Gallery

Dari Graham ke Buffett: Guru dan Murid, Ide Yang Sama (dengan Sedikit Perbedaan)

Jika kita berbicara mengenai value investing, biasanya ada dua mahaguru yang menjadi rujukan, yaitu Benjamin Graham dan Warren Buffett. Graham adalah sang pelopor dan Buffett adalah muridnya yang paling cemerlang.

Filosofi value investing mulai dianut oleh Ben Graham ketika dana investor yang dikelolanya ikut terseret Depresi Besar tahun 1929 yang melanda Amerika Serikat bahkan dunia. Kita sendiri biasanya mengenal depresi besar tersebut dengan nama zaman Malaise. Begitu terpukulnya Graham sehingga ia menempatkan keamanan dana investasi pada prioritas pertama sebelum mengincar keuntungan. Screening yang begitu ketat diterapkan oleh Graham demi menjamin keamanan investasinya.

Untuk dapat memahami bagaimana Graham berpikir, kita harus menempatkan diri ke era pasca Depresi Besar. Kala itu, sangat sedikit orang yang mau berinvestasi di bursa saham. Para investor yang trauma menganggap saham sebagai instrumen investasi yang sangat berbahaya. Tidak heran pada saat itu saham-saham diperdagangkan dengan harga yang sangat murah. Pada kondisi ini, walaupun Graham melakukan screening yang sangat ketat, masih banyak saham yang masuk ke dalam kriterianya. Seringkali Graham dapat menemukan saham-saham yang dijual di bawah nilai bukunya ataupun jumlah kas yang lebih tinggi daripada harga sahamnya. Hanya dalam waktu kurang dari lima tahun sejak depresi besar, Graham mampu untuk mengembalikan kerugian yang diderita investornya sekaligus melambungkan namanya sebagai seorang fund manager.

Bukunya yang berjudul “Security Analysis” yang ditulisnya pada tahun 1934 dan “Intelligent Investor” yang diterbitkan pertama kali pada tahun 1949 telah mengubah paradigma dunia investasi. Investasi yang sebelumnya dianggap sebagai sesuatu yang misterius, ajang perjudian, bahkan supernatural telah menemukan jalannya. Dari buku-buku Graham tersebut kita dapat memandang investasi saham sebagai sebuah investasi pada bisnis. Oleh karenanya, keputusan pembelian suatu saham harus didahului oleh fit and proper test terhadap laporan keuangannya terlebih dahulu.

Salah satu orang yang terpesona dengan cara berpikir Graham adalah Warren Buffett. Begitu terkesimanya Buffett hingga menganggap bahwa buku “Security Analysis” sebagai buku investasi terbaik yang pernah diterbitkan. Buffett sendiri akhirnya menjadi murid Graham dan sempat bergabung dengan firma investasi Graham. Pada titik tersebut, mulai tercipta perbedaan pandangannya dengan sang guru. Graham memandang saham semata-mata berdasarkan laporan keuangannya. Selama suatu laporan keuangan suatu saham memenuhi kriteria yang diterapkannya serta dijual dengan harga yang murah, ia akan membelinya. Graham sendiri berpendapat bahwa untuk meminimalisasi risiko pada suatu saham, ia harus melakukan diversifikasi seluas mungkin. Tidak jarang pada satu waktu Graham memegang ratusan jenis saham (tentunya yang telah memenuhi kriterianya). Sampai di sini Buffett menemukan bahwa banyak saham yang dimiliki oleh Graham tidak pernah kembali ke harga wajarnya. Hal ini bisa dikompensasi dengan imbal hasil yang besar pada saham-saham lainnya. Buffett mulai menyadari bahwa walaupun dijual dengan harga murah, saham yang bisnisnya biasa-biasa saja tidak terlalu diapresiasi oleh pasar. Pasar cenderung memberikan harga yang rendah untuk saham semacam itu.

Perkenalan Buffett dengan Charlie Munger semakin memperkuat pandangan Buffett tentang hal tersebut. Munger yang brilian berpendapat bahwa lebih baik berinvestasi pada saham-saham yang memiliki bisnis yang “wonderful” walaupun terkadang ditawarkan pada harga yang wajar (tidak diskon). Pandangan Munger ini cukup mempengaruhi Buffett dan menjadi salah satu prinsip yang dipegangnya dalam berinvestasi. Konsekuensinya, dengan memegang saham-saham dengan bisnis yang luar biasa, tidak banyak saham yang bisa menjadi pilihannya. Buffett hanya melakukan diversifikasi seperlunya namun pada saham yang benar-benar memiliki bisnis yang bagus.

Perbedaan lain dari gaya investasi Graham dan Buffett mengenai investasi adalah horizon investasi keduanya. Horizon investasi Graham hanya sekitar 2-3 tahun. Biasanya jika saham yang dimilikinya harganya naik 50%, ia akan menjualnya. Demikian pula dengan saham-saham yang tidak kunjung naik harganya. Graham akan menggantikannya dengan saham-saham lain yang potensial. Alasan utamanya adalah adanya opportunity loss dengan memegang saham yang kinerjanya (harganya) kurang menggembirakan. Berkebalikan dengan Graham, horizon investasi Buffett sangat panjang, bahkan bisa dibilang selamanya. Apakah Buffett pernah melepas saham yang dibelinya? Jawabannya: pernah. Buffett akan dengan segera menjual sahamnya apabila saham tersebut sudah tidak memiliki bisnis yang “wonderful”.

Mungkin tidak banyak yang mengetahui bahwa metode valuasi Buffett bukan diadopsi dari Graham, melainkan dari John Burr Williams. Williams adalah pelopor valuasi saham dengan metode Discounted Cash Flow (DCF) yang menjadi acuan Buffett dalam melakukan valuasi.

Walaupun memiliki beberapa perbedaan gaya investasi, banyak sekali kesamaan antara Graham dan Buffett. Salah satunya adalah pandangan mengenai “margin of safety”. Walaupun terkadang Buffett membeli saham dengan harga wajar, ia lebih memilih saham dengan harga yang terdiskon, sama seperti gurunya. Kesamaan lainnya adalah mengenai kesehatan laporan keuangan yang menjadi prasyarat mutlak sebelum melakukan investasi. Bagaimanapun juga, keduanya telah menjadi icon value investing dan mereka telah membuktikan keberhasilan filosofi yang mereka anut.

2 thoughts on “Dari Graham ke Buffett: Guru dan Murid, Ide Yang Sama (dengan Sedikit Perbedaan)

  1. Pak terima kasih ulasannya.
    Jika tidak keberatan mohon detail perhitungan metode Discounted Cash Flow ala buffet berikut contohnya. Yang tentunya lebih konservatif dan bisa dijadikan pegangan dalam belanja saham.

    Rgds
    Bayu Parahita

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s