Gallery

INDF: The Noodle King

Indofood memiliki nama besar di industri makanan. Usaha yang awalnya hanya dimulai dengan memproduksi mie instan tersebut kini telah mengukuhkan dirinya menjadi Total Food Solution company. Tidak diragukan lagi banyak produk Indofood telah menjadi market leader. Siapa yang tidak mengenal Indomie, Bogasari, atau Bimoli?

Integrasi vertikal yang dilakukan Indofood memang menjadi keunggulan kompetitif yang cukup sulit disaingi oleh pemain lain di industri ini. Indofood terintegrasi secara vertikal mulai dari hulu (agribisnis) hingga ke hilir (sistem distribusi).

Indofood memiliki 4 Strategic Business Group, yaitu:

  1. Consumer Branded Product. Produk-produk yang sangat kita kenal dalam kehidupan sehari-hari ada di bawahnya, seperti Indomie, Indomilk, dan Bimoli.
  2. Bogasari. Produk di bawah SBG ini tidak diragukan telah mendominasi pasar tepung terigu.
  3. Agribusiness. SBG termuda di Indofood yang menjadi pelengkap integrasi vertikal dari bisnisnya.
  4. Distribution. Salah satu kunci dari kesuksesan Indofood adalah adanya sistem distribusi yang kuat dan dapat menjangkau sampai ke pelosok pedesaan sekalipun.

Sebagai sebuah bisnis, Indofood sangatlah menjanjikan dan membuat saya mau tak mau ingin melihat lebih dalam. Ketika membaca laporan tahunan 2009, ada beberapa hal yang menarik perhatian saya:

–         Indofood telah menyatukan divisi-divisi di bawah Consumer Branded Group (CBP) menjadi satu entitas bisnis. Rencananya, pada tahun 2010 Indofood akan melakukan spin-off SBG ini dan kita akan melihatnya melantai di bursa saham. Rencana ini sangat menarik karena CBP merupakan SBG Indofood yang paling menguntungkan. Bagi Indofood sendiri, rencana spin-off ini akan membuat CBP menjadi lebih gesit dan lebih cepat mengambil keputusan-keputusan strategis.

–         Pada semester kedua 2010, Indofood berencana untuk memasuki bisnis gula. Apakah yang akan ditawarkan oleh Indofood? Selama ini gula dianggap sebagai komoditas walaupun ada beberapa merk yang berusaha memberikan image bahwa gula bukan sekedar komoditas. Saya teringat pada cerita mengenai Aqua yang berhasil mengangkat air dari hanya sekedar komoditas menjadi produk unggulan. Akankah kita akan menyaksikan kejutan yang sama?

–         Adanya rencana percepatan pengurangan utang. Ini adalah salah satu langkah perusahaan yang sangat saya sukai. Utang yang kecil akan membuat langkah perusahaan menjadi lebih leluasa.

Cerita di atas memang terlihat sangat indah.Sekarang tiba saatnya untuk membedah kinerjanya dan memeriksa apakah kinerjanya seiring dengan cerita indahnya.

Kontribusi masing-masing SBG terhadap revenue adalah sbb:

Terlihat bahwa CBP dan Bogasari secara bersama-sama menyumbangkan 71% pendapatan Indofood. Pada tahun 2009, pendapatan dari CBP naik 34,5% dan pendapatan dari Bogasari turun 7,8%. Laba usaha hampir semua segmen naik kecuali SBG Agribusiness karena adanya penurunan harga CPO sepanjang tahun 2009.

Pada tahun 2009, pendapatan Indofood turun karena penurunan harga komoditas. Namun penurunan ini dioffset oleh kenaikan laba usaha dari CBP dan Bogasari sehingga pada tahun 2009, Indofood berhasil membukukan kenaikan laba bersih yang fantastis, yaitu 104%. Apabila kita menyingkirkan laba kurs, maka Indofood mencatat kenaikan laba bersih sebesar 59%, tetap terbilang sangat baik.

Walaupun tidak bisa dibilang rendah, D/E ratio Indofood terbilang cukup moderat, yaitu sebesar 1,67. Adanya keinginan perusahaan untuk menurunkan rasio ini menjadi sinyal yang menggembirakan.

Satu hal lagi yang menarik perhatian saya adalah ROE pada tahun 2009 mencapai 24%, meningkat cukup tajam dibandingkan dengan tahun 2008 yang sebesar 14%. Hal ini menjadikan INDF terlihat menarik untuk dijadikan sasaran investasi.

Valuasi Indofood

Dengan cerita bisnis yang menarik dan angka-angka yang kuat di dalam laporan keuangan, cukup layaklah kita melakukan valuasi terhadap INDF.

Berikut adalah hasil valuasinya:

Hasil dari valuasi sepertinya kurang menggembirakan karena harga wajarnya ternyata hanya 2,928 sedangkan INDF saat ini diperdagangkan di level 4,450.

Dengan P/E 15.46x dan long-term growth 13.67%, rasio P/E to Growth (PEG) INDF adalah 1.13 yang membuat INDF terlihat cukup mahal. Bagi yang belum familiar dengan rasio PEG, bisa membaca di sini.

Sepertinya lebih menarik bagi kita untuk menunggu hasil spin-off CBP INDF yang merupakan penyumbang pendapatan terbesar INDF.

Disclaimer is on.

2 thoughts on “INDF: The Noodle King

  1. Trims Pak Parahita.

    Saya masih baru belajar analisa FA, dan penjelasan pak parahita sangat membantu saya.

    Sebelumnya saya mau koreksi sedikit.
    Saat di perhitungan harga wajar, tampaknya ada sedikit kekeliruan dimana 5994 / 1.1541 hasilnya bukan 5647 melainkan 5193, sehingga return 6% nya bernilai 3727. CMIIW.

    Kemudian, yang ingin saya tanyakan :,
    1. berdasarkan perhitungan ini, INDF dengan harga 4450 merupakan harga wajarnya di tahun 2013. Sehingga INDF dgn harga 4450 di tahun 2010 ini tentunya akan dinilai sudah mahal. Yg jadi pertanyaan saya, jika diasumsikan INDF bertahan pada range harga 4250-4450 sampai akhir tahun 2010, apakah layak dikoleksi pak? Krn saya mikirnya, mungkin INDF tumbuh sangat pesat, sehingga harga wajar tahun 2013-nya bisa tercapai lebih awal.

    2. Saya suka mengalikan Current PER dengan Proyeksi EPS tahun 2010. Untuk INDF hasilnya adalah 4657. Apakah nilai ini masuk akal pak?

    3. Kl pak parahita berkenan, mohon diulas juga saham PGAS dan dibandingkan dgn INDF menggunakan metode ini. Saya menggunakan metode ini dan menemukan harga wajar PGAS adalah 3300, tapi dgn PEG 0,25. Mungkin hitungan saya salah. Tp anggaplah itungan saya ini benar, maka : apakah PGAS dgn harga 4100 dgn PEG 0,25 layak dikoleksi??

    Mohon maaf jika pertanyaannya nubi skali. Atas jawabannya saya ucapkan banyak terima kasih.

  2. @Emsipro
    O iya sepertinya memang salah. Terima kasih untuk koreksinya. Itu simulasi seandainya kita cukup puas dengan return 6% per tahun.

    1. Boleh aja mengkoleksi tapi dengan konsekuensi potensi returnnya mengecil🙂 Kalau diasumsikan INDF bakal tumbuh pesat, berarti kita harus mengubah parameter valuasinya supaya lebih akurat.
    2. PER saham itu selalu berubah-ubah. Kadang kala bisa jauh di atas rata2nya. Kalau kita secara gamblang mengalikan current PER dengan EPS nya, ada kemungkinan valuasinya ketinggian karena PER nya di atas PER rata2nya. Untuk kasus INDF ini sebenarnya bisa cukup safe menggunakan cara tersebut. Tapi memang biasanya untuk lebih secure saya hanya bisa kasih PER 12 sehingga valuasinya terlihat lebih rendah.
    3. PGAS sepertinya pernah saya bahas di tulisan sebelumnya. Mungkin bisa lihat2 ke belakang Pak🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s