sahamnya akan di-drive naik secara terkendali seiring dengan pertumbuhan labanya.

Siap menjadi investor GARP?

6 thoughts on “GARP: Menggabungkan Value Investing dengan Growth Investing

  1. Siap Boss… kayanya proses mencari GROWTH STOCKS akan menjadi proses yg paling menarik dlm investasi di bursa saham, request juga donk cara menilai Laporan Keuangan Bank serta harga wajarnya…!!! Makasih

  2. mau tanya pak…apakah bisa diidentikan GARP dengan P/E yg rendah(biasanya klo saya di bawah 10), ROE yg tinggi and konsisten serta DER yg rendah……

  3. @ayahamel
    untuk banking ditunggu ya

    @aneka
    nanti saya kasih contoh cara memilih saham GARP

    @badi
    ROE kalau bisa di atas 20% pak. Kalau di bawah itu not worthed kita investasi di saham tersebut.

    @adri
    ada satu elemen yang terlupa: growth. Selama growth masih bisa menjustifikasi tingginya PER, tidak ada masalah. Namun memang tidak disarankan apabila PER lebih dari 30x karena terlalu berisiko.

  4. Pingback: Saham-Saham Pilihan 2012 (Bag. 1): Hasil Screening dengan Metode dari Peter Lynch | Pojok Ide Investasi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s