Gallery

SEKOLAH LAGI? Hmmmmm…..

Sumber

By: Philosophia Satriasari

T: Kamu gak pengen sekolah lagi lanjut ke SMA?kamu kan lumayan pinter dan rajin..trs kan kakak-kakakmu udah pada kerja semua..jd uang bukan masalah donk..

J: Enggak bu, males aku buk klo aku disuruh mikir lagi..lha wong temen2ku udah pada kerja semua kok, nggak enak klo sekolah nggak ada temennya..trs klo di kampungku yg nerusin sekolah milih sekolah ke kota…lebih bagus.klo sekolah di kampung percuma, mendingan kerja dapet duit…

(Dialog ini terjadi antara saya dengan asisten rumah tangga saya kemarin)

Saya ini sedang senang menggatuk-nggatukan bacaan saya dengan realitas yang ada di depan saya. Membaca Kompas 13 Oktober 2010 di bagian SOSOK tentang peraih Nobel Ekonomi 2010: Diamond, Mortensen, dan Pissarides yang ditulis oleh Simon Saragih. Diamond dan Mortensen adalah dua ekonom asal AS. Pissarides adalah warga Siprus kelahiran Nikosia dan sudah menjadi warga Inggris setelah meraih gelar doktor ekonomi di London School of Economics (LSE) pada 1974.

Diamond, yang pinter matematika dan kimia, ingin menemukan teori ekonomi yang tidak didasarkan pada keadaan masa lalu. Diamond menemukan teori friksi, menyebut keadaan dimana para pencari kerja tak puas dengan pekerjaan yang ada dan perusahaan tak bisa merekrut karyawan terbaik. Friksi itu mencakup soal ketidakpuasan individu akan pekerjaa, juga waktu memang diperlukan bagi para pencari kerja hingga menemukan lapangan kerja yang pas. Teori ini didalami lagi oleh Mortensen bersama istrinya, Beverly Mortensen, yang sama-sama mengajar di Northwestern University, Evanston, Illinois, AS. Di LSE, ada seorang yang gelisah dan ingin menemukan teori yang bisa diterapkan, yaitu Pissarides. Ketiganya melahirkan model bernama Diamond-Mortensen_Pissarides (DMP). Model ini menyebutkan santunan kepada penganggur turut membuat pencari kerja enggan bekerja karena toh ada kupon. “Seharusnya ada sanksi bagi para penganggur, yang mendapatkan kupon bantuan dari pemerintah, agar didorong bekerja setelah mendapatkan kupon selama periode tertentu,” kata Pissarides.

Bagaimana aplikasi dari teori mereka pada keadaan di Indonesia? Model DMP tidak saja berguna untuk urusan ketenagakerjaan, tetapi juga bidang lain dalam lingkup ekonomi. Kita bertanya mengapa tidak kunjung munculnya investor kelas kakap dari luar ke Indonesia, seperti China, padahal semua investor asing bicara soal potensi besar ekonomi yang dimiliki Indonesia? Ada friksi, sesuai teori friksi versi Diamond. Misal, investor asing yang sudah menjajaki keadaan di Indonesia merasa tidak diterima oleh Indonesia sebagaiman dikeluhkan investor Taiwan. Friksi lainnya, mereka tak menemukaninfrastruktur yang baik, pelayanan birokrasi yang baik, serta ketiadaan perusahaan pendukung yang bisa diandalkan.

Terus mengapa masih banyak orang miskin di Indonesia?Teori friksi bisa menjelaskannya. Karena sistem pendidikan yang tak pas dan semakin tak terjangkau oleh orang miskin, yang statusnya sosialnya sebenarnya bisa naik lewat pendidikan.

Kembali kepada obrolan saya dengan asisten saya di rumah, sebenarnya orang miskin di Indonesia masih ada pilihan untuk merubah nasibnya menjadi lebih baik daripada sekarang. Namun karena pola berpikir mereka yang masih terlalu sederhana, tidak mau bersusah-susah dengan agak berpikir lebih berat dari sekarang untuk mendapatkan hasil yang lebih baik di kemudian hari, dan memiliki konformitas dengan kelompoknya yang sangat tinggi, membuat mereka tetap berada di tingkat pergaulan, wawasan dan konsumsi di level itu-itu saja alias rendah. Status sosial mereka tidak akan berubah naik karena mereka tidak ingin berusaha untuk merubahnya.

Dari sekilas teori DMP di atas disebutkan bahwa pendidikan adalah jalan yang tepat untuk merubah status sosial mereka menjadi orang yang sukses dan tidak miskin. Celakanya, banyak sekali orang-orang miskin di Indonesia yang berpendidikan sangat rendah dan culture mereka membuat mereka tetap memilih dengan predikat seperti ini. Paradigma mereka bahwa pendidikan itu hanyalah kebiasaan pergi ke sekolah untuk formalitas mendapatkan pendidikan yang sangat dasar, yang penting bisa baca dan tulis itu sudah cukup. Tuntutan hidup mereka yang lebih penting seperti kebutuhan hidup sehari-hari untuk makan dan minum akhirnya membuat mereka melupakan untuk melanjutkan ke pendidikan yang lebih tinggi. Ditambah lagi anggapan bahwa belum tentu mereka yang berpendidikan tinggi bisa sukses dan kaya di dunia nyata. Dan selama ini mereka hidup di lingkungan yang belum ada ceritanya (bahasa kerennya success story) si Sugeng ini sukses dan kaya karena dia sekolahnya sampai sarjana hukum lho…atau mungkin si Tejo sekarang sudah jadi Dokter Spesialis terkenal dan kaya karena dia sekolah di fakultas kedokteran. Mereka masih melihat dan berpikir bahwa mana mungkin hanya dengan sekolah yang tinggi mereka bisa jadi orang yang tidak miskin. Jadi semuanya masih berbasiskan pada bekerja keras dengan otot dan keringat.

Kita seringkali lupa bahwa pendidikan itu bukanlah sekedar untuk mencari ilmu dan pengetahuan. Tetapi justru kita juga akan mendapatkan bonus wawasan, pergaulan dan akses kepada institusi-institusi (sekolah, pemerintah, perusahaan, yayasan, dll.), yang tidak dapat dinilai dengan uang. Nah hal-hal tersebut itu tidak akan kita dapat jika sekolah hanya pada level Sekolah Dasar. Makin tinggi level pendidikan kita maka wawasan dan pergaulan akan bertambah, dan akses kepada institusi-institusi yang besar akan makin terbuka lebar.

Ilustrasi yang gampang seperti ini. Si Tina pembantu Rumah Tangga tidak akan berubah profesinya jika dia hanya seorang lulusan SD. Sehari-hari dia kerjanya membersihkan dan mengurus rumah majikannya, dari pagi sampai malam. Sampai dengan masa kerja 7 tahun, dia memutuskan untuk berhenti bekerja karena menikah dengan teman dari kampungnya bernama Gareng yang berprofesi sebagai supir pribadi. Aktivitas dan rutinitas Tina sehari-hari itu membuatnya tidak pernah bertemu dengan teman baru dari lingkungan dan pergaulan lain. Paling-paling ketemu dengan rekan kerjanya di rumah tersebut, majikan serta anak-anaknya, dan teman-teman sesama pembantu Rumah Tangga di lingkungan rumah majikannya. Bisa dibayangkan waktu Tina akan habis percuma tanpa memikirkan masa depan Tina sendiri. Sedangkan si Gareng juga tiap harinya melakukan aktivitas antar jemput majikan serta anak-anaknya dari pagi hingga malam, yang membuatnya tidak sempat memikirkan “mainan” lain yaitu sekolah yang lebih tinggi. Si Tina dan Si Gareng menikah dengan 2 (dua) orang anak. Tina merawat dan mengasuh kedua anak mereka, sedangkan Gareng tetap bekerja sebagai supir pribadi. Karena bekerja sendirian, otomatis ia pun harus lebih giat bekerja dengan menambah waktu lembur untuk menghidupi anak dan istri. Singkat cerita, Garengpun mengabdi bekerja selama 25 (dua puluh lima) tahun bekerja sebagai supir pribadi dan berhenti bekerja pada usia 50 tahun karena majikannya memilih supir yang usianya lebih muda. Sampai tuapun pun mereka akan tetap menjadi orang miskin karena mereka tidak memaksakan diri meluangkan waktu untuk sekolah ke jenjang lebih tinggi yang bisa dilakukan pada waktu sore hari. Seandainya mereka pergi ke sekolah, disana mereka akan menemukan hal-hal baru. Seperti ilmu dan pengetahuan yang semakin advance, teman-teman baru, cara pandang baru, yang semakin membuka wawasan mereka bahwa semakin mereka bekerja menggunakan otak, maka penghasilan yang akan didapatkan lebih banyak daripada jika mereka hanya mengandalkan hasil dari otot dan keringat. Dengan demikian mereka bisa bekerja sebagai pegawai kantoran atau membuka usaha sendiri.

Semoga semakin banyak orang-orang miskin di Indonesia yang sadar dengan kondisinya, dan segera merubahnya. Amien.

Rempoa, 20-10-2010

4 thoughts on “SEKOLAH LAGI? Hmmmmm…..

  1. ”Kita seringkali lupa bahwa pendidikan itu bukanlah sekedar untuk mencari ilmu dan pengetahuan. Tetapi justru kita juga akan mendapatkan bonus wawasan, pergaulan dan akses kepada institusi-institusi (sekolah, pemerintah, perusahaan, yayasan, dll.), yang tidak dapat dinilai dengan uang”,gw setuju bgt bos ama kata2 yg satu ini….gw ngerasa justru yg lebih berguna ketika kita mencari kerja bukanlah ilmu dan pengetahuan yg kita dapatkan ketika sekolah tetapi lebih kpd kmampuan soft skill kita seperti kmampuan adaptasi, komunikasi ,brani mengeluarkan pendapat dan analysis serta how to manage other people…..yg jujur kesemuanaya itu tidak saya ketemukan dengan masuk kelas dan mendengartkan dosen….itu smua didapatkan lewat organisasi kemahasiswaan dan ekstrakulikuler slama skolah…apalagi ketika kita melamar kerja dan masuk pendidikan khusus sperti MT yg tentunya kita diajarkan lagi ilmu yg akan kita pakai ketika bekerja….paling yg membantu ketika melamar kerja cuma status universitas and IPK…..sisanya yah soft skill tadi…IMO^_^

  2. Pak Parahita yang terhormat, bro reminder.. bukanlah mahluk dewasa.. hanya bisa mencela tanpa bisa memperbaiki, salah satu indikator kedewasaan orang adalah bisa menghargai orang lain seperti diri-nya ingin dihargai. “MAJU TERUS PAK PARAHITA” bahkan seorang Nabi saja yang jelas-jelas membawa kebaikan tetap saja memiliki musuh dalam langkah dan hidupnya. Tuhan tidak buta dan Tuhan tidak tidur saya yakin apa yang pak Parahita tulis di blog banyak memberi manfaat bagi orang banyak. God Bless U… maju terus pak Parahita, saya menanti tulisan anda berikutnya.. “Jujur saya banyak belajar dari Blog Bapak…. salam kenal.. El Real

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s