Gallery

Dasar-Dasar Company Analysis

Sumber: http://fcogomezcpa.com

Ada beberapa komponen yang dapat kita jadikan pijakan awal sebelum melakukan company analysis. Analisanya mirip seperti kita menganalisa sebuah bisnis walaupun ada perbedaan dengan analisa bisnis biasa. Ketika kita melakukan analisa terhadap suatu perusahaan, ada baiknya kita memperhatikan hubungan antara kinerja perusahaan dengan perilaku sahamnya di bursa. Seperti yang telah diutarakan sebelumnya, dalam jangka pendek kemungkinan besar terjadi discrepancy antara value dengan harga sahamnya. Dengan mengetahui prospek suatu bisnis dan true value-nya, kita bisa mendapatkan imbal hasil yang memuaskan.

Beberapa hal mendasar yang digunakan untuk menganalisa suatu perusahaan adalah sbb:

1. Nature dari bisnisnya. Pada tahap ini kita pelajari bagaimana suatu bisnis dijalankan. Apa saja produknya, siapa segment marketnya, siapa saja pesaingnya, bagaimana potensi kesinambungan bisnisnya, bagaimana manajemennya. Pendeknya, kita mencoba untuk mengetahui bagaimana suatu perusahaan beroperasi. Mengenai hubungan antara bisnis dengan manajemennya, ada beberapa kemungkinan. Terkadang kita akan menemui suatu bisnis yang begitu bagusnya sehingga meskipun manajemennya biasa-biasa saja tetap saja perusahaan tetap untung. Bisa juga terjadi keadaan yang sebaliknya. Pada industri yang sedang meredup, ide cemerlang dan pengelolaan manajemen yang baik akan membuat perusahaan kuat dan profitable. Kondisi terburuk adalah bisnis yang meredup yang dikelola oleh manajemen yang buruk. Tinggalkan saja perusahaan jenis ini.

2. The base: Permodalan. Ketika muncul suatu ide bisnis, langkah selanjutnya adalah mencari modal. Terdapat 2 cara utama. Yang pertama adalah mencari investor yang mau menyertakan modal dalam bentuk kepemilikan bisnis. Jika perusahaan go public, maka tanda kepemilikan itu disebut dengan saham. Semakin besar keuntungan perusahaan, maka semakin besar pula keuntungan yang diperoleh investor saham. Cara kedua adalah dengan meminjam dana. Karena berbentuk utang, maka suatu saat harus dikembalikan. Kreditur akan secara berkala menerima bunga dengan jumlah tertentu. Di pasar, utang ini disebut dengan obligasi. Di neraca keuangan, modal yang berasal dari saham disebut dengan equity dan modal yang berasal dari obligasi/utang disebut dengan liabilities.
Perbandingan liabilities terhadap equity akan memberikan kita informasi mengenai struktur modalnya. Biasanya rasio ini disebut dengan D/E ratio (Debt to Equity Ratio). Secara umum semakin besar D/E ratio, semakin besar risiko yang dihadapi oleh perusahaan. Mengapa?Liabilites terdiri atas utang-utang yang suatu saat harus dibayar termasuk bunga. Utang yang terlalu besar akan sangat terasa terutama ketika perekonomian memburuk. Ketika penjualan anjlok, perusahaan tetap berkewajiban membayar utang-utang tersebut. Walaupun tidak tertutup kemungkinan perusahaan yang utangnya kecil bangkrut karena krisis, yang lebih sering terjadi adalah bangkrutnya perusahaan dengan utang menggunung.

3. Profit. Sekuat apapun struktur modal suatu bisnis, tetap tidak akan ada artinya jika tidak bisa menghasilkan keuntungan. Pada sebuah bisnis yang bagus, kita akan melihat profit yang tidak hanya besar namun juga terus meningkat dengan mantap. Yang perlu diperhatikan adalah konsistensi perusahaan untuk dapat meningkatkan labanya dari tahun ke tahun. Laba yang besar dalam 1 tahun namun diikuti dengan kerugian pada tahun-tahun selanjutnya sangat tidak diinginkan. Begitu pula dengan konsistensi peningkatan laba (growth). Laba yang naik turun akan mempersulit kita untuk memperkirakan bagaimana prospek suatu bisnis ke depannya. Bagi saya akan sangat menyenangkan jika memiliki bisnis yang labanya konsisten naik dari tahun ke tahun 
Pengecualian bisa diberikan untuk perusahaan yang berpotensi untuk turnaround. Perusahaan jenis ini terlihat sangat buruk terlihat saat ini. Namun jika kita jeli, perusahaan tersebut berpotensi untuk menghasilkan keuntungan yang besar di masa depan. Menemukan perusahaan seperti ini lebih sulit daripada menemukan perusahaan yang secara nyata berkinerja excellent.

4. Cash Flow. Cash flow (arus kas) adalah darah bagi suatu bisnis. Laba yang besar namun tidak dibarengi dengan adanya cash inflow akan menjadi tanda tanya besar? Apakah hal tesebut mungkin terjadi? Sangat mungkin. Banyaknya piutang yang tertunda pembayarannya atau malah tidak tertagih, ekspansi yang tidak terukur dengan baik, biaya operasional yang tinggi adalah penyebabnya.

5. Nilai saham. Jika kita merasa yakin telah menemukan perusahaan yang bagus setelah melakukan analisa point 1-4, sebelum membelinya kita harus memastikan bahwa harga yang ditawarkan tidak terlalu mahal. Proses ini dinamakan dengan valuasi. Seringkali harga saham menjadi terlalu mahal ketika terjadi bubble di bursa. Market menjadi over optimistic dan melambungkan harga saham terlalu tinggi. Bukan posisi yang bagus bagi kita untuk membeli. Jika kita sabar, akan tina saatnya market berlaku sebaliknya. Harga saham dijatuhkan dan menjadi sangat mudah mencari saham yang dijual dengan harga kelewat murah. Contohnya adalah tahun 2008 saat terjadi krisis global.

Kelima langkah tersebut merupakan frame work kita untuk melakukan analisa terhadap suatu perusahaan. Mirip seperti menganalisa suatu bisnis biasa ya?

Yes, indeed

One thought on “Dasar-Dasar Company Analysis

  1. Bung Parahita,
    Tulisan2 disini sangat bermanfaat terutama bagi sy yang baru belajar mengenal pasar saham. Mohon ijin copy paste bung parahita.

    Terima kasih
    Bayu Parahita

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s