Gallery

Realitas dan Persepsi Mengenai Realitas

Sebagai seorang investor, pernahkah Anda merasa kecewa karena saham yang telah Anda beli tidak kunjung naik harganya bahkan mungkin cenderung turun? Padahal sebelum Anda memutuskan untuk membeli saham tersebut Anda telah melakukan analisis secara mendalam. Anda tidak sendirian. Bahkan seorang analis yang sangat berpengalaman pun kemungkinan besar pernah mengalami hal yang sama. Mengapa hal itu bisa terjadi? Bukankah seorang analis yang profesional telah dibekali dengan berbagai macam ilmu untuk menilai harga wajar dari suatu saham? Apakah penilaian sang analis itu salah? Belum tentu.

Kebanyakan teori mengenai investasi didasarkan pada sebuah asumsi bahwa pelaku pasar akan bertindak secara rasional dalam mengambil keputusan. Asumsi ini pula yang melahirkan teori pasar efisien. Katakanlah saham A dan B saat ini diperdagangkan pada harga yang sama, yaitu Rp 1.000,00. Berdasarkan penilaian kita, harga saham A seharusnya bernilai Rp 1.400,00, sedangkan harga saham B berdasarkan metode yang sama seharusnya harganya hanya Rp 800,00. Sebagai seorang investor yang rasional, tentu saja kita akan memutuskan untuk membeli saham A yang harganya berpotensi untuk naik sebesar 40% dan tidak membeli saham B karena harganya sudah terlalu mahal. Apa yang terjadi? Setelah kita membeli sejumlah saham A, ternyata harganya turun menjadi Rp 900,00. Saham yang kita rasakan terlalu mahal malah naik menjadi Rp 1.300,00. Aneh bukan? Sekali lagi saya katakan, Anda tidak sendirian. Banyak sekali investor yang pernah mengalami hal seperti itu. Mungkin Anda akan bertanya, kalau memang harga suatu saham tidak bisa diprediksi, apa gunanya kita melakukan analisis yang rumit untuk mengambil keputusan membeli atau menjual suatu saham? Toh, harganya tidak sesuai dengan ekspektasi kita.

Sebelum saya menjawab pertanyaan Anda, saya akan menjelaskan bagaimana harga saham terbentuk dan bergerak. Jumlah investor di bursa saham sangatlah banyak. Menurut data terakhir, saat ini jumlah investor yang terdaftar di BEJ adalah sekitar 300.000. Walaupun jumlah investor di BEJ tidaklah terlalu banyak apabila dibandingkan dengan jumlah investor di NYSE (New York Stock Exchange), namun jumlah ini sudah relatif besar. Setiap harinya saham-saham yang terdaftar di BEJ akan diperdagangkan oleh para investor tersebut. Sebagai gambaran sederhana, proses terbentuknya harga suatu saham adalah sebagai berikut:

Investor X ingin membeli saham A pada harga Rp 980,00
Investor Y ingin menjual saham A pada harga Rp 1.100,00

Pada kondisi seperti itu, tidak akan terjadi transaksi pada saham A karena harga yang diinginkan oleh kedua investor tersebut untuk melakukan transaksi tidak cocok. Bagaimana jika kemudian datang  investor Z yang bersedia untuk menjual saham A di harga Rp 970,00? Karena penawaran jual investor Z tersebut lebih rendah dari harga pembelian yang diinginkan oleh investor X, maka terjadilah transaksi untuk saham A di harga Rp 980,00. Mengapa Rp 980,00? Penawaran beli terakhir untuk saham A adalah Rp 980,00. Jadi walaupun investor Z sudah bersedia untuk menjual sahamnya di harga Rp 970,00, BEJ tetap akan mencatat transaksi di harga Rp 980,00. Sebagai akibatnya harga saham A yang awalnya Rp 1.000,00 turun menjadi Rp 980,00.

Di bursa saham, tentu saja investor yang terlibat dalam perdagangan tidak hanya tiga orang seperti gambaran saya tersebut melainkan ratusan bahkan ribuan. Setiap investor memiliki harapan yang berbeda-beda terhadap harga suatu saham. Hal inilah yang menyebabkan harga suatu saham akan terus bergerak secara dinamis. Peranan apakah yang dimainkan oleh “realitas” dan “persepsi” seperti yang tertera pada judul tulisan saya ini?

Jika seorang investor telah menggunakan asumsi yang tepat dan melakukan perhitungan dengan cermat untuk menilai harga suatu saham, maka dapat kita katakan bahwa realitanya, harga saham tersebut (sebagai contoh adalah saham A) adalah Rp 1.400,00. Lho, bukankah kenyataannya harga saham A sekarang adalah Rp 900,00? Mengapa saya mengatakan bahwa kenyataannya harga saham A adalah Rp 1.400,00?

Seperti yang telah saya kemukakan di atas, investor tersebut telah menggunakan asumsi yang tepat. Hal ini akan menjadi dasar yang sangat baik dalam melakukan penilaian suatu saham. Setelah menetapkan asumsi yang akan digunakan, investor tersebut melakukan perhitungan nilai wajar saham tersebut dengan cermat. Artinya, investor tersebut menggunakan metode penilaian yang tepat dan tidak melakukan kesalahan dalam melakukan perhitungan. Secara logis, dapat dikatakan bahwa hasil penilaian investor tersebut adalah tepat. Harga yang wajar untuk saham A adalah Rp 1.400,00 dan bukan Rp 900,00 seperti saat ini. Penurunan harga yang terjadi merupakan akibat dari persepsi mayoritas investor terhadap saham A. Tidak semua investor dapat memperkirakan nilai wajar suatu saham dengan tepat. Ada investor yang hanya mengandalkan perasaan dalam mengambil keputusan. Ada investor yang membeli suatu saham karena di waktu yang lalu dia pernah mendapatkan keuntungan yang banyak dari saham tersebut. Masih banyak lagi motif investor dalam mengambil keputusan untuk membeli saham A seperti contoh kita ini.

Nah, sekarang mulai terlihat jelas perbedaan antara “persepsi” dan “realitas”. Anda tentu akan bertanya kembali, mengapa kita harus bersusah payah menganalisis saham yan akan kita beli kalau terdapat berbagai macam persepsi yang berbeda-beda terhadap harga saham tersebut? Well, memang terdapat kemungkinan persepsi mayoritas investor terhadap suatu saham akan menimbulkan bias yang tercermin pada harga saham tersebut. Meminjam istilah George Soros, terdapat divergensi antara realitas dan persepsi. Seringkali divergensi yang semakin melebar akan membuat harga saham sangat jauh menyimpang dari kenyataan. Pada kondisi seperti ini, kita mengatakan bahwa para investor bersikap “over-react”. Jika kejadiannya seperti saham B pada cerita kita sebelumnya, divergensi yang semakin melebar akan menimbulkan bubble yang dapat pecah sewaktu-waktu karena harapan mayoritas investor akan kenaikan harga saham B bertabrakan dengan realitas bahwa saham B hanyalah bernilai Rp 800,00. Kapan? Pertanyaan yang sulit untuk dijawab. Yang pasti, semakin lama bubble berlangsung, kemungkinan untuk pecah sewaktu-waktu akan semakin besar.

Seorang investor yang berpikir secara rasional tetap akan menghadapi kemungkinan mengalami kerugian. Demikian halnya dengan investor yang irasional. Perbedaannya, jika harga saham yang dimiliki tidak sesuai dengan harapan, investor yang rasional masih dapat berharap suatu saat harga akan berbalik sesuai dengan harapan mereka karena dasar dalam pengambilan keputusan bertransaksi adalah akal sehat. Seorang investor yang bertindak secara irasional tidak memiliki dasar yang kuat dalam pengambilan keputusan. Pada saat keadaan berbalik, mereka tidak akan memiliki alasan yang kuat untuk mempertahankan posisi mereka di saham yang mereka miliki.

Saya teringat seorang rekan saya yang mengatakan bahwa jika kita tidak tahu harus berbuat apa, gunakanlah akal sehat. Setidaknya dengan menggunakan akal sehat, kita masih mempunyai pegangan yang kuat apabila keadaan berbalik melawan kita. Sebuah nasihat yang bijaksana!

Selamat berinvestasi!

One thought on “Realitas dan Persepsi Mengenai Realitas

  1. Saya sering mengalami ini, “fail and keep fail”, membeli barang seperti kucing dalam karung, tanpa analisa dan pertimbangan mendalam serta memberikan ruang bagi kemingkinan-kemungkinan di masa depan. . . .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s