Gallery

Menafsirkan Laporan Keuangan (Bag.1): Income Statement

Artikel ini merupakan salah satu bagian dari rangkaian artikel mengenai bagaimana menafsirkan laporan keuangan. Saya tidak akan menjelaskan secara mendetil karena kita dapat mencarinya di buku-buku atau website. Di sini saya akan lebih menekankan untuk mencari hal-hal yang penting yang dapat kita tangkap dari sebuah laporan keuangan. Dengan mengetahui keypoint dari sebuah laporan keuangan, kita akan dapat memutuskan apakah analisa lebih mendetil diperlukan atau tidak. Analisa yang terperinci tanpa memperhatikan hal-hal terpenting hanya akan menghabiskan waktu dan tenaga. Tentu saja apabila kita tidak menemukan suatu keganjilan dan bahkan menemukan bahwa kondisi keuangan suatu perusahaan cukup sehat, akan lebih baik kita melakukan analisa yang lebih terperinci.

Untuk bahan analisa awal, kita dapat menggunakan rangkuman laporan keuangan yang disediakan oleh website financial times (www.ft.com). Data di sana cukup valid dan mempunyai periode penyajian yang cukup panjang (5 tahun). Untuk dapat mengobservasi dengan lebih terperinci tentu saja kita harus membaca laporan keuangan aslinya. Beberapa data yang tidak kita perlukan dalam analisa sengaja saya hapus agar lebih mudah membacanya.

Mari kita lihat income statement APOL dari tahun 2005-2009. Kita akan mencoba mencari apakah ada sesuatu yang signifikan yang bisa kita dapatkan.

Cost of Revenue (Cost of Goods Sold/COGS)

Cost of revenue merupakan biaya-biaya yang terkait langsung dengan produksi suatu barang/jasa seperti bahan baku, listrik, dll. Cost of revenue merupakan komponen penting dalam income statement karena kita dapat mengetahui apakah suatu perusahaan memiliki competitive advantage terhadap perusahaan lain dalam industrinya.

Apa maksudnya?

Revenue adalah harga dari produk kita sedangkan cost of revenue adalah biaya untuk produksinya. Suatu perusahaan yang memiliki competitive advantage akan mampu memasang harga yang lebih mahal dibandingkan dengan perusahaan pesaingnya. Sebagai contoh adalah Apple, Inc . Apakah Apple kesulitan menjual I-Phone karena harganyalebih mahal daripada handphone pada umumnya? Apple memiliki konsumen yang sangat loyal dan tidak terlalu sensitif terhadap harga. Mahalnya produk Apple justru memberikan ‘gengsi’ tersendiri bagi penggunanya. Demikian pula halnya ketika harga bahan baku meningkat dan memaksa suatu perusahaan untuk menaikkan harga produknya untuk mengimbangi biaya produksi. Perusahaan yang tidak memiliki competitive advantage akan kesulitan untuk menaikkan harga. Sebaliknya, konsumen perusahaan yang memiliki competitive advantage akan dengan mudah memaklumi kenaikan harga ini.

Profit Margin

Profit margin adalah persentase profit terhadap revenue. Dalam laporan keuangan terdapat beberapa macam profit margin, a.l:

  1. Gross margin (revenue – cost of revenue / revenue)
  2. Profit margin (operating income / revenue)
  3. Net profit margin (net profit / revenue)

Cara yang mudah dan efektif saat melakukan analisa laporan laba-rugi (income statement) adalah membandingkan masing-masing item terhadap revenue/sales (pendapatan/penjualan). Penjualan APOL dari tahun 2005 sampai dengan tahun 2008 sebenarnya cukup bagus dan cenderung meningkat.

Permasalahan muncul pada tahun 2009 ketika penjualan anjlok dari Rp 2,6 triliun menjadi hanya Rp 1,7 triliun. Cost of revenue yang  sebelumnya hanya berkisar antara 67%-70% dari revenue melonjak naik menjadi 83%. Ada beberapa hal yang harus kita garis bawahi mengenai hal ini. Tingginya cost of revenue menyebabkan gross margin (gross profit/revenue) hanya berkisar antara 30%-33%. Nilai ini cukup rendah dan perlu kita waspadai. Rata-rata perusahaan bisa memperoleh gross margin sebesar 60% dan untuk perusahaan jasa nilainya bisa lebih tinggi lagi karena tidak ada biaya bahan baku. Terlepas dari karakteristik industrinya, terlihat bahwa APOL tidak memiliki competitive advantage yang kuat sehingga tidak dapat membebankan harga yang terlalu tinggi kepada konsumennya.

Secara umum, terdapat dua cara untuk memperbesar gross margin, yaitu:

  1. Menaikkan harga
  2. Menurunkan biaya produksi

Keberhasilan suatu perusahaan melakukan kedua hal tersebut akan tampak pada gross margin yang meningkat dari waktu ke waktu. Walaupun begitu, masing-masing industri memiliki karakteristik tersendiri. Industri retail biasanya memiliki gross margin yang rendah namun perputaran barangnya cepat sehingga dapat menutupi biaya operasinya (SGA expense). Sebaliknya, industri alat berat memiliki gross margin yang sangat tinggi namun perputaran barangnya cenderung rendah. Kita harus memperhatikan hal tersebut dalam melakukan analisa.

Hal lain yang perlu kita perhatikan adalah penurunan revenue yang tidak diimbangi dengan penurunan cost of revenue pada tahun 2009 sehingga menyebabkan gross margin anjlok menjadi hanya 17%. Hal ini memberikan warning flag pada kita dan harus menelusuri laporan keuangannya lebih dalam.

APOL sendiri sampai dengan tahun 2008 memperoleh operating margin yang cukup bagus (25%-27%). Sayangnya pada tahun 2009, anjloknya revenue menyebabkan operating margin-nya anjlok menjadi hanya 1%. Faktor yang paling mempengaruhi besarnya operating margin adalah operating expenses (selling, general & administration expense). Di dalam operating expenses terdapat biaya yang terkait dengan operasional suatu perusahaan. Kita harus cermat menganalisa SGA expenses ini karena di dalamnya juga terdapat biaya yang berkaitan dengan fasilitas untuk manajemen (mobil pribadi atau mungkin sewa helikopter?) yang tentu saja tidak kita inginkan ketika operating margin menjadi tergerus karenanya.

Net income merupakan angka keramat dan biasanya menjadi acuan para analis untuk melakukan valuasi terhadap suatu perusahaan. Jika tidak ada hal yang aneh-aneh, net income ini adalah apa yang tersisa setelah operating income digunakan untuk membayar pajak. Kita harus mewaspadai apabila terdapat item yang tergolong luar biasa (extraordinary), seperti penjualan aset. Selain itu, net income juga berpotensi untuk tergerus karena adanya other income (expenses) seperti rugi kurs dan biaya bunga. Untuk kasus APOL, net profit margin-nya sampai dengan tahun 2007 cukup bagus yaitu sekitar 14%. Dampak dari anjloknya revenue dan rapuhnya struktur biaya menyebabkan APOL mengalami kerugian yang cukup besar pada tahun 2009.

Untuk melihat permasalahan APOL ini lebih lanjut kita perlu melihat laporan keuangan lainnya yaitu balance sheet dan cash flow statement yang akan dibahas pada artikel berikutnya.

5 thoughts on “Menafsirkan Laporan Keuangan (Bag.1): Income Statement

  1. Wow, bahasannya sangat bagus bro. Saya pikir bro sudah bisa terbitkan buku sendiri nih😀 Saya tunggu tulisan berikutnya ttg balance sheet dan cash flow.
    Oh ya, usul nih .. sampai saat ini yang saya masih bingung itu kalau menganalisa laporan keuangan emiten perbankan dan property. Mungkin bisa dibahas tersendiri untuk 2 sektor ini dlm membaca laporan keuangannya ?
    Terima kasih bro, blog ini sangat amat memberikan pencerahan bagi saya.

  2. Pingback: Menafsirkan Laporan Keuangan (Bag.2): Balance Sheet | Pojok Ide Investasi

  3. Pingback: Menafsirkan Laporan Keuangan (Bag.3): Cash Flow Statement | Pojok Ide Investasi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s