Gallery

Menimbang Untung Rugi Redenominasi Rupiah

Belakangan ini merebak wacana redenominasi Rupiah. Redenominasi adalah pemotongan nilai mata uang dengan dibarengi dengan penurunan harga secara sebanding. Jadi apabila Rp 1.000,- dipotong menjadi Rp 1,- (dipotong 3 angka nolnya), maka harga barang yang dahulu Rp 1.000,- juga turun menjadi Rp 1,-. Bagaimana cara memastikan hal tersebut? Salah satunya adalah dengan menerbitkan uang baru. Misalnya Rupiah Baru senilai dengan 1.000 Rupiah Lama. Lalu apa alasannya harus melakukan redenominasi?

Seperti yang kita tahu, hampir tiap tahun Indonesia mengalami inflasi atau dengan kata lain harga suatu barang harus dinyatakan dengan angka yang lebih tinggi. Dalam jangka panjang, banyaknya jumlah angka tersebut akan berpotensi mempersulit transaksi sehari-hari di samping risiko untuk membawa uang dalam jumlah besar. Perhitungan dengan nominal yang lebih tinggi juga lebih sulit dilakukan dibandingkan dengan perhitungan dengan nominal rendah. Pernah suatu kali saya bertemu dengan teman saya yang cukup lama tinggal di negeri paman Sam saat dia sedang pulang ke Indonesia. Dia kebingungan mengecek apakah kembalian belanja di minimarket sudah benar atau tidak. Maklum saja sehari-harinya dia hanya berurusan dengan uang dengan nominal US$1-10. Bandingkan dengan kita yang nominalnya mencapai ribuan, bahkan ratusan ribu. Itu mungkin adalah salah satu contoh mengapa nominal yang besar akan menyulitkan transaksi kita sehari-hari.

Yang harus dipahami juga adalah bahwa redenominasi berbeda dengan sanering. Redenominasi mata uang  secara teori tidak akan menyebabkan kenaikan harga karena harganya juga ikut terpotong. Lain lagi dengan sanering. Mata uang yang mengalami sanering akan berkurang nilainya namun harga-harga barang tidak dijamin untuk ikut turun. Dengan demikian, sanering akan mengurangi daya beli uang sedangkan redenominasi tidak. Indonesia sendiri pernah melakukan sanering pada tahun 1965. Pada saat itu, rupiah dipotong nilainya dari 1.000 menjadi 1 rupiah di mana harga barang tidak ikut turun. Akibatnya adalah inflasi yang sangat tinggi.

Berbicara mengenai redenominasi, Zimbabwe adalah salah satu negara yang cukup agresif melakukan redenominasi mata uangnya. Tercatat dalam 4 tahun terakhir, akibat hiper inflasi, Zimbabwe telah 3 kali melakukan redenominasi mata uangnya. Kesalahan utama Zimbabwe adalah melakukan redenominasi ketika inflasi sangat tinggi sehingga redenominasi semakin memperkuat efek inflasi tersebut.

Redenominasi tidak hanya dilakukan oleh negara yang nominal mata uangnya cukup besar. Salah satu contohnya adalah redenominasi mata uang anggota Uni Eropa ketika meredenominasi mata uangnya menjadi Euro. Dalam hal ini, rasio konversinya bisa kurang dari satu. Satu Euro setara dengan 40,3 francs Belgia saat itu.

Secara teori, redenominasi tidak akan memberikan efek negatif terhadap perekonomian. Ok, mari kita kembali ke tataran praktis. Pelaku ekonomi adalah manusia yang tindakannya tidak sepenuhnya bersifat rasional karena adanya pengaruh emosi sehingga respon terhadap kebijakan redenominasi ini tidak bisa kita asumsikan 100% bersifat rasional. Ketakutan akan adanya kemungkinan inflasi akan menyebabkan orang akan cenderung memegang barang, terutama yang nilainya tahan terhadap inflasi. Sebagai contoh adalah emas. Tentu saja hal ini bisa berdampak buruk terhadap laju pertumbuhan ekonomi karena berpotensi mengurangi konsumsi. Apabila terjadi penukaran rupiah ke mata uang lain yang lebih kuat, maka akan terjadi penurunan nilai rupiah terhadap mata uang lain.

Dampak lainnya yang perlu diperhatikan dengan cermat adalah adanya potensi pembulatan harga ke atas dengan alasan untuk mempermudah transaksi. Harga barang yang dahulu Rp 1.700,- akan menjadi Rp 1.7,-. Karena alasan yang telah disebutkan di atas, harganya akan dibulatkan menjadi Rp 2,-. Tentu saja secara luas, praktik ini akan mempertinggi tingkat inflasi.

Bagaimana dengan efek redenominasi ini terhadap bursa saham? Selain kita akan dapat membeli saham dengan harga lebih ’murah’😀, para pelaku pasar akan bersikap negatif karena secara umum mereka menghendaki kestabilan ekonomi. Walaupun redenominasi seperti telah dipaparkan sebelumnya secara teori tidak menganggu aktivitas ekonomi, namun dampak psikologis yang ditimbulkannya terhadap masyarakat akan cukup mengkhawatirkan pelaku pasar.

Pendapat saya pribadi? Sepertinya pemerintah harus benar-benar mengkaji untung ruginya menerapkan kebijakan ini. Seandainyapun dilaksanakan, persiapannya haruslah sangat matang dan sebisa mungkin menutup flaw yang mungkin terjadi dalam implementasinya. Jangan sampai keuntungan yang didapat lebih sedikit daripada kerugian yang harus ditanggung.

7 thoughts on “Menimbang Untung Rugi Redenominasi Rupiah

  1. Kalo dipikir-pikir, kayaknya di negeri kita yang banyak orang latahnya ini, lebih banyak negatifnya daripada positifnya jika ada redenominasi?
    Atau, jangan-jangan ini agar BI ada proyek cetak uang baru? lumayan kan fee-nya?
    hehehe…

  2. Mas, efeknya ke existing consumer loans gimana?
    Misalnya aku punya KPR dengan cicilan sekian, apakah besar cicilan akan disesuaikan dengan redenominasi? Tapi tidak mengalami perubahan nilai kan ya?
    Trus efeknya ke bunga consumer loans baru gimana, misalnya pengajuan KPR setelah redenominasi, apakah bank akan cenderung meningkatkan suku bunganya mengikuti inflasi emosional?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s