Gallery

SCMA: A Profitable Media Company

Ketika sedang menonton TV (lokal), apakah kita menyadari berapa jumlah iklan masing-masing stasiun TV? Saya sempat iseng-iseng mencoba menghitung. Pada saat prime time, jumlah iklan bisa mencapai belasan. Harus diakui, acara andalan TV swasta nasional sebagian besar adalah sinetron. Sinetron unggulan ditayangkan pada saat prime time dengan jumlah iklan yang sangat banyak. Tentu saja biaya iklan untuk prime time sangat tinggi dan menyumbangkan pendapatan terbesar TV swasta.

Untuk kategori sinetron, SCMA melalui anak perusahaannya SCTV bisa dibilang adalah raja sinetron yang menjadi pundi-pundi pemasukan bagi SCMA. Mari kita lirik sejenak bagaimana kinerja keuangan SCMA selama 5 tahun ke belakang:

Yang cuku mencolok dari grafik-grafik di atas adalah kenaikan net earning yang cukup tajam selama 5 tahun belakangan yang disetahunkan adalah sekitar 33%. Hal tersebut dibarengi dengan tajamnya kenaikan ROE. Sangat impresif! Debt level yang cukup konservatif (di bawah 100%) menjadi daya tarik lainnya. Satu hal lagi yang menjadi trigger dari valuasi ini adalah penurunan harga selama 3 tahun belakangan di kala kinerja keuangannya terus membaik. Hal ini menjadikan SCMA menjadi objek investasi yang cukup menarik. Tampaknya tahun 2010 ini SCMA terus menunjukkan giginya dengan membukukan kenaikan laba bersih Q2 2010 sebesar 189% dibandingkan dengan tahun lalu. Kali ini terus membaiknya kinerja SCMA tampaknya cukup direspons oleh para investor yang membubungkan harga saham SCMA ke level 1840. Pertanyaannya: apakah SCMA masih dihargai secara wajar?

Dengan harga wajar 2459, tampaknya SCMA masih cukup menjanjikan sebagai lahan investasi.

Disclaimer is on.

29 thoughts on “SCMA: A Profitable Media Company

  1. P/E pada tahun 2006 kan sebanyak 20,95 x Pak yang di data Bapak koq bisa 14 x. Setelah saya rata-ratakan P/E 5 tahun ke belakang itu senilai 12,28 x.

  2. @Candra
    EPS nya pakai yg mana ya?Kalau saya biasa ambil data di ft.com. EPS juga macam2, kalau saya lebih suka pakai yg diluted.

  3. Margin of safety adalah selisih antara harga saham dengan nilai wajarnya. Pada kasus SCMA ini harganya 1.480 dengan nilai wajar 2.459 sehingga didapatkan margin of safety = (2.459 – 1.480)/1.480 = 33,26%

  4. Pak saya ingin tanya bagaimana caranya membuat valuasi dari nilai saat ini ? yang Bapak buat SCMA kan proyeksi 5 tahun kedepan setelah itu di present value kan hingga saat ini tahun 2010. Nah disini tentu skenario pertumbuhan Net Income harus sesuai dengan yang direncanakan. Kalau tidak mencapai sesuai pertumbuhan EPS otomatis harga akan meleset jauh. Saat ini tahun 2010. Bagaimana caranya menghitung harga wajar SCMA pada tahun 2010 saja tanpa memproyeksi ke depan tapi melalui kinerja selama beberapa tahun ke belakang ? terima kasih.

  5. Iya Pak, maksud saya menentukan nilai wajar sesuai kinerja perusahaan masa lalu. Kalau cara Bapak kan yang di atas dengan proyeksi EPS growth 15 % artinya Net Income juga harus growth 15 % pertahun. Setelah itu dipresent valuekan sesuai required rate of return. Nah proyeksi Bapak kan melihat terminal value 2014 kemudian di present value kan hingga 2010. Apakah bisa Pak menentukan nilai wajar dengan data kinerja perusahaan masa lalu ? Misalkan SCMA telah beroperasi 20 tahun hingga sekarang. Bapak coba tentukan nilai wajar sesuai data histori saja Pak.

  6. Oleh karena itulah sebaiknya kita mencari perusahaan yang ‘mudah’ ditebak kinerjanya karena akan lebih mudah mengestimasikan harga wajarnya. Jika earning suatu saham ‘predictable’, maka akan lebih akurat valuasi kita.

  7. mantaff..SCMA hari ini (27 Agustus 2010 ) di closing naik 15 % di harga 2.100 klo beli saat ini di 2.100 sudah terlambat belum ya ? oh ya..kira kira ada edisi bahasa indonesianya gak ya buku starting get value yang bapak maksud itu ? atau apa judul buku yang lain yang mempelajari tehnik menilai saham secara lengkap ?

  8. Pak Parahita Irawan dimana ya Pak sumber nya untuk mempelajari value investment ? saya ingin belajar melihat nilai dari pada suatu saham Pak.

  9. Pak Parahita, blog fundamental yang sangat baik… begitu jelas dipaparkan argumentasinya.

    Yang hendak saya tanyakan, menurut Bapak, kira2 batasan margin of safety yang baik pada kisaran berapa? apakah lebih dari 20% atau lebih dari 10%?

    terima kasih

  10. Selamat siang, valuasi yang Bapak lakukan adalah memperkirakan pertumbuhan EPS hingga beberapa tahun ke depan kemudian di present value kan hingga saat ini. Saya rasa ini tidak bisa diterapkan Pak. Hal ini dikarenakan belum tentu pertumbuhan EPS sesuai dengan skenario yang direncanakan. Alangkah baiknya jika Bapak bisa menentukan nilai wajar saham berdasarkan kondisi perusahaan saat ini. Misalnya perusahaan X telah beroperasi selama 20 tahun kemudian Bapak tentukan nilai wajar perusahaan berdasarkan laporan keuangan 20 tahun ke belakang hingga saat ini Pak. Jadi konsep valuasi nya adalah past to present atau yang sudah berlalu hingga saat ini. Kalau konsep yang Bapak lakukan adalah future to present. Sedangkan future masih penuh ketidakpastian.

  11. @Candra
    Bisa dikasih contoh valuasi yang past to present itu kaya gimana? Mungkin nanti bisa dicompare. Saya dengan senang hati akan menyimak.

    Untuk bahan pertimbangan, apabila kita melakukan valuasi dengan cara seperti itu, artinya kita ibaratnya mencoba menghitung uang yang dahulu pernah kita dapatkan dan itu tidak perlu susah payah kita hitung karena sudah ada di dalam laporan keuangan (sudah berubah menjadi aset tentunya). Dan pastinya sudah dalam bentuk present value๐Ÿ™‚

    Mengapa kita melakukan perhitungan di masa datang? Jawabannya adalah karena kita ingin mengetahui berapa pendapatan yang akan didapatkan di masa datang dan itu adalah nilai dari sebuah perusahaan yaitu prospeknya untuk menghasilkan laba di masa datang.

    Mungkin bisa dibaca di sini untuk lebih memahami konsep dari valuasi:
    http://en.wikipedia.org/wiki/Stock_valuation

  12. Saya kasih contoh ya Pak untuk perusahaan dengan kode ASII telah membagikan dividend dari 2003 hingga 2010 saat ini. Dari dari data 2003 berarti data past(data yang sudah berlalu) kemudian ditentukan nilai saat ini (present) yang sesuai dengan kinerja masa lalu. Jadi konsepnya past to present gitu loh Pak. Jadi yang kita beli itu sesuai dengan nilai saat ini. Kalau valuasi yang Bapak lakukan sebelumnya kan dengan konsep future to present. Sedangkan kita tidak tahu apa yang akan terjadi di future dan nilai yang dibeli saat ini adalah nilai proyeksi.
    Sumber : finance.yahoo.com
    Tahun 2010 Dividend 830
    Tahun 2009 Dividend 290
    Tahun 2009 Dividend 570
    Tahun 2008 Dividend 300
    Tahun 2007 Dividend160
    Tahun 2007 Dividend 290
    Tahun 2006 Dividend 150
    Tahun 2006 Dividend 340
    Tahun 2005 Dividend 100
    Tahun 2005 Dividend 270
    Tahun 2004 Dividend 100
    Tahun 2004 Dividend 170
    Tahun 2003 Dividend 50

  13. Dengan menggunakan Dividend Discounted Model dari data dividend 2003 hingga 2010 didapat nilai nya 49775. Proyeksi pertumbuhan Dividend tiap tahun sebesar 10 %.
    P1 = D1(1+g)/(ks-g)=
    D1= Dividend tahun pertama sampai seterusnya
    g = growth dividend
    ks = required rate off return
    g = growth dividend
    sumber : buku “Menilai Harga Wajar Saham”
    Growth yang saya gunakan sebesar 10 %. 10 % digunakan untuk proyeksi pertumbuhan dividend untuk tahun berikutnya yaitu 2011. Sebenarnya rata-rata pertumbuhan dividend sebesar 71 %. Tapi jika menggunakan pertumbuhan 71 % saya rasa terlalu optimis dan terlalu tinggi ekspektasinya terhadap kinerja perusahaan. Oleh karena itu saya gunakan proyeksi 10 % saja. Required Rate of Return yang digunakan 18 % sesuai valuasi yang Bapak lakukan.

    Dengan DCF nilai saham sangat rendah sekali, maka dari itu saya mencoba menggunakan DDM saja.

  14. FYI,

    DCF dan DDM itu metodenya menggunakan future to present lho. Apakah Bapak sudah memahami filosofi dari DCF dan DDM? Mungkin sebaiknya coba pahami dulu filosofi time value of money Pak.

    Kalau melihat masa lalu, mengapa tidak langsung membawa nilai past itu ke present? Bukannya nilai dividen pastinya sudah diketahui? Kita tidak memerlukan growth rate karena itu merupakan proyeksi.

    Sekali lagi saya tekankan, jika menghitungnya dari past to present itu adalah kepastian. Artinya jika nilainya berbeda dengan nilai saat ini maka sudah pasti perhitungannya salah.

  15. Nah, sekarang Bapak sudah mengertikan maksud dari future to present yang saya maksudkan. Yang ingin saya ketahui Pak coba Bapak valuasikan nilai saham berdasarkan konsep past to present saja Pak. Karena lebih menggambarkan nilai saham dari perusahaan saat ini saja. Kalau konsep future to present saya rasa tidak bisa dijadikan nilai wajar saham. Toh future masih belum terjadi.

  16. Begini pak. Konsep dari valuasi adalah mencoba menghitung prospek dari suatu bisnis.

    Begini contoh kasusnya:

    Katakanlah suatu bisnis menghasilkan keuntungan 10 juta per tahun dan diperkirakan tumbuh menjadi 11 juta tahun depan. Apabila pemilik bisnis tersebut hendak menjual bisnisnya kepada Anda, berapa harga yang layak?

    Satu hal lagi: Kalau seandainya pak Candra mencoba mencari present value dari past dividends, Artinya bapak membutuhkan nilai growth. Lalu apa bedanya apabila saya memproyeksikan future value dan kemudian menariknya ke present value dengan berdasarkan data masa lalu tsb? Hal tsb lah yg saya lakukan dalam valuasi ini.

  17. Pak Parahita, saya mencoba menghitung harga wajar TPIA dengan menggunakan metode Mizrahi dan didapat harga wajarnya berada di harga 6961. Saya menggunakan EPS yang ada di laporan keuangan tahunan TPIA dari tahun 2006-2009. Mohon bantuannya karena saya cukup penasaran apa harga yang saya hitung meleset atau tidak. Kemudian juga dilihat berdasarkan fundamental apa TPIA termasuk saham yang cukup aman untuk dijadikan sasaran investasi? Terima kasih pak.

  18. @Pak Candra : Pak, kalau rumus DCF apa ya? Dari dulu cari rumus DCF saya belum dapat. Kemudian, bisa tolong jelaskan pak, apa kelemahan dari metode DDM dan DCF?

  19. @Leo
    Bisa cek di sini: http://en.wikipedia.org/wiki/Discounted_cash_flow

    Pada prinsipnya, konsep valuasi menggunakan metode DCF adalah mencoba mencari value dari suatu bisnis dengan mencari present value dari cash flow bisnis tersebut di masa datang. DDM merupakan cabang dari DCF di mana yang digunakan adalah dividen.
    Website lain yang banyak membahas tentang valuasi termasuk DCF ada di web-nya Damodaran.

  20. Pak Parahita, ada pertanyaan saya yang belum dijawab di atas mengenai TPIA, mohon bantuannya!

    Di sekuritas saya, sering sekali pakai metode DCF dan setelah saya bandingkan hasil dari setiap metode berbeda-beda karena setiap metode menggunakan parameter yang berbeda pula untuk perhitungannya. Menarik sekali… Saran saya, alangkah baiknya Pak Candra membuka blog untuk menuangkan hasil pemikiran dan perhitungannya dari metode DDM.๐Ÿ™‚

    Saya mohon maaf apabila ada yang kurang berkenan karena saya masih dalam tahap belajar dan masih butuh bimbingan dari para senior fundamental. Terima kasih.

  21. @Leo
    Sabar dulu ya karena saya belum mengerti benar bagaimana bisnis dari TPIA.
    Memang DCF sangat sensitif terhadap perbedaan parameter karena faktor compounded interest. Oleh karena itu kita harus berhati-hati dalam penggunaannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s