Strategi Dollar Cost Averaging (DCA)

Salah satu strategi yang populer dalam berinvestasi di reksa dana adalah Dollar Cost Averaging (DCA). Konsep dari strategi ini adalah melakukan investasi yang rutin dalam jumlah yang sama tanpa memperdulikan berapa NAB saat itu. Tujuan dari strategi ini adalah untuk mengurangi risiko yang muncul jika kita berinvestasi secara lump-sum.
Dengan DCA, kita bisa terhindar dari kerugian yang lebih besar saat market turun setelah kita melakukan investasi.

Tentu saja ada beberapa hal yang harus kita korbankan jika kita menerapkan strategi ini:

  • Dalam jangka panjang, umumnya metode DCA akan memberikan return yang lebih rendah daripada metode lump-sum walaupun bisa saja DCA lebih besar returnnya jika kita melakukan lump-sum saat market mencapai nilai tertinggi.
  • Horison investasi yang terlalu pendek akan menyebabkan return yang kita dapatkan tidak optimal karena dana yang kita investasikan belakangan akan mendapatkan return yang lebih rendah.

Walaupun memiliki beberapa kekurangan, DCA menjadi strategi yang populer karena memiliki keuntungan-keuntungan sebagai berikut:

  • Dengan berinvestasi secara rutin, kemungkinan kita terkena imbas kejatuhan market yang dalam semakin kecil. Dengan kata lain, DCA memperkecil volatilitas investasi kita.
  • Dengan DCA, kita bisa ’mencicil’ investasi kita. Kita tidak perlu menyiapkan dana dalam jumlah banyak sekaligus untuk berinvestasi.
  • Konsep berinvestasi secara rutin akan mengurangi unsur subjektivitas kita dalam berinvestasi.
  • DCA merupakan strategi yang sederhana dan cukup tepat bagi investor pemula karena tidak perlu memikirkan market timing dalam berinvestasi.

Strategi DCA ini akan lebih efektif jika market sangat fluktuatif. Saat market bullish, maka kinerja DCA akan tertinggal jauh dari metode lump-sum. Saat market bearish, DCA akan bekerja lebih baik daripada metode lump-sum. Pada saat market bearish, ada baiknya DCA digabungkan dengan metode ‘buy on weakness‘ agar lebih optimal.

Jika kita menerapkan strategi DCA, ada beberapa hal yang harus kita perhatikan. Yang pertama adalah horison investasi kita. Kita sebaiknya menetapkan seberapa jauh horison investasi kita agar dapat menetapkan berapa jumlah yang akan kita investasikan secara rutin. Penentuan horison investasi ini juga berguna untuk mencapai tujuan investasi kita.
Hal lain yang perlu diperhatikan adalah seberapa rutin kita akan berinvestasi. Apakah bulanan, 6 bulanan, atau tahunan. Semakin lama jarak antar investasi, maka investasi kita akan semakin investasi lump-sum.

Untuk mengatasi kelemahan strategi DCA yaitu return yang lebih kecil daripada metode lump-sum, ada beberapa strategi yang dapat kita terapkan antara lain ‘buy on weakness‘ dan market timing dengan moving average. Kedua strategi ini akan saya bahas pada bagian selanjutnya.

7 thoughts on “Strategi Dollar Cost Averaging (DCA)

  1. @manis
    Ada berbagai tipe investor. Ada yang niat bener2 belajar fundamental, ada yang belajar teknikal, dll. Akan tetapi kebanyakan investor adalah orang yang berinvestasi tanpa mau terlalu mendetil bagaimana menghitung valuasi dan tetek bengek lainnya. Biasanya investor jenis ini adalah karyawan kantoran yang tidak mau ribet dengan kalkulasi njelimet. Di sini DCA adalah solusi yang cukup bagus.

    Menurut saya, DCA bukan metode investasi yang buruk. Think again, kita membeli dalam jumlah kecil saat harga tinggi dan membeli dalam jumlah banyak saat harga murah. Semua itu dapat kita lakukan tanpa perlu effort yang besar dengan DCA🙂

    Satu lagi, DCA menghilangkan faktor emosi dan bias yang sering menghantui para investor.

    Jujur aja, apakah kita benar-benar netral dalam melakukan valuasi. Apakah kita bebas dari emosi saat nilai investasi kita terpuruk?

  2. haahahah
    if we use lump sump we will use our brain mostly

    to make it easier check average P/E of the market
    or index to see whether is overvalue or undervalue

    u can check individual of of the index, it is over or under, or the weighted of some stock in index
    etc
    😀

  3. Yes, P/E is a simple method to see whether a stock is under/over valued despite it’s accuracy in valuing it.

    Lump sum strategy will work best if we buy the stock at the right time and at the right value🙂

  4. Wah, rame juga argumen pro lump sum n dca walau bro dunkz netral? Postingan diatas walau dca, ada kata2 buy on weakness. Isn’t it equals with lump sum? dca ga ada dalam value investing? Dalam bukunya ben grahamkan ada chapter yg menyebutkan ga byk active investor,shg utk yg umum sbaiknya pasif n dca pada index investing (mdh2n ga slh penerjemahan).

    Just my little thought

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s