Gallery

Jaring Pengaman Valuasi Saham

Pernahkah kita mencoba memposisikan diri kita sebagai seorang bankir saat melakukan valuasi saham? Mungkin lebih tepatnya kita coba berpikir seperti seorang credit analyst. Apa yang dikerjakan oleh seorang credit analyst? Dia akan menganalisa apakah pengajuan suatu kredit layak untuk disetujui atau tidak.

Katakanlah seorang calon kreditur yaitu Pak Budi hendak mengajukan kredit sebesar 250 juta rupiah. Untuk keperluan tersebut, Pak Budi menjaminkan rumahnya yang nilainya 400 juta rupiah. Saat ini Pak Budi juga bekerja di suatu perusahaan dengan gaji sebesar 20 juta  rupiah per bulan atau sekitar 240 juta rupiah per tahun.

Pak Danu, seperti juga Pak Budi hendak mengajukan kredit ke bank tempat Anda bekerja. Jumlah pinjaman Pak Danu sama dengan Pak Budi yaitu 250 juta rupiah. Yang berbeda adalah kondisi keuangan Pak Danu. Sebagai jaminan atas pinjamannya, Pak Danu menjaminkan rumahnya yang ditaksir bernilai 250 juta rupiah.   Pak Danu sendiri memiliki pendapatan sebesar 150 juta rupiah per tahun.

Sebaga seorang credit analyst, permohonan siapakah yang akan Anda setujui? Tentu saja secara intuitif Anda akan memilih untuk menyetujui permohonan Pak Budi. Dan memang keputusan tersebut lebih masuk akal.Apa alas an Anda memilih Pak Budi? Yang pertama adalah jaminan yang lebih besar. Yang kedua, Pak Budi memiliki pendapatan rutin yang lebih besar daripada pak Danu. Jika kita melakukan perbandingan antar kedua orang tersebut, akan lebih masuk akal apabila kita memilih pak Budi. Pertanyaan selanjutnya adalah, apakah Pak Danu otomatis tidak memenuhi syarat karenanya. Belum tentu. Ada kemungkinan Pak Danu masih memenuhi syarat untuk mendapatkan kredit.

Cara kita memandang perusahaan yang akan kita nilai sebenarnya tidak jauh berbeda dengan bagaimana seorang credit analyst memandang permohonon kredit. Jaminannya setara dengan asset. Pendapatannya setara dengan revenue perusahaan. Nilai kreditnya setara dengan harga sahamnya.  Coba bayangkan seandainya seorang credit analyst menyetujui permohonan kredit tanpa mempertimbangkan hal-hal tersebut. Logikanya, seorang investor saham pun harus berpikir seperti itu. Kita harus mempertimbangkan bagaimana kondisi keuangannya, berapa besar revenue perusahaan. Tanpa itu, investasi kita akan lebih bersifat spekulatif.

Pernahkah kita mengenal seseorang yang banyak berutang untuk membeli property? Dengan semangat investasi, orang tersebut membeli property sekuat tenaganya dengan suatu keyakinan bahwa harga property selalu naik. Apa yang dilakukannya setara dengan perusahaan yang banyak berutang untuk berekspansi. Saat kondisi berkembang sesuai dengan rencana, orang tersebut akan memperoleh keuntungan yang sangat besar. Akan tetapi bisa dibayangkan apabila suatu hari orang itu mengalami PHK? Dari mana orang itu akan membayar utang-utangnya? Keadaan orang itu mirip dengan perusahaan yang sedang terkena dampak resesi. Biasanya tidak seekstrim itu memang. Akan tetapi pada kondisi resesi, seberapa besar efek penurunan pendapatan perusahaan terhadap kelangsungan hidupnya bergantung pada seberapa besar bunga utang yang harus dibayar. Semakin besar bunga utangnya, semakin besar kemungkinan perusahaan tersebut mengalami kebangkrutan.

Selain itu, ada beberapa perusahaan yang tidak mencoba mengurangi utangnya melainkan menggantinya dengan utang baru. Strategi ini sepertinya ok. Namun pada kondisi yang memburuk, utangan baru akan lebih sulit untuk dicari karena bank-bank mulai memperketat penyaluran kredit. Hal tersebut adalah apa yang terjadi saat krisis moneter melanda Indonesia pada tahun 1997. Dengan pertimbangan tersebutlah, saya secara pribadi mencoba menghindari berinvestasi pada perusahaan yang jumlah utangnya terlalu besar. Patokan standar saya, utang harus lebih kecil daripada ekuitasnya atau dengan kata lain DER < 1.

Kembali lagi pada valuasi saham. Jaring pengaman pada hasil valuasi kita adalah adanya margin of safety yang merupakan selisih antara harga saham dengan hasil valuasi kita. Semakin besar selisih harga wajar terhadap harga sahamnya semakin besar margin of safety-nya. Seandainya suatu saat harga saham ‘insyaf’ dan menuju ke harga wajarnya, maka kita akan mendapatkan keuntungan sebesar margin of safety. Namun apabila tidak atau bisa juga kita salah melakukan perhitungan dan harga saham hanya naik sedikit kita pun tetap mendapatkan keuntungan. Oleh karena  itu ada dua jaring pengaman investasi kita, yaitu: adanya margin of safety dan struktur modal yang kuat.

4 thoughts on “Jaring Pengaman Valuasi Saham

  1. Pingback: Bagaimana Cara Menentukan Harga Wajar Saham? | Pojok Ide Investasi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s