Gallery

Duh, Macetnya Jakarta!

Sumber: Primaironline

Sebagai warga urban ibukota yang tinggal di pinggiran kota, saya merasakan bagaimana perjuangan untuk berangkat dan pulang kantor setiap harinya. Seingat saya ketika dahulu pertama kali mengais rupiah di tanah Jakarta, perjalanan pulang dari kantor memerlukan waktu sekitar 1,5 jam kalau tenggo. Sekarang paling butuh 2 jam, seringnya malah 2,5 jam.

Jakarta memang luar biasa, pembangunan yang (terlalu) terkonsentrasi di ibukota menyebabkannya tampak bagai lampu petromaks bagi laron-laron daerah yang mengharapkan kehidupan yang lebih baik.

Kata orang 80% uang di Indonesia beredar di Jakarta dan 60% uang di Jakarta beredar di segitiga emas. Kalau ada Herfindahl index untuk jumlah uang beredar mungkin nilainya sudah 95%😀

Macet adalah ekses konsentrasi pembangunan ini dan Jakarta sudah berkembang terlampau cepat untuk bisa disaingi oleh pembangunan infrastruktur dan transportasi. Kalau dahulu sempat dikatakan pada tahun 2014, lalu-lintas Jakarta akan stuck, bukan tidak mungkin kejadiannya akan dipercepat apabila tidak ada kebijakan yang cukup berani untuk mengatasinya.

Kemarin saya membaca di koran jumlah motor di Jakarta telah mencapai 8 juta unit padahal jumlah penduduk DKI Jakarta sendiri hanya sekitar 8,5 juta jiwa. Berarti sangat banyak jumlah penduduk luar Jakarta yang keluar masuk Jakarta setiap harinya. Itu baru motor lho, belum termasuk mobil dan kendaraan umum.

Moda transportasi favorit bagi warga urban umumnya (selain kendaraan pribadi) adalah KRL, bis, angkot, dan metromini. Belakangan banyak muncul omprengan-omprengan gelap yang ironisnya justru terasa lebih nyaman daripada sarana transportasi umum yang resmi walaupun biayanya lebih mahal.

Sejak beberapa tahun yang lalu Pemda DKI Jakarta meluncurkan TransJakarta yang biasa disebut orang busway. Awalnya saya cukup terkesan dengan moda transportasi baru ini. Tempat duduk yang bersebelahan (bukan menghadap ke depan seperti biasa), membuat saya merasa naik shuttle bus di Cengkareng. Adanya jalur khusus yang disediakan untuk TransJakarta ditambah dengan AC dan petugas keamanan di atas bis menjadikan busway menjadi calon moda transportasi favorit saya. Semakin lama ternyata kok jumlah bisnya mulai terasa tidak memadai. Saat pulang kantor, saya harus menunggu cukup lama untuk mendapatkan bis karena bisnya sudah penuh dan hanya bisa mengangkut 1-2 penumpang tambahan di setiap halte L. Pudar sudah harapan saya.

Akhirnya saya kembali naik mobil dan berhaha-hihi (mulai stress) menikmati macetnya Jakarta. Saya membayangkan berapa besar pemborosan yang terjadi karena kemacetan ini. Belum lagi hilangnya quality time bersama keluarga. Kalau saya naik mobil, paling cepat jam 8 saya baru sampai rumah dan hanya bisa melihat anak-anak saya sudah tidur. Pagi-pagi buta sebelum anak bangun, saya harus berangkat lagi ke kantor. Sungguh sangat tidak efisien. Akhirnya setelah menimbang-nimbang, kendaraan yang saya pilh sekarang adalah motor. Walaupun sering dimaki-maki karena dianggap kurang tahu aturan dan seenaknya sendiri, motor mau tidak mau adalah sarana transportasi tercepat dan (mungkin) termurah bagi warga ibukota. Yah, memang ada risiko tersendiri kalau naik motor. Salah satunya adalah asap knalpot. Solusinya, saya jadi rajin membeli masker medis yang ijo-ijo itu dan mencoba menghindari jalan-jalan protokol karena hampir pasti saat jam pulang kantor asapnya pasti sudah memenuhi jalanan.

Ngomong-ngomong mengenai polusi udara ini, sewaktu berada di dalam pesawat dari Balikpapan menuju Jakarta dan akan landing, terlihat daerah segitiga emas dari angkasa. Langitnya hitam pekat karena asap sehingga terlihat seperti cendawan. Itu mungkin 90% adalah asap knalpot kendaraan. Sepertinya indikator tingkat pencemaran udara yang dipasang di tengah perempatan jalan itu harus sering dikalibrasi ulang karena terlalu sering berwarna merah.

Kalau otak jail saya ini boleh menyumbang ide untuk solusinya, kira-kira seperti ini:

  1. Tambah jumlah bis TransJakarta dan buka jalur-jalur baru. Ini merupakan solusi yang bisa cukup cepat dikerjakan apabila dibandingkan jika harus membangun Subway (MRT).
  2. Metromini itu tolong ya, jangan dibiarkan ngetem sembarangan. Baru di Jakarta ini saya melihat metromini ngetem di perempatan jalan. Ya iya lah, metromini cuma ada di Jakarta😀
  3. Karena sebagian besar arus lalu-lintas berasal dari kantong-kantong sekitar DKI Jakarta, ada baiknya Pemda DKI rundingan dengan Pemda daerah-daerah satelit tersebut untuk mengusahakan transportasi umum yang banyak, layak, aman, dan nyaman bagi warganya. Masa andalannya cuma KRL yang terbatas itu?
  4. Kalau transportasi umum sudah banyak, layak, aman, dan nyaman, bolehlah pemerintah menerapkan pembatasan jumlah kendaraan pribadi. Entah itu menaikkan tarif parkir, road pricing, ataupun menaikkan pajak kendaraan bermotor.

Sekali lagi itu hanya mimpi di siang bolong yang mungkin agak susah diterapkan dalam kenyataannya karena satu dan berbagai hal. Moga-moga saja Jakarta bisa jadi seperti kota-kota besar di negara maju yang lebih banyak transportasi umum yang murah dan cepat dibandingkan dengan kendaraan pribadi.

2 thoughts on “Duh, Macetnya Jakarta!

  1. harusnya kalau jumlah kendaraan bermotor di jakarta 8 juta dan jumlah penduduk 8 juta, ya ga ada orang antri bis lagi..

    masalahnya memang di transportasi umum yg sebaiknya di kelola pemerintah

    metromini perlu di terapkan sistem seperti mayasari, jangan pake setoran.. biar gak ngetem

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s