Gallery

Berburu Perusahaan Yang Solid (Bagian 2)

Sumber:

Pada artikel sebelumnya, saya menulis bagian pembuka mengenai bagaimana menemukan perusahaan yang solid. Sebenarnya sudah ada artikel yang membahas mengenai proses screening ini di antaranya adalah artikel mengenai metode screening Ben Graham. Graham memberikan kriteria screening yang sangat ketat. Pada kondisi market normal, akan sangat sulit menemukan perusahaan yang bisa lolos dari filternya. Kita akan menemukan banyak saham yang memenuhi krtiteria Graham ketika market drop dengan tajam (yang jarang terjadi). Yang ingin saya tekankan pada pembahasan ini adalah usaha untuk memahami apakah suatu perusahaan dapat dikatakan tangguh.

Mari kita bayangkan bahwa saham mewakili kepemilikan atas sebuah bisnis (dan memang itulah yang sebenarnya). Baca laporan keuangan atau laporan tahunannya dan coba posisikan diri kita sebagai orang yang ditawari untuk berinvestasi ke dalam sebuah bisnis. Kita akan melihat bagaimana sebuah perusahaan itu dikelola. Pada laporan tahunan, kita bisa melihat bagaimana cerita asal mula berdirinya suatu perusahaan sampai dengan saat ini. Pihak manajemen akan memaparkan apa saja rencana-rencana untuk ekspansi di masa mendatang.

Apa yang Anda bayangkan saat mengetahui bahwa dari tahun ke tahun perusahaan dapat menghasilkan laba yang konsisten dan terus meningkat? Wow, tentu sangat menarik. Bagi saya sendiri agak ragu juga apabila laba perusahaan tersebut naik turun. Akan lebih susah untuk memprediksi bahwa perusahaan tersebut akan memberikan keuntungan terus menerus pada kita. Jika kita membaca laporan keuangan lebih lanjut, kita akan mengetahui bagaimana perusahaan memperoleh modalnya. Berapa besar dana yang dikeluarkan oleh kantong investor untuk menjalankan bisnisnya (equity) dan berapa besar modal yang diperoleh dengan berutang (debt). Sebenarnya sama saja dengan kita ketika akan membuka usaha. Jika uang kita tidak cukup, biasanya kita akan berusaha memperoleh pinjaman. Tentu kita berharap bahwa cash flow dari usaha kita akan dapat menutup cicilan pembayaran pokok beserta bunganya. Jika bisnis kita ternyata tidak berkembang, maka suatu saat usaha kita bisa bangkrut karena sudah tidak ada uang yang tersisa. Jika kita berani mengambil risiko lebih besar, kita akan mencoba meminjam uang lagi agar bisnis dapat terus berjalan. Kalau berhasil, kita akan dapat menutup utang kita. Namun tentu saja beban kita akan bertambah berat karena cicilan pinjaman yang harus dibayar semakin besar. Artinya, kita harus bisa menjual produk kita lebih banyak lagi.  Hal tersebut sama persis dengan apa yang dialami oleh suatu perusahaan. Oleh karena itu, saya lebih menyukai perusahaan yang walaupun dengan utang yang kecil namun mampu untuk menghasilkan keuntungan.

Ketika melihat suatu bisnis, tentu kita ingin mengetahui berapa persen modal kita kembali setiap tahunnya. Jika kita berinvestasi sebesar 50 juta rupiah dan setiap tahun keuntungan yang kita dapatkan adalah 10 juta rupiah, maka keuntungan dari usaha kita adalah 20% (10 juta/50 juta). Dalam lima tahun, modal kita sudah akan kembali. Persentase keuntungan tersebut biasa disebut dengan Return on Equity (ROE). Semakin kecil ROE, semakin lama modal kita akan kembali dan bisnis tersebut akan terlihat kurang menguntungkan.  Kembali ke kasus tersebut. Jika pemilik usahanya ternyata ingin menjual kepemilikannya kepada kita, kemungkinan besar dia akan menjual dengan harga yang lebih mahal daripada modal yang telah dia tanamkan (dalam hal ini 10 juta). Mungkin dia akan menawarkan bisnisnya pada kita seharga 75 juta. Hal ini cukup masuk akal mengingat bisnisnya berjalan dengan baik dan akan memberikan keuntungan pada kita di masa-masa mendatang. Jika kita setuju, maka keuntungan per tahun kita akan menurun menjadi 10 jt / 75 jt = 13,3%. Jika kita masih merasa bahwa dengan tingkat keuntungan sebesar itu bisnisnya masih layak boleh saja kita membelinya. Tingkat keuntungan tersebut biasa disebut dengan Earnings Yield atau Earnings to Price. Jika kita balik menjadi Price to Earnings, maka kita akan mendapatkan apa yang disebut dengan PER. Semakin besar PER, semakin lama modal kita akan kembali.

Jika semudah itu, lalu mengapa ada saham yang dijual dengan PER yang tinggi sementara ada saham lain yang dijual dengan PER yang rendah? Tampaknya ada sesuatu yang kurang pada kasus kita. Jika suatu bisnis kita berkembang, maka laba yang kita peroleh juga akan terus meningkat dari tahun ke tahun. Artinya, dengan PER yang sama saat ini, perusahaan yang labanya terus meningkat, di masa mendatang akan semakin mengecil PER nya. Dengan kata lain, Earnings Yield atau laba dari modal kita semakin besar. Hal yang berbeda akan terjadi pada perusahaan dengan laba yang konstan dari tahun ke tahun. PER nya akan selalu tetap dan dengan demikian di masa mendatang PER nya akan lebih besar daripada perusahaan yang labanya terus meningkat. Peningkatan laba ini kita sebut dengan growth (tingkat pertumbuhan). Perusahaan yang prospek growth-nya lebih tinggi biasanya akan memiliki PER yang lebih tinggi pula. Namun perlu diingat bahwa belum tentu perusahaan dengan PER yang tinggi memiliki growth yang tinggi pula. Inilah uniknya pasar modal. Seringkali perusahaan yang bisnisnya biasa-biasa saja dengan growth yang rendah dihargai dengan PER yang tinggi. Perusahaan dengan growth yang bagus malah dihargai dengan PER yang rendah. Sungguh unik dan bisa berpotensi memberikan keuntungan bagi kita apabila kita jeli🙂

Kunci dari suatu perusahaan yang solid adalah stabilnya pertumbuhan laba dan jika pertumbuhan tersebut diperoleh dengan membutuhkan utang yang kecil akan jauh lebih baik lagi. Mari kita lihat salah satu contohnya:


Dari tahun ke tahun, penjualan dan laba bersih perusahaan terus meningkat. Dan saya sangat menyukai perusahaan seperti ini. Ingin tahu apa saja perusahaan yang mampu tumbuh secara konsisten seperti perusahaan di atas?

Ingin beli? Tunggu dulu. Saya baru bicara tentang konsistensi pertumbuhan laba dan kecilnya utangnya lho🙂 Saya belum bicara mengenai harganya, PER nya dll. Mengenai harganya apakah wajar mungkin bisa memakai metode ini.

Walaupun begitu, tentu sangat menarik untuk mengulas lebih lanjut perusahaan-perusahaan di atas. Saya persilakan saja rekan-rekan untuk mencoba menganalisanya. Tidak perlu di broadcast. Simpan untuk diri Anda sendiri dan mudah-mudahan akan dapat memberikan keuntungan di masa depan🙂

14 thoughts on “Berburu Perusahaan Yang Solid (Bagian 2)

  1. lagi berusaha mengikuti gan. saya coba menyelusuri perhitungan utk SMGR dng data keuangan dari FT.com. Utk DER-nya dapat, tapi utk ROE kok beda tipis di belakang koma ya? Utk SMGR ROE saya hitungnya:

    ROE = Net Income After Taxes / Total Equity

    Koreksiannya dong gan. thanks🙂

  2. DER yang tinggi alan menyulitkan perusahaan saat kondisi bisnis memburuk. Mereka akan mengalami kesulitan untuk maintain cash flow. Akan tetapi memang saat kondisi bisnis bagus, utang akan mendorong bisnisnya.

  3. Utang banyak tidak apa-apa asalkan disertai dengan Net Income yang terus naik. Contoh saja INDF DER 1.39
    Saya pikir untuk INDF dengan penjualan yang terus meningkat tidak apa-apa dengan DER setinggi itu. Asalkan utangnya tidak melebihi total asset. Kalau utang melebihi aktiva lancar itu sudah harus hati-hati karena perusahaan sudah tidak liquid dalam jangka pendek. Nah pertahanan terakhirnya adalah total asset.

  4. dear p’ Parahita, p’ Candra,

    Tq sharing nya.

    Melihat situasi ekonomi China saat ini yang memperketat ekonominya diantaranya menaikan reserve ratio bank dan kemungkinan menaikkan interest ratenya untuk meredam inflasi nya yg terus menaik, berarti harus ekstra hati2 untuk saham2 komuditas yaa Pak karena bisa permintaan China akan komuditas bisa menurun.
    Kemudian situasi ekonomi jg dihadapkan pada masalah utang Irlandia – Eropa.

    Di sisi lain kita diinformasikan banyaknya dana asing yang masuk ke negara kita.
    Bagaimana cara kita melihat net impact nya ke pasar saham kita..

    Untuk INDF sy lihat di reuters cara penulisan DER nya 139.35 berarti ini dalam % yaa Pak.

    Salam

  5. Kebijakan Quantitative Easing tahap 2 yaitu berupa 600 M $ bisa membuat perekonomian Asia hancur karena inflasi. 600 M uang baru ini dicetak oleh pemerintah America kemudian mereka buyback kembali surat utang mereka sama investor yang memegang bond tersebut. Ya mungkin sejenis Callable Bond yang issuer bisa lunasi sebelum jatuh tempo.
    Jika obligasi America telah dibayar lunas sebesar 600 M USD. Nah, 600 M ini dikhawatirkan lari ke Asia. Aset dan komoditas bisa naik terutama minyak.

    China mengetahui dampak yang akan ditimbulkan dengan munculnya Quantitative Easing ini yaitu melonjaknya komoditas dalam waktu ke depan terutama minyak. Jika minyak naik tentu akan memicu inflasi secara global. China akan menaikkan suku bunga 50 basis poin guna meredam inflasi. Maka dari itu sektor komoditas sempat anjlok dan minyak sempat terkoreksi karena China akan mengerem pertumbuhan ekonomi mereka.

    Sedangkan RI mencegah hot money yang masuk adalah dengan membuat SUN yang investasinya ke sektor infrastruktur.

    Asing memang masuk ke Indonesia tapi instrumen jangka pendek yang uangnya sewaktu-waktu bisa keluar. Asing tidak tertarik masuk investasi rill di Indonesia dikarena infrastruktur yang tidak mendukung. Jika mereka masuk ke sektor rill itu sangat baik sekali dampaknya. Kalau untuk pasar saham terus terang saya sudah jual seluruh portofolio saya. Karena saham-saham lapis 1 sudah mahal menurut saya. Ditambah lagi outlook 2011 yang masih abu-abu dan bayangan krisis Irlandia.

  6. @Candra
    Memang betul, QE2 ini akan membuat dana investasi membanjiri dunia. Sasaran utama saat ini adalah emerging market.

    Senjata pertama the Fed, interest rate sudah habis amunisinya karena interest rate sudah mendekati nol. Mau tidak mau mereka harus mengeluarkan senjata kedua, QE2.

    Untuk US sendiri, harapannya QE2 ini akan menggerakkan ekonomi. Yang perlu diwaspadai adalah risiko di baliknya. Dengan QE2, jumlah uang beredar akan meningkat tajam dan memicu inflasi serta penurunan nilai USD. Yang paling ditakutkan adalah terjadinya stagflasi di mana ekonomi tidak mau tumbuh namun inflasi terus meningkat. Hal tsb bisa menjadi malapetaka.

  7. Saya pikir kebijakan The Fed ini sangat berbahaya untuk negara kawasan Asia terutama negara yang sedang berkembang. The Fed bisa membuat perekonomian Asia hancur. Saya lihat ada upaya untuk menghancurkan ekonomi kawasan Asia.

    Perkembangan terbaru saat ini, Irlandia telah menyatakan meminta bantuan kepada IMF dan Uni Eropa. Next yang minta bantuan adalah Spanyol dan Portugal.

  8. QE2 = Peluru Moneter buat hancurkan Asia dan China secara ekonomi🙂
    Kalau tidak begitu Amerika yang hancur karena produk China menggerogoti pasar America. Selama ini America menuding China mengintervensi uang mereka sehingga selalu dalam kondisi undervalue. Saya juga tidak paham bagaimana cara menghitung uang dalam kondisi undervalue dan overvalue.
    Dengan diplomasi tidak bisa membuat China menaikkan suku bunga, baru lah QE2 dipakai untuk membuat China menaikkan suku bunganya.

  9. Pak, kalo mau cari data keuangan seperti di atas untuk 10 tahun terakhir untuk emiten di BEJ itu dimana ya pak?
    mohon sharenya

    thanks ya,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s