Special Package untuk Analisa Fundamental Saham

Sudah hampir setahun sejak buku Street Investing mulai diterbitkan. Di dalam buku tersebut terdapat banyak sekali panduan untuk melakukan analisa fundamental saham. Sepertinya masih ada yang kurang, yaitu data laporan keuangan untuk menerapkan berbagai macam strategi yang terdapat di dalam buku tersebut.

Untuk mempermudah dalam melakukan analisa saham, terdapat tool yang secara berkala diupdate dan diupload di blog ini (versi terakhir adalah v1.4).

Bagaimana jika kesemuanya digabungkan? Very powerful.

Kali ini kami akan memberikan penawaran khusus yang terdiri dari:

  1. Buku Street Investing
  2. Data laporan keuangan dan laporan tahunan emiten BEI sejak tahun 2004 (ukuran +/- 24Gb)
  3. BONUS: Valuation & Ratio Spreadsheet v2.0. Tool ini adalah versi terbaru yang belum pernah dirilis sebelumnya. Apa yang baru pada versi ini? Ada tambahan screening saham ala Peter Lynch, seorang stockpicker handal yang legendaris. Selain itu, banyak perbaikan signifikan yang saya sertakan di dalam versi ini.

Harga paket:  Rp 425.000,- (free ongkir ke seluruh Indonesia).

Pengiriman akan dilakukan via JNE. Untuk memesan silakan isi form berikut ini. Kami akan merespons pada kesempatan pertama.

Disclaimer: Kami tidak bertanggung jawab atas akurasi data  hasil kompilasi dan kerugian apapun terkait dengan penggunaan data yang ada di dalam kompilasi tersebut. Pergunakanlah data tersebut dengan bijak untuk membantu analisis investasi Anda.

Gallery

Bagaimana Cara Mengoptimalkan Komposisi Portfolio?

Andaikan kita telah melakukan analisis terhadap suatu saham dan menemukan beberapa saham yang menarik dan akan dimasukkan ke dalam portfolio. Pertanyaan yang mungkin terpikir adalah: Berapa persen komposisi masing-masing saham pilihan di dalam portfolio?

Cara paling mudah adalah dengan:

  1. Memberikan bobot yang sama untuk masing-masing saham di dalam portfolio, atau
  2. Memberikan bobot lebih tinggi pada saham yang berpotensi memberikan imbal hasil lebih tinggi.

Cara-cara tersebut memang mudah dan di dalam banyak kasus dapat memberikan keuntungan yang memuaskan.  Jika Anda tidak ingin berhenti di situ dan ingin mencoba mengeksplorasi lebih jauh, ada sebuah metode untuk menentukan proporsi optimal saham-saham di dalam portfolio.

Idenya adalah mencari komposisi portfolio yang bisa memberikan reward to risk tertinggi. Untuk mengukur reward to risk, kita mempergunakan Sharpe Ratio –> (imbal hasil saham – risk free return) / standar deviasi. Risk free return pada contoh adalah BI rate yang melambangkan instrumen investasi dengan risiko sangat rendah.

Yang kita butuhkan adalah:

  1. Data imbal hasil bulanan masing-masing saham
  2. Risk free rate

Setelah itu, susun datanya ke dalam tabel seperti di bawah ini. File excel bisa diunduh di http://www.4shared.com/file/rQIlquEA/Portfolio_Optimal.html

Row 15-31 sengaja saya sembunyikan agar dapat melihat secara keseluruhan. Ada tiga saham yang saya jadikan contoh, yaitu TSPC, UNVR, dan KLBF. Secara default, saya memberikan komposisi untuk masing-masing saham tersebut secara berturut-turut 20%, 30%, dan 50%. Dengan komposisi tersebut portfolio kita diharapkan bisa memberikan imbal hasil sebesar 5.30% (per bulan) dan standar deviasi sebesar 7.12%. Sharpe ratio portfolio untuk komposisi tersebut adalah sebesar 0.68.

Formula di masing-masing cell dapat dilihat pada gambar berikut:

Risk free rate adalah 5.75% (tahunan) atau 0.47% (bulanan).

Lalu bagaimana menghitung komposisi optimal yang bisa memberikan reward to risk tertinggi? Kita akan mempergunakan Solver, sebuah add-in dari Microsoft Excel.

Untuk mengakses Solver, di Excel pilih Data –> Solver

Akan muncul window berikut. Isikan sesuai dengan gambar berikut.

Setelah selesai mengisi, klik tombol Solve. Hasilnya adalah sebagai berikut:

Terlihat bahwa komposisi optimal portfolio kita dapat dicapai dengan memberikan bobot pada TSPC sebesar 17.22%, UNVR 45.14%, dan KLBF 37.64%. Dengan komposisi tersebut, kita berharap akan mendapatkan imbal hasil sebesar 4.58% dan Sharpe Ratio sebesar 0.7. Terlihat bahwa Sharpe Ratio lebih tinggi dari kondisi sebelum optimalisasi

Silakan mencoba 🙂

File Excel dapat diunduh di: http://www.4shared.com/file/rQIlquEA/Portfolio_Optimal.html

Walaupun cara ini hanyalah pendekatan kasar, paling tidak kita bisa mendapatkan estimasi proporsi yang cukup baik.

Gallery

McKinsey: Indonesia Akan Menjadi Kekuatan Ekonomi ke-7 Tahun 2030

Laporan McKinsey tentang Indonesia yang berjudul “The archipelago economy: Unleashing Indonesia’s potential” memang cukup menarik sekaligus mengejutkan. Dalam laporan tersebut dikatakan bahwa Indonesia berpotensi untuk menjadi kekuatan ekonomi ke-7 di dunia pada tahun 2030. Tentu saja hal tersebut dapat tercapai dengan beberapa syarat, a.l: peningkatan produktivitas, pemerataan pertumbuhan ekonomi, dan pemecahan masalah bottleneck infrastruktur. Harus diakui memang ketiga isu tersebut memang benar adanya.

Tentunya materi laporan tersebut sangat potensial akan menjadi bahan perdebatan. Terlepas dari apakah benar akan terjadi atau tidak (semoga saja terjadi, aamin), yang pasti pertumbuhan ekonomi Indonesia cukup mengesankan. Hal tersebut pernah saya sampaikan di dalam salah satu artikel di blog ini di http://parahita.wordpress.com/2011/08/11/dan-kita-berlari-sangat-kencang/

Bagusnya kinerja emiten-emiten BEI juga pernah saya bahas di http://parahita.wordpress.com/2012/05/07/melihat-posisi-indonesia-di-dunia-company-level/

Sebagai orang Indonesia dan sekaligus investor kelas jalanan, saya akan sangat bergembira apabila prediksi McKinsey tersebut ternyata menjadi kenyataan. Sebagai investor, kita sebaiknya memantau perkembangannya dari waktu ke waktu. Bagaimanapun juga, arah kebijakan pemerintah akan sangat berpengaruh terhadap perkembangan industri.

Mungkin ada baiknya kita juga mengunjungi situs MP3EI di www.mp3ei.com. Meskipun penyelesaiannya akan menjadi tugas yang berat, tidak ada salahnya kita mencoba menelusuri potensi-potensi yang mungkin muncul di industri yang berkaitan dengan program tersebut.

Bagaimanapun juga, kemajuan dan kebaikan Indonesia adalah harapan kita semua.  Untuk melengkapi, artikel akan saya tutup dengan sebuah lagu yang sangat memberikan semangat dan kebanggaan sebagai orang Indonesia:

Jayalah Indonesiaku!!!

Gallery

Updated: Melihat Posisi Indonesia di Dunia (Company Level)

Pada artikel sebelumnya di sini, telah dibahas bagaimana kondisi fundamental perusahaan-perusahaan di Indonesia apabila dibandingkan dengan negara-negara lain di dunia. Kali ini saya akan mencoba meng-update dan mengelompokkannya dengan lebih rapi.

Potret 5 bulan yang lalu tersebut memperlihatkan bahwa emiten-emiten di BEI kinerjanya sangat bagus dan masih layak menjadi tempat berinvestasi. Bagaimana dengan saat ini? Saya akan mencoba memotretnya. Terdapat 3 aspek analisis, yaitu:

  1. Risk, yang diwakili oleh DER dan Interest cover.
  2. Potential, yang diwakili oleh growth (earnings), ROE, dan ROA.
  3. Valuation, yang diwakili oleh PER dan PBV.

The Whole Picture

Terlihat bahwa pertumbuhan emiten-emiten di BEI secara umum sangat tinggi. Terdapat 45.1% perusahaan dengan tingkat pertumbuhan lebih dari 10% dan hampir menyamai Cina. Yang mengejutkan sekaligus juga mengesankan, ROE dan ROA emiten BEI juga lebih tinggi daripada rata-rata negara di kawasan lain. Sementara itu, tingkat risiko bisnis masih dalam level aman meskipun tetap harus diwaspadai.

Regional Comparison: The Growing Asia

Jika kita membandingkan kondisi fundamental antar regional, terlihat bahwa pertumbuhan emiten-emiten Asia cukup tinggi dan hanya dikalahkan oleh emiten-emiten di kawasan Afrika dan Timur Tengah. Demikian pula dengan ROE dan ROA yang masih cukup potensial. Satu hal yang perlu diwaspai adalah PER dan PBV yang cenderung tinggi.

Europe in Crisis

Krisis ekonomi Eropa yang masih berlanjut tercermin pada perusahaan-perusahaan di negara yang terkena imbasnya, yaitu Yunani, Spanyol, dan Italia. Terlihat bahwa dari sisi risiko, potensi dan kewajaran harga saham, kondisi mereka tidak terlalu menggembirakan. Sebagai contoh, hanya 5.5% emiten di Yunani yang pertumbuhan labanya di atas 10%, jauh di bawah rata-rata dunia yaitu 18%.

The Case of BRIC: Underperformed India?

Bagaimana dengan kondisi negara-negara BRIC (Brazil, India, Rusia, Cina) yang dijagokan menjadi negara maju di masa mendatang? Terlihat bahwa pertumbuhan laba mereka cukup tinggi, jauh di atas rata-rata dunia.  Meskipun begitu, sepertinya India kinerjanya tidak sebagus negara-negara BRIC lain. Hanya 5.8% emitennya yang memiliki ROE > 15%. Satu hal yang menarik adalah bahwa pertumbuhan lama dan ROE emiten-emiten di Indonesia jauh lebih tinggi daripada India.

Selected Countries

Tidaklah lengkap rasanya apabila kita tidak memasukkan Singapura sebagai negara tetangga dan Amerika Serikat sebagai negara dengan ekonomi terkuat. Terlihat bahwa pertumbuhan laba emiten-emiten di AS cenderung rendah, jauh di bawah rata-rata emiten lain di dunia. Sepertinya kondisi ekonomi negara tersebut yang goyang sebagai akibat dari krisis kredit masih belum pulih.

Final Words

Kondisi fundamental emiten-emiten di BEI secara umum cukup dan sekarang masih dijual dengan harga yang cukup wajar. Tingginya pertumbuhan ekonomi Indonesia tercermin pada kinerja emiten-emitennya sehingga menjadikannya sangat menarik.

Gallery

KBLI: Growing with The Nation

Industri kabel mungkin tidak banyak diminati oleh investor di BEI. Pamornya kalah jauh dengan industri pertambangan, properti atau perbankan. Jika kita melihat dari sudut pandang lain, hal tersebut justru akan menguntungkan investor. Saham-saham yang menjadi market darling biasanya menjadi rebutan pelaku pasar sehingga susah untuk menemukan yang harganya masih murah. Berbeda dengan saham-saham yang berada di industri yang kurang populer, banyak saham yang dijual dengan harga murah. Tugas investor adalah menemukan emiten yang kinerjanya bagus sehingga bisa memberikan keuntungan yang memuaskan.

Ada apa dengan PT KMI Wire and Cable Tbk (kode BEI:KBLI)? Well, sebenarnya cerita tentang KBLI tidak jauh-jauh dari efek domino pertumbuhan ekonomi Indonesia yang pesat. Tanpa disadari, industri kabel cukup diuntungkan dengan banyaknya pembangunan infrastuktur belakangan ini. KBLI memproduksi kabel dan kawat yang banyak dibutuhkan oleh industri dan gedung-gedung. KBLI memiliki tiga jenis produk, yaitu kabel tegangan rendah, kabel tegangan menengah dan kabel instrumen/kontrol. Kapasitas produksinya 27.000 ton/tahun yang terdiri dari 12.000 ton/tahun untuk kabel listrik aluminium dan 15.000 ton/tahun untuk kabel listrik tembaga.

Breakdown untuk penjualan KBLI adalah sbb:

Terlihat bahwa penjualan terbesar KBLI disumbang oleh kabel tegangan rendah (81%) dengan pelanggan terbesar adalah sektor swasta (76.20%). Fakta ini menarik karena seperti yang telah kita ketahui saat ini permintaan domestik sangat tinggi dan menguntungkan bagi KBLI. Pada tahun 2012, KBLI berharap akan adanya peningkatan pasokan kabel untuk PLN seiring dengan proyek pembangkit listrik 10.000 MW yang sedang berjalan.

Bagaimana kinerja keuangan KBLI?

Tampak bahwa revenue, operating income dan net income KBLI terus meningkat selama tiga tahun terakhir. Operating cash flow pun tumbuh dengan mantap diiringi dengan terus menurunnya DER. Yang menjadi ganjalannya adalah rendahnya ROE yang sebagai akibat dari kuasi-reorganisasi yang dilaksanakan pada tahun 2010.

Tentang Kuasi Reorganisasi

Kuasi-reorganisasi adalah penilaian kembali aset dan kewajiban perusahaan dengan menyesuaikannya dengan kondisi saat ini. Tujuan dari kuasi-reorganisasi adalah menghilangkan defisit laba yang cukup besar. Dari tabel di bawah terlihat bahwa retained earnings KBLI sampai dengan tahun 2010 minus cukup besar. Minusnya retained earnings mendera KBLI sejak krismon tahun 1997. Kuasi-reorganisasi ini akan berdampak cukup bagus bagi KBLI karena posisi cash-nya cukup aman karena seakan-akan perusahaan restart dari awal. Dengan prospek bisnis yang cukup bagus, KBLI akan mulai bisa membagikan dividen karena jika masih ada defisit laba, dividen tidak bisa dibagikan.

Membaiknya kinerja KBLI juga tercermin dari pergerakan harga sahamnya yang terus meningkat sejak tahun 2008 seiring dengan meningkatnya laba. Berdasarkan outlook laporan keuangan kuartalan, KBLI kemungkinan besar masih akan membukukan kenaikan laba di tahun 2012.

Bagaimana dengan Valuasinya?

Pada level harga saat ini, KBLI masih menarik dengan MoS memadai, yaitu sebesar 30.1%.

Risiko Bisnis KBLI

  1. Adanya kenaikan harga bahan baku yaitu tembaga dan aluminium yang berpotensi memaksa KBLI untuk menaikkan harga jual.
  2. Menguatnya US dollar akan membuat beban bunga KBLI meningkat karena sebagian besar utangnya berdenominasi US dollar.

Disclaimer is on.

Gallery

Digitalisasi Newsweek: Awal dari Berakhirnya Era Kertas?

Sumber: Talking Biz News

Hari Kamis lalu Newsweek mengumumkan bahwa edisi Desember akan menjadi edisi cetak terakhir dari majalah tersebut. Newsweek terbit pertama kali pada tahun 1933 yang berarti usianya sudah 79 tahun.

Meningkatnya penggunaan internet sebagai media untuk mendapatkan berita terbaru seperti yang diutarakan oleh editornya, Tina Brown, telah mencapai titik yang efektif dan efisien untuk bertransformasi ke dunia digital. Versi digital akan muncul di awal tahun 2013 dengan nama Newsweek Global yang bisa didapatkan dengan cara berlangganan.

Memegang majalah atau surat kabar yang dicetak di kertas adalah sebuah pengalaman tersendiri yang tidak terbayangkan akan tergantikan oleh media lain. Sayangnya, perkembangan internet dan tablet telah mengubah itu semua. Berapa banyak dari kita yang masih berlangganan surat kabar atau majalah? Saya sendiri mungkin hanya sesekali membeli majalah ketika ada topik yang menarik. Selebihnya saya mendapatkan informasi dari internet. Lagi pula, sudah banyak surat kabar dan majalah yang menerbitkan versi digital dari terbitannya yang bisa dengan mudah kita baca di tablet atau laptop.

Serbuan dari internet bukannya tidak mendapatkan perlawanan dari kubu cetak. Agar pembaca tetap tertarik dengan versi cetak, beberapa surat kabar berusaha menyajikan beritanya dengan gaya narrative journalism. Intinya, mereka berusaha meningkatkan kualitas tulisannya dan memberikan sisi pandang lain dari sebuah berita. Sayangnya hal tersebut sepertinya akan sia-sia karena siapa yang bisa menghalangi gaya yang sama diterapkan di versi digital?

Gadget terbaru dirancang agar penggunanya dapat membaca dengan nyaman. Berbagai macam teknologi telah ditawarkan untuk tujuan tersebut dan dari hari ke hari penggunanya terus meningkat. Internet memiliki tiga keunggulan utama yang tidak dimiliki oleh versi cetak yaitu kecepatan penyajian berita, kecepatan penggandaan dan pendistribusian, serta adanya interaksi dengan pembacanya. Oleh karenanya, perlahan tapi pasti kenyamanan yang ditawarkan oleh media cetak mulai digeser oleh internet.

Terlihat pada grafik di atas, jumlah pelanggan majalah mulai menurun sejak tahun 2008 sementara untuk penjualan eceran malahan sudah sejak lama menurun. Gartner memprediksi pada tahun 2012 penjualan tablet akan mencapai 119 juta unit dan pada tahun 2016 akan mencapai 369 juta unit.(Gartner adalah perusahaan terkemuka yang bergerak di bidang riset dan penasihat teknologi informasi). Ancaman terhadap penerbit berbasis kertas semakin terlihat nyata.

Sebenarnya Newsweek bukanlah media pertama yang memutuskan untuk berpindah total menjadi digital. Bulan lalu majalah SmartMoney pun telah sepenuhnya berubah menjadi digital. Kebesaran nama Newsweek lah yang membuat berita ini mengejutkan banyak pihak.

Kita telah menyaksikan kematian telegram yang digantikan oleh SMS. Kita juga telah menyaksikan bagaimana peran surat telah digantikan oleh e-mail. Apakah era kertas akan mengakhiri masa kejayaannya?

Gallery

BRNA: Catching The Moment

Pada awalnya saya tidak terlalu tertarik dengan emiten ini. Kinerjanya cukup bagus namun tidak bisa dibilang outstanding. Kondisi tersebut berubah ketika saya membaca artikel di swa yang membahas tentang perubahan yang terjadi di BRNA.

Berlina (kode BEI: BRNA) adalah perusahaan yang memproduksi kemasan plastik untuk kosmetik, obat-obatan, makanan & minuman, dan barang-barang industri lainnya. Berlina memiliki 4 buah pabrik yang berlokasi di Pandaan (Jawa Timur), Tangerang, Cikarang, dan Hefei (Cina) dengan pelanggan yang merupakan perusahaan terkemuka seperti Unilever (Indonesia & Cina), PT Tirta Investama (Danone Aqua), PT Campina Ice Cream, PT Bayer Indonesia, dan masih banyak lainnya.

Singkat kata, pada tahun 2006 Berlina mengalami masalah. Walaupun penjualannya cukup bagus namun labanya kembang kempis. Operating profit margin hanya 3.3% sehingga menyebabkannya merugi Rp 5 miliar. Pada kondisi tersebut, pemilik perusahaan menugaskan Rudy Sugiarto untuk melakukan pembenahan. Problem dari Berlina adalah inefisiensi pabrik serta adanya produk yang marginnya terlalu tipis. Panjang ceritanya apabila saya tulis di sini. Anda bisa membaca versi lengkapnya pada artikel yang terlampir di atas.

Apakah Rudy Sugiarto berhasil? Mari kita lihat angka-angkanya.

Terlihat bahwa sejak tahun 2006, baik revenue, operating profit, maupun net earnings BRNA terus meningkat. Rasio-rasionya pun mengalami perbaikan. Mari kita zooming untuk melihat apa yang berubah sejak tahun 2006.

Terlihat bahwa gross margin naik secara signifikan dari 15.6% menjadi 21.9%. Hal ini merupakan hasil dari klasifikasi produk berdasarkan marginnya. Produk yang bermargin rendah dinaikkan harganya agar lebih ekonomis. Efisiensi mesin dan struktur organisasi berdampak positif terhadap operating margin dan net profit margin yang keduanya meningkat secara signifikan.

Selain itu, interest coverage (EBIT/interest expense) naik secara signifikan dari hanya 0.44 menjadi 3.2. Pertanda yang bagus karena operating income tidak habis termakan oleh biaya bunga. Demikian pula dengan ROE dan ROA yang mengalami peningkatan.

Jika kita breakdown ROE dari BRNA, tampak bahwa perbaikan yang signifikan terjadi pada net profit margin dan asset turnover. So far it’s ok.

Bagaimana dengan valuasinya?

Saya mencoba untuk bersikap konservatif dengan cut off growth yang sebenarnya sekitar 40% menjadi hanya 15% serta mengasumsikan BRNA ke depannya akan diperdagangkan dengan PER hanya 8x. Walaupun BRNA banyak melakukan perbaikan, tetap ada risiko yang membuat kita harus selalu waspada.

Terdapat MoS yang cukup besar (29.6%) bagi kita jika membeli BRNA pada harga saat ini.

Apa saja risiko dari bisnis BRNA?

  • Kenaikan harga minyak. Bahan baku BRNA adalah HDPE yang merupakan produk turunan dari minyak bumi.
  • Kehilangan momentum. Saat ini BRNA sedang berjuang untuk memperbaiki kinerjanya. Perhatikan apakah BRNA masih berada pada jalur yang benar.

Disclaimer is on.

Gallery

Menentukan Harga Wajar Saham dengan P/E Absolut

Sekitar empat tahun yang lalu, saya menulis sebuah artikel tentang bagaimana menentukan harga wajar saham. Metode valuasi yang dijelaskan pada artikel cukup sederhana, mudah diterapkan, dan hasilnya pun cukup memuaskan. Walaupun begitu, metode valuasi tersebut masih membutuhkan beberapa perbaikan. Seperti yang kita ketahui, harga saham dipengaruhi oleh berbagai faktor. Pada metode valuasi sebelumnya, faktor yang diperhitungkan adalah laba, dividen dan P/E ratio. Sebenarnya hal ini sesuai dengan konsep valuasinya yang berusaha untuk mencari nilai masa kini dari laba dan dividen di masa datang.

Kali ini saya akan mencoba menjelaskan sebuah metode valuasi dengan sudut pandang yang agak berbeda. Metode ini digagas oleh Vitaly N. Katsenelson di dalam bukunya yang berjudul “Active Value Investing”. Selain pertumbuhan laba dan dividen, metode ini juga memasukkan faktor-faktor lain yaitu 1) risiko bisnis (business risk), 2) risiko keuangan (financial risk), dan 3) earning predictability. Ketiga komponen tambahan tersebut akan menggambarkan bagaimana kondisi fundamental perusahaan tercermin pada harga sahamnya.

Ide dari metode valuasi ini adalah menentukan berapa P/E ratio yang wajar untuk suatu saham. Selama ini P/E ratio dinilai secara relatif. Untuk mengetahui apakah suatu saham dijual mahal atau murah, P/E ration-ya dibandingkan dengan perusahaan sejenis.

Penggunaan P/E yang digunakan oleh metode ini berbeda.

Kita akan mencoba mencari berapa nilai P/E ratio yang wajar tanpa perlu membandingkan secara langsung dengan P/E ratio perusahaan lain atau dengan kata lain kita akan menentukan P/E secara absolut. Metode valuasi ini sekaligus juga memperbaiki metode valuasi dengan menggunakan PEG ratio yang hanya menambahkan unsur growth ke dalam P/E ratio.

VALUASI DENGAN P/E ABSOLUT

Ada tiga faktor fundamental yang menentukan nilai rasio P/E dari suatu perusahaan:

  1. Imbal hasil fundamental yang terdiri atas pertumbuhan laba (earnings growth) dan dividend yield (dividen per lembar saham dibagi dengan harga saham).
  2. Risiko (business risk dan financial risk) yang mengancam laba di masa mendatang.
  3. Visibilitas  jangka panjang dari pertumbuhan laba (earning visibility). (Apakah pertumbuhan laba di masa mendatang dapat diestimasikan dengan mudah?)

Ketiga faktor tersebut menjadi penentu besar nilai P/E wajar dari suatu saham. Bagaimana pengaruh ketiga faktor tersebut pada nilai rasio P/E?

  1. Semakin tinggi earning growth dan dividend yield, suatu saham dianggap lebih berharga oleh investor sehingga layak dihargai dengan rasio P/E yang lebih tinggi. Perusahaan yang earning growth-nya dan pembayaran dividennya tidak stabil akan dihargai dengan rasio P/E yang lebih rendah.
  2. Perusahaan dengan risiko yang rendah akan lebih disukai oleh investor. Oleh karena itu, semakin rendah business risk dan financial risk, semakin tinggi rasio P/E yang wajar. Demikian pula sebaliknya, bisnis yang berisiko tinggi akan diganjar dengan rasio P/E yang rendah untuk mengkompensasi risiko tersebut.

Business risk adalah risiko yang berkaitan dengan operasional bisnisnya, seperti tingkat persaingan, keunggulan kompetitifnya (apakah perusahaan memiliki moat yang lebar?).

Financial risk adalah risiko yang berkaitan dengan struktur modal (berapa besar utangnya?) dan cash flow (apakah operating cash flow cukup untuk membayar utang?)

  1. Perusahaan yang lebih mudah diprediksi pertumbuhan labanya di masa depan akan dihargai dengan rasio P/E yang lebih tinggi. Perusahaan yang labanya naik turun atau bahkan merugi akan diganjar dengan rasio P/E yang rendah. Hal ini menjelaskan mengapa perusahaan-perusahaan yang bisnisnya sudah mature seperti Unilever rasio P/E nya sangat tinggi (walaupun belum tentu wajar juga).

Ok, tanpa basa-basi lagi. Bagaimana cara menghitung rasio P/E yang wajar?

Fair Value P/E
=
Basic P/E
×
[1 + (1 − Business Risk)] 
×
[1 + (1 − Financial Risk)]
×
[1 + (1 − Earnings Visibility)]

 Bagaimana proses perhitungannya?

1.         Menghitung Basic P/E Ratio

Basic P/E dihitung dengan menggunakan earnings growth dan dividend yield sebagai acuan seperti terlihat pada tabel di bawah ini.

Semakin tinggi earnings growth dan dividend yield, semakin tinggi P/E ratio-nya.

Misalkan saham ABCD dengan earnings growth 12% dan dividend yield 3%. Berdasarkan tabel, basic P/E untuk saham ABCD adalah 15.8 + 3 = 18.8.

2.         Menghitung Business Risk

Penentuan business risk ini cukup subjektif karena mengandalkan penilaian kualitatif kita terhadap bisnis suatu perusahaan. Kriterianya adalah sbb:

  1. Perusahaan dengan kinerja rata-rata –> business risk = 1
  2. Market leader –> business risk < 1 (tergantung pada penilaian kita, bisa 0.95 atau bahkan jika kita nilai sangat bagus bisa kita nilai 0.9 atau lebih rendah).
  3. Perusahaan dengan kinerja buruk –> business risk > 1

3.         Menghitung Financial Risk

Faktor-faktor yang mempengaruhi financial risk adalah besarnya utang (bisa via DER) dan kemampuan cash flow untuk membayar utang. Untuk menghitung financial risk, prinsipnya sama dengan business risk. Perusahaan ‘normal’ memiliki financial risk = 1. Perusahaan dengan financial risk rendah memiliki financial risk < 1 sementara yang buruk memiliki financial risk > 1.

Supaya bisa lebih mudah dihitung, saya mencoba memodifikasi panduan dari Vitaly tentang financial risk, terutama untuk faktor DER (Debt to Equity Ratio). Mari kita perhatikan tabel berikut ini:

 

Misalkan DER dari saham ABCD adalah 0.8, maka financial risk-nya adalah 0.96. Apabila kita menilai cash flow-nya bagus dan mampu untuk membayar utang, kita bisa menurunkan financial risk menjadi 0.95 misalnya.

4.         Menghitung Earnings Visibility

Earnings visibility adalah tingkat keyakinan kita terhadap pertumbuhan laba perusahaan di masa mendatang. Hal ini bersifat subjektif karena berkaitan dengan kemampuan pihak manajemen, keunggulan produknya dll. Untuk memudahkan, kita bisa menggunakan data historis untuk melakukan prediksi seperti yang ada pada artikel ini.

 

Misalkan saham ABCD pertumbuhan labanya bisa diprediksi dengan akurasi 92% sehingga faktor earnings visibility terhadap P/E ratio adalah 0.96.

Bagaimana cara memperkirakan earnings visibility? Mari kita perhatikan tabel berikut.

Untuk menghitung earnings predictability/visibility, kita menggunakan formula Excel seperti terlihat pada gambar di atas.

CONTOH MENGHITUNG HARGA WAJAR DENGAN P/E ABSOLUT

SMGR adalah market leader di industri semen dengan data sebagai berikut:

  • Expected Earnings Growth: 13.2%
  • Dividend Yield: 2.34%
  • Business Risk: 0.95 (karena market leader)
  • Financial Risk: 0.84 (konversi dari DER 0.16)
  • Earnings Visibility: 0.94 (konversi dari predictability 93.46%)

Berdasarkan data tersebut, P/E ratio wajar untuk SMGR adalah sbb:

 

Saat ini di harga 14.150, SMGR diperdagangkan pada level P/E ratio 20.2x. Karena fair value P/E SMGR adalah 23.82x, maka harga wajar SMGR adalah 23.82/20.2 x 14.150 = 16.886.

Penting untuk Diperhatikan

  • Metode valuasi ini cocok ketika inflasi dan suku bunga relatif stabil. Jika inflasi dan suku bunga naik, kita harus melakukan penyesuaian dengan menurunkan PER wajarnya.
  • Sebaiknya batasi fair value P/E hanya lebih tinggi 30% dari basic P/E. Misalkan pada contoh di atas basic P/E  SMGR adalah 18.45, maka maksimum fair value P/E-nya adalah 18.45 x (1+30%) = 24x.

Disclaimer is on.