KBLI: Growing with The Nation

Industri kabel mungkin tidak banyak diminati oleh investor di BEI. Pamornya kalah jauh dengan industri pertambangan, properti atau perbankan. Jika kita melihat dari sudut pandang lain, hal tersebut justru akan menguntungkan investor. Saham-saham yang menjadi market darling biasanya menjadi rebutan pelaku pasar sehingga susah untuk menemukan yang harganya masih murah. Berbeda dengan saham-saham yang berada di industri yang kurang populer, banyak saham yang dijual dengan harga murah. Tugas investor adalah menemukan emiten yang kinerjanya bagus sehingga bisa memberikan keuntungan yang memuaskan.

Ada apa dengan PT KMI Wire and Cable Tbk (kode BEI:KBLI)? Well, sebenarnya cerita tentang KBLI tidak jauh-jauh dari efek domino pertumbuhan ekonomi Indonesia yang pesat. Tanpa disadari, industri kabel cukup diuntungkan dengan banyaknya pembangunan infrastuktur belakangan ini. KBLI memproduksi kabel dan kawat yang banyak dibutuhkan oleh industri dan gedung-gedung. KBLI memiliki tiga jenis produk, yaitu kabel tegangan rendah, kabel tegangan menengah dan kabel instrumen/kontrol. Kapasitas produksinya 27.000 ton/tahun yang terdiri dari 12.000 ton/tahun untuk kabel listrik aluminium dan 15.000 ton/tahun untuk kabel listrik tembaga.

Breakdown untuk penjualan KBLI adalah sbb:

Terlihat bahwa penjualan terbesar KBLI disumbang oleh kabel tegangan rendah (81%) dengan pelanggan terbesar adalah sektor swasta (76.20%). Fakta ini menarik karena seperti yang telah kita ketahui saat ini permintaan domestik sangat tinggi dan menguntungkan bagi KBLI. Pada tahun 2012, KBLI berharap akan adanya peningkatan pasokan kabel untuk PLN seiring dengan proyek pembangkit listrik 10.000 MW yang sedang berjalan.

Bagaimana kinerja keuangan KBLI?

Tampak bahwa revenue, operating income dan net income KBLI terus meningkat selama tiga tahun terakhir. Operating cash flow pun tumbuh dengan mantap diiringi dengan terus menurunnya DER. Yang menjadi ganjalannya adalah rendahnya ROE yang sebagai akibat dari kuasi-reorganisasi yang dilaksanakan pada tahun 2010.

Tentang Kuasi Reorganisasi

Kuasi-reorganisasi adalah penilaian kembali aset dan kewajiban perusahaan dengan menyesuaikannya dengan kondisi saat ini. Tujuan dari kuasi-reorganisasi adalah menghilangkan defisit laba yang cukup besar. Dari tabel di bawah terlihat bahwa retained earnings KBLI sampai dengan tahun 2010 minus cukup besar. Minusnya retained earnings mendera KBLI sejak krismon tahun 1997. Kuasi-reorganisasi ini akan berdampak cukup bagus bagi KBLI karena posisi cash-nya cukup aman karena seakan-akan perusahaan restart dari awal. Dengan prospek bisnis yang cukup bagus, KBLI akan mulai bisa membagikan dividen karena jika masih ada defisit laba, dividen tidak bisa dibagikan.

Membaiknya kinerja KBLI juga tercermin dari pergerakan harga sahamnya yang terus meningkat sejak tahun 2008 seiring dengan meningkatnya laba. Berdasarkan outlook laporan keuangan kuartalan, KBLI kemungkinan besar masih akan membukukan kenaikan laba di tahun 2012.

Bagaimana dengan Valuasinya?

Pada level harga saat ini, KBLI masih menarik dengan MoS memadai, yaitu sebesar 30.1%.

Risiko Bisnis KBLI

  1. Adanya kenaikan harga bahan baku yaitu tembaga dan aluminium yang berpotensi memaksa KBLI untuk menaikkan harga jual.
  2. Menguatnya US dollar akan membuat beban bunga KBLI meningkat karena sebagian besar utangnya berdenominasi US dollar.

Disclaimer is on.

BRNA: Catching The Moment

Pada awalnya saya tidak terlalu tertarik dengan emiten ini. Kinerjanya cukup bagus namun tidak bisa dibilang outstanding. Kondisi tersebut berubah ketika saya membaca artikel di swa yang membahas tentang perubahan yang terjadi di BRNA.

Berlina (kode BEI: BRNA) adalah perusahaan yang memproduksi kemasan plastik untuk kosmetik, obat-obatan, makanan & minuman, dan barang-barang industri lainnya. Berlina memiliki 4 buah pabrik yang berlokasi di Pandaan (Jawa Timur), Tangerang, Cikarang, dan Hefei (Cina) dengan pelanggan yang merupakan perusahaan terkemuka seperti Unilever (Indonesia & Cina), PT Tirta Investama (Danone Aqua), PT Campina Ice Cream, PT Bayer Indonesia, dan masih banyak lainnya.

Singkat kata, pada tahun 2006 Berlina mengalami masalah. Walaupun penjualannya cukup bagus namun labanya kembang kempis. Operating profit margin hanya 3.3% sehingga menyebabkannya merugi Rp 5 miliar. Pada kondisi tersebut, pemilik perusahaan menugaskan Rudy Sugiarto untuk melakukan pembenahan. Problem dari Berlina adalah inefisiensi pabrik serta adanya produk yang marginnya terlalu tipis. Panjang ceritanya apabila saya tulis di sini. Anda bisa membaca versi lengkapnya pada artikel yang terlampir di atas.

Apakah Rudy Sugiarto berhasil? Mari kita lihat angka-angkanya.

Terlihat bahwa sejak tahun 2006, baik revenue, operating profit, maupun net earnings BRNA terus meningkat. Rasio-rasionya pun mengalami perbaikan. Mari kita zooming untuk melihat apa yang berubah sejak tahun 2006.

Terlihat bahwa gross margin naik secara signifikan dari 15.6% menjadi 21.9%. Hal ini merupakan hasil dari klasifikasi produk berdasarkan marginnya. Produk yang bermargin rendah dinaikkan harganya agar lebih ekonomis. Efisiensi mesin dan struktur organisasi berdampak positif terhadap operating margin dan net profit margin yang keduanya meningkat secara signifikan.

Selain itu, interest coverage (EBIT/interest expense) naik secara signifikan dari hanya 0.44 menjadi 3.2. Pertanda yang bagus karena operating income tidak habis termakan oleh biaya bunga. Demikian pula dengan ROE dan ROA yang mengalami peningkatan.

Jika kita breakdown ROE dari BRNA, tampak bahwa perbaikan yang signifikan terjadi pada net profit margin dan asset turnover. So far it’s ok.

Bagaimana dengan valuasinya?

Saya mencoba untuk bersikap konservatif dengan cut off growth yang sebenarnya sekitar 40% menjadi hanya 15% serta mengasumsikan BRNA ke depannya akan diperdagangkan dengan PER hanya 8x. Walaupun BRNA banyak melakukan perbaikan, tetap ada risiko yang membuat kita harus selalu waspada.

Terdapat MoS yang cukup besar (29.6%) bagi kita jika membeli BRNA pada harga saat ini.

Apa saja risiko dari bisnis BRNA?

  • Kenaikan harga minyak. Bahan baku BRNA adalah HDPE yang merupakan produk turunan dari minyak bumi.
  • Kehilangan momentum. Saat ini BRNA sedang berjuang untuk memperbaiki kinerjanya. Perhatikan apakah BRNA masih berada pada jalur yang benar.

Disclaimer is on.

Pentingnya Growth Predictability

Ketika kita melakukan valuasi, salah satu inputnya adalah growth. Kita mengasumsikan bahwa dari tahun ke tahun perusahaan akan tumbuh dengan kecepatan yang konstan dalam jangka panjang. Tentu saja hal ini hampir tidak pernah terjadi. Kinerja perusahaan dipengaruhi oleh banyak faktor yang menyebabkan pertumbuhan labanya  tidak semulus seperti yang diasumsikan.

Kestabilan pertumbuhan laba akan mempengaruhi akurasi valuasi. Untuk lebih jelasnya, mari kita perhatikan ilustrasi berikut:

Katakanlah terdapat dua perusahaan A dan B. Laba bersih kedua perusahaan tersebut selama 10 tahun terakhir terlihat pada tabel di atas. Jika hanya melihat tahun pertama dan terakhir, perusahaan tersebut tampak serupa dengan laba bersih pada tahun 2002 sebesar 1,000 dan laba bersih pada tahun 2011 sebesar 4,000. Tanpa memperhatikan bagaimana kestabilan pertumbuhan labanya selama 10 tahun terakhir, ada kemungkinan kita akan salah dalam menyimpulkan tingkat pertumbuhan labanya.

Selama 10 tahun terakhir, tingkat pertumbuhan laba per tahun yang diwakili oleh CAGR  kedua perusahaan adalah sama, yaitu sebesar 16.65%. Perbedaan yang mencolok adalah kestabilan pertumbuhannya yang saya sebut growth predictability. Perusahaan A memiliki growth predictability sebesar 98.75% sementara perusahaan B hanya 54.39%. Tanpa memperhatikan growth predictability, kita akan berasumsi bahwa pertumbuhan perusahaan adalah sebesar 16.65% per tahun.

Kesimpulan yang keliru tersebut akan berpotensi menyebabkan kita melakukan kesalahan valuasi. Mengapa begitu?

Jika kita hanya melihat data 5 tahun terakhir, perusahaan A memiliki CAGR 13.62% dan growth predictability sebesar 98.41%. Nilai tersebut tidak jauh berbeda dengan apabila kita menggunakan data selama 10 tahun terakhir.

Bagaimana dengan perusahaan B?

Selama 5 tahun terakhir, CAGR perusahaan B adalah sebesar 49.53%. Nilai ini jauh berbeda dari perhitungan kita jika menggunakan data 10 tahun. Sementara itu, growth predictability perusahaan B naik drastis menjadi 80.57%. Jika kita melakukan valuasi terhadap perusahaan B dengan hanya menggunakan data 5 tahun terakhir, kemungkinan besar kita akan memiliki kesimpulan bahwa pertumbuhan labanya adalah 49.53% dan bukan 16.65%.

Masih yakinkah kita dengan hasil valuasinya?

Secara grafis, pertumbuhan laba kedua perusahaan dari tahun ke tahun akan tampak seperti ini:

Terlihat bahwa perusahaan A sangat stabil pertumbuhan labanya. Sementara itu pertumbuhan perusahaan B terlihat sangat fluktuatif. Secara kasat mata kita bisa melihat bahwa jika starting point untuk menentukan tingkat pertumbuhan laba bersih adalah tahun 2007, maka besar kemungkinan kita akan membuat kesalahan ketika melakukan valuasi terhadap perusahaan B.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, yang bisa kita lakukan adalah mencari perusahaan yang labanya tumbuh mendekati konstan. Apakah ada perusahaan seperti itu? Ada.

Beberapa waktu yang lalu saya menulis artikel tentang super companies, yaitu perusahaan yang secara konstan naik terus labanya selama 10 tahun terakhir. Pada artikel tersebut saya tidak menyertakan tingkat pertumbuhan serta predictability-nya. Untuk itu, mari kita perhatikan tabel berikut:

Anda dapat menentukan sendiri, perusahaan mana yang pertumbuhan labanya ke depan akan lebih mudah diprediksi. Sebagai patokan, sebaiknya growth predictability lebih besar dari 90%.

Memahami Valuasi Saham dengan Visualisasi

Jika Anda sudah membaca artikel tentang metode valuasi saya di: http://parahita.wordpress.com/2008/11/15/bagaimana-cara-menentukan-harga-wajar-saham/ , penjabaran visualnya ada pada gambar di atas.

Sumbu vertikal adalah harga saham sedangkan sumbu horisontal adalah waktu. Sejalan dengan growth, harga saham akan terus naik dari tahun ke tahun kemudian kita cari rate kenaikannya untuk mendapatkan harga saat ini. Rate kenaikan tersebut itu yang disebut dengan expected return.

Cara pandang lain adalah dengan mencari present value dari total price 5 tahun mendatang sehingga kita mendapatkan fair value untuk saat ini. Jika pada harga saham saat ini masih terdapat Margin of Safety (Mos)  yang cukup, besar kemungkinan saham tersebut layak untuk dikoleksi.

Jika dilihat lebih detil, terlihat bahwa selama harga saat ini (actual price) masih di bawah 5 yrs target total price, maka kita masih akan mendapatkan keuntungan walaupun tentu saja dengan rate of return lebih rendah. Kesimpulannya, semakin rendah harga beli kita, semakin besar potensi keuntungannya (ya iyalah…).

Gambar di atas menunjukkan skenario dari sebuah valuasi. Tingkat keberhasilannya sangat bergantung pada akurasi asumsi inputnya. Beberapa titik kritis dalam melakukan valuasi adalah:

  1. Kestabilan growth. Semakin stabil historical growth, semakin besar peluang sebuah saham akan berperilaku sama ke depannya. Perusahaan biasanya bisa mempertahankan growth sampai dengan 25% dalam jangka panjang namun untuk keperluan valuasi sebaiknya ditekan ke 15% saja.
  2. Akurasi penentuan risk premium. Risk premium akan menentukan seberapa besar diskon kita atas nilai saham.
  3. Harga pembelian. Untuk menghindari kesalahan perhitungan dan asumsi, sebaiknya kita menyediakan MoS yang cukup.
  4. Perhatikan historical PER. Usahakan untuk bersikap sekonservatif mungkin. Asumsi PER yang terlalu tinggi akan menyebabkan kita terjebak ketika pasar berperilaku esktrim (misalnya pada saat terjadi booming atau crash).

KKGI: The Black Diamond

Sumber: http://www.climateshifts.org/?p=6176

Seperti halnya perusahaan batubara lain, KKGI pun memberikan kinerja yang cukup mengesankan. Saat ini KKGI merupakan produsen batubara terbesar ke-10 di Indonesia dengan usia tambang baru 5 tahun. Umur tambang KKGI terbilang muda karena produsen batubara lainnya yang lebih besar memiliki umur tambang lebih dari 10 tahun. Nilai plus dari KKGI adalah adanya penerapan JORC yang merupakan standar pelaporan atas sumber daya, cadangan, dan hasil eksplorasi.

Sekitar 91% hasil tambang KKGI diekspor dengan negara tujuan utama Cina (72.4%) dan Korea (20.1%).

Prospek: dimulainya pembukaan blok-blok utara yang level kalorinya lebih tinggi sehingga berpotensi untuk dijual dengan harga yang lebih tinggi.

Bagaimana dengan kinerjanya?

Terlihat bahwa selama beberapa tahun terakhir KKGI memberikan kinerja yang sangat impresif. Baik revenue, operating income, net income dan free cash flow meningkat tajam. Dengan level ROE 69% dan DER yang menurun drastis, KKGI terlihat cukup menjanjikan.

Bagaimana dengan valuasinya?

*valuasi akan di re-evaluate karena dampak penurunan harga batubara sepertinya cukup signifikan berpengaruh terhadap kinerjanya.

Saya mencoba untuk berlaku konservatif dengan:

  • Mengasumsikan harga jual ($56.8 per ton) dan COGS ($26.1 per ton) tahun 2012 sama seperti harga  tahun 2011. Dalam slide presentasinya, KKGI mengestimasikan adanya kenaikan harga jual.
  • Sesuai dengan estimasi perusahaan, diperkirakan pada tahun 2012, produksi mencapai 6 juta ton. Saya mendiskon estimasi produksi menjadi 5.25 juta ton untuk mengantisipasi penurunan demand batubara dunia.
  • Projected PER menggunakan PER terendah selama 5 tahun terakhir yaitu 14.33.  FYI, PER rata-rata sebenarnya adalah sekitar 18x.
  • Melakukan diskon yang gila-gilaan terhadap potensi growth menjadi hanya 15% (FYI: selama 4 tahun terakhir CAGR net income adalah 122%).

Berdasarkan asumsi-asumsi tersebut, maka EPS pada tahun 2012 saya perkirakan adalah 726 sehingga harga wajar KKGI berada di level 9,437 yang memberikan margin of safety sebesar 23%. (update note: saya akan melakukan valuasi ulang mengingat risiko penurunan harga telah terjadi).

Apa risiko utama KKGI?

  • Penurunan harga batu bara
  • Tingkat produksi di bawah target

Kedua risiko tersebut telah difaktorkan di dalam perhitungan valuasi.

Bagaimanapun, walaupun valuasi KKGI cukup menarik, kita tetap harus mewaspadai risiko-risiko tersebut.

Update: Setelah mengamati perkembangannya, tampaknya risiko penurunan harga telah mewujud dan harap lebih berhati-hati.

 Disclaimer is on.

CPIN: Valuation Update

Sudah beberapa kali saya menulis tentang CPIN di blog ini dan sampai saat ini valuasinya cukup inline dengan pergerakan harganya dari waktu ke waktu.

Saya akan melakukan update untuk valuasi CPIN dengan mempertimbangkan hal-hal berikut:

  1. 1. Penurunan BI rate –> risk premium turun menjadi 14,35%
  2. 2. Update estimated EPS untuk tahun 2012.

Hasilnya adalah sebagai berikut:

Sepertinya memang CPIN masih memiliki nafas untuk naik ke level berikutnya.

Disclaimer is on.

BBRI: Valuation Update

Beberapa waktu yang lalu saya telah menulis artikel tentang valuasi BBRI. Walaupun masih realistis, saya akui saya cukup agresif dalam melakukan valuasi dengan memberikan proyeksi PER 17x dan growth 15%. Untuk growth 15% sepertinya masih relevan. Kali ini saya akan mencoba untuk lebih konservatif dengan memberikan proyeksi PER hanya 12x.

Apa lagi?

Saya memasukkan faktor penurunan BI rate ke dalam perhitungan. Tanggal 9 Februari, BI menurunkan BI rate ke level 5,75%. Akibatnya, risk premium yang digunakan dalam valuasi turun menjadi 14,35% (dan saya belum juga memasukkan faktor masuknya Indonesia ke dalam investment grade).

Mari kita lihat hasilnya:

Kita mendapatkan nilai 8.480 yang berpotensi memberikan kita imbal hasil 14,35% per tahun. Namun apabila kita membeli di harga saat ini (6.800), maka potensi imbal hasil per tahun naik menjadi 19,51% dengan margin of safety 19,81%.

Disclaimer is on.

ACES: The Hardware King (Bag. 3) – Valuasi

Sampai sejauh ini, terlihat bahwa kinerja ACES cukup mengesankan. Adanya riak-riak kecil pada tahun 2009 saya anggap wajar karena seperti umumnya perusahaan retail, ACES pasti terpengaruh oleh krisis global. Yang penting, ACES berhasil bangkit dan kembali ke jalan yang benar. Artikel sebelumnya tentang ACES dapat dibaca di:

ACES: The Hardware King (Bag. 1)

ACES: The Hardware King (Bag. 2)

Valuasi ACES adalah sbb:

Seperti yang telah diduga, saat ini ACES dijual dengan harga premium. Dengan P/E ratio 28x, sepertinya pasar telah memfaktorkan potensi ACES di masa mendatang. Mengapa harga ACES overshoot? Ada dua kemungkinan. Kemungkinan pertama, pasar telah memfaktorkan penurunan risk premium sebagai akibat dari masuknya Indonesia ke level investment grade. Artikel tentang investment grade dapat dibaca di http://parahita.wordpress.com/2011/05/19/indonesia-menuju-investment-grade/. Kemungkinan kedua adalah penggunaan proyeksi P/E ratio dan potential growth pada model valuasi secara konservatif (maksimum 17 untuk P/E ratio dan 15% untuk growth).  Ada kemungkinan jika kita lebih loose dalam pembatasan P/E ratio dan potential growth serta memfaktorkan penurunan risk premium, harga saat ini dapat terjustifikasi. Anyway, saya lebih suka bersikap konervatif dalam valuasi dan ACES ini akan masuk ke dalam waiting list saya.

Disclaimer is on.

Valuasi Saham LQ45 Part II: BBRI

Emiten anggota LQ45 kedua yang akan kita bahas adalah BBRI. Kinerja BBRI 5 tahun belakangan ini cukup cemerlang. Seperti yang kita ketahui, BBRI memiliki jaringan yang luas sampai ke pedesaan dan hal tersebut menjadi keunggulan tersendiri karena tidak banyak bank yang mampu untuk melakukan hal yang sama.

Chart di bawah akan kita pergunakan untuk melakukan sedikit review tentang kinerja BBRI:

Terlihat bahwa kinerja BBRI cukup bagus selama beberapa tahun terakhir. Baik revenue, net earnings maupun equity-nya cenderung terus meningkat. Nilai plus lainnya adalah tingginya ROE yang konsisten berada di atas 20%.

Bagaimana dengan valuasinya?

Dengan fair value sebesar 10,171, terlihat bahwa BBRI masih cukup menarik untuk dibeli. Saat ini saham BBRI diperdagangkan di level 6,650 atau dengan kata lain terdapat safety margin sebesar 34.62%.

Disclaimer is on.

Valuasi Saham LQ45 Part I: INTP

Memburuknya kondisi ekonomi AS belakangan ini yang menyebabkan Dow Jones Industrial Average (DJIA) terkoreksi cukup dalam kemungkinan akan menyebabkan IHSG terkena imbasnya. Saat-saat seperti ini bisa menjadi peluang bagi kita untuk membeli saham-saham blue chip yang memiliki kondisi fundamental bagus dengan harga yang cukup murah. Cara paling mudah untuk mencari saham blue chip adalah dengan mengintip saham-saham yang masuk ke dalam daftar saham LQ45.

Pada artikel ini, saya akan mencoba untuk melakukan valuasi terhadap INTP yang merupakan perusahaan yang bergerak di sektor semen. Kondisi keuangannya selama lima tahun terakhir adalah sebagai berikut:

Terlihat bahwa revenue, operating profit dan net earnings selama lima tahun terakhir naik dengan konsisten. Tidaklah heran equity-nya pun terus meningkat. Sementara itu kita melihat bahwa INTP dengan agresif mengurangi utangnya sehingga Debt to Equity ratio-nya turun secara signifikan. Dengan ROE sebesar 24%, INTP potensial untuk masuk ke dalam portfolio investasi kita.

Sementara itu, valuasi INTP adalah sebagai berikut:


Dengan fair value 16,550, terdapat margin of safety sebesar 10,34%. Tampaknya INTP memang cukup menarik untuk kita koleksi.

Note: Mohon maaf ada kekeliruan pada perhitungan sebelumnya. Hal ini dikarenakan data ft yang misleading.

Disclaimer is on.