Market Noise

not a big papa, just a noise in the stock market…

(Buku Yang Ingin Saya Beli) Moat: The Competitive Advantages of Buffett and Munger Businesses

1 Comment

Ketika sedang blog walking, saya menemukan sebuah buku yang sangat menarik.

Sumber: http://www.frips.com/book.htm

Mengapa saya ingin membelinya?

Buku yang disusun oleh Bud Labitan ini merupakan proyek keroyokan para investor yang berisikan penjelasan tentang moats (competitive advantage) dari 70 saham yang dibeli oleh Warren Buffett dan Charlie Munger melalui Berkshire Hathaway.

Mengapa sangat penting?

Jangan pernah lupa bahwa pondasi bisnis yang kuat adalah apabila memiliki competitive advantage yang kuat. Moat (competitive advantage) akan membuat perusahaan terus menghasilkan keuntungan dalam jangka panjang bahkan dalam kondisi sulit sekalipun. Kalau sampai detik ini ada yang bingung dan tidak tahu apa itu competitive advantage, silakan membaca artikel saya sebelumnya.

Sampel untuk bukunya bisa dibaca di sini.

Kalau ada yang mau beli bukunya bilang-bilang ya. Saya mau pinjam hehehe.

This gallery contains 2 photos

Porter’s Five Forces, Tool Analisis Kualitatif Saham yang Ampuh

5 Comments

Michael E. Porter, Sumber: NNDB

Michael Eugene Porter bisa dibilang adalah pelopor dalam bidang manajemen strategis modern. Pemikirannya mengenai strategi dan kompetisi antar perusahaan mampu mengubah peta analisis manajemen strategis. Porter memperoleh gelar Bachelor pada jurusan teknik penerbangan dan  teknik mesin dari Princeton. Gelar MBA dan Ph.D diperolehnya dari Harvard.

Porter mengemukakan model Five Force’s yang merupakan framework yang sangat handal untuk menganalisis kekuatan-kekuatan yang mempengaruhi tingkat kompetisi di dalam suatu industri. Apa manfaatnya bagi kita sebagai investor? Sangat besar. Dengan memahami karakteristik suatu industri, kita akan dapat mengetahui kekuatan apa saja yang mempengaruhi kelangsungan hidup suatu perusahaan. Model Five Forces ini masuk ke dalam ranah analisis kualitatif dan saya rekomendasikan sebagai analisis awal sebelum melakukan analisis lebih mendalam.

Pemikiran Michael Porter mendapatkan perhatian yang cukup besar dari Warren Buffett dan terlihat pada pandangannya mengenai pentingnya suatu bisnis memiliki economic moat atau biasa disebut oleh Porter sebagai competitive advantage.

Framework analisis Five Forces adalah sebagai berikut:

Di dalam model Porter, terdapat lima kekuatan yang mempengaruhi kuatnya persaingan di dalam suatu industri:

  • The threat of substitute products or service
  •  The threat of increased competition from rivals in the market
  •  The threat of new entrants into the market
  • The bargaining power of suppliers
  • The bargaining power of buyers

Untuk dapat menggunakan model ini dengan baik untuk melakukan analisis, diperlukan pemahaman yang cukup mendalam terhadap suatu industri. Model ini dapat menjadi senjata yang ampuh karena hasilnya dapat kita pergunakan untuk menilai apakah strategi yang diterapkan oleh suatu perusahaan cocok dengan karakteristik industrinya.

Pada dasarnya kelima kekuatan tersebut adalah ancaman bagi suatu perusahaan. Semakin kuat perusahaan menghadapi kelima ancaman tersebut, semakin besar competitive advantage perusahaan tersebut.

The threat of substitute products or service

Semakin banyak barang atau layanan yang dapat menggantikan produk suatu perusahaan, maka posisi perusahaan tersebut semakin lemah. Contohnya, posisi Astra International sebagai ATPM akan terancam apabila transportasi massal semakin berkembang. Adanya transportasi massal yang bagus akan menyebabkan penjualan mobil ataupun motor menurun. Contoh lainnya adalah ancaman SMS terhadap telegram. Saat ini sudah terbukti bahwa layanan SMS dari operator seluler telah menelan layanan telegram karena jauh lebih efektif dan efisien. Jika pelanggan tidak mudah untuk mencari pengganti produk kita, maka dikatakan kita memiliki competitive advantage.

The threat of increased competition from rivals in the market

Ancaman berikutnya adalah meningkatnya persaingan dari kompetitor. Salah satu contoh penyebabnya meningginya tingkat persaingan adalah perang harga serta inovasi produk baru dari kompetitor. Secara umum dapat dikatakan bahwa semakin banyak jumlah kompetitor, semakin tinggi tingkat persaingan di dalam industri tersebut. Di sinilah brand equity memegang peranan yang sangat penting. Perusahaan dengan brand equity yang sangat kuat seperti Unilever dengan Pepsodent atau Indofood dengan Indomie akan mampu menyisihkan para pesaingnya yang memiliki brand equity yang lebih rendah.

The threat of new entrants into the market

Manisnya keuntungan yang didapat dari suatu bisnis akan dengan cepat menarik para pemain baru untuk terjun ke dalam persaingan. Masing-masing industri memiliki karakteristik tersendiri mengenai hal ini. Porter memperkenalkan konsep barrier to entry untuk menggambarkan tingkat kesulitan pemain baru untuk masuk ke dalam suatu industri. Semakin kuat barrier to entry, semakin aman posisi pemain lama di dalam industri tersebut, Contoh barrier to entry yang sangat kuat adalah besarnya modal untuk memulai usaha di dalam industri tersebut. Industri pertambangan minyak dan gas serta industri telekomunikasi merupakan contoh yang bagus. Contoh barrier to entry yang lemah adalah apa yang dialami oleh industri rekaman belakangan ini. Saat ini, sangat mudah bagi band-band baru untuk mendapatkan kesempatan untuk rekaman. Kemajuan teknologi juga memungkinkan mereka untuk melakukan proses rekaman secara indie dan mengurangi ketergantungan terhadap major label. Band-band yang lama pun akhirnya mendapatkan ancaman yang cukup serius karena melemahnya barrier to entry ini.

The bargaining power of suppliers

Perusahaan yang bergantung pada sedikit supplier akan memiliki bargaining power yang lemah. Kelangkaan supplier akan membuat mereka dengan mudah menaikkan harga bahan baku sehingga profit margin suatu perusahaan semakin menipis. Sebaliknya, perusahaan yang memiliki banyak alternatif supplier akan memperoleh keuntungan yang besar. Salah satu contoh lemahnya bargaining power of supplier adalah Carrefour. Dengan brand equity yang dimilikinya, Carrefour dapat dengan mudah mengganti supplier-nya apabila menaikkan harga karena masih banyak supplier lain yang mengantri.

The bargaining power of buyers

Semakin banyak jumlah pesaing suatu perusahaan, maka pelanggan (buyer) akan memiliki bargaining power yang lebih kuat dan menurunkan tingkat keuntungan perusahaan tersebut. Sebaliknya,apabila jumlah pemain di dalam suatu industri relatif sedikit, maka posisi tawar pelanggan akan melemah. Sebagai contoh adalah industri semen. Jumlah pemain di dalam industri ini relatif sedikit sehingga pelanggan tidak memiliki posisi tawar yang kuat.

Perusahaan yang memiliki kekebalan terhadap ancaman-ancaman tersebut memiliki competitive advantage yang cukup besar dan dapat menjadi pijakan awal kita untuk melakukan analisis dengan lebih mendalam. Berdasarkan analisis ini pula lah kita dapat melihat perbedaan antara great business dengan mediocre business. Perusahaan yang kebal terhadap ancaman-ancaman tersebut umumnya dalam jangka panjang memiliki kinerja yang sangat baik.

This gallery contains 2 photos

Competitive Advantage, Kunci Mendapatkan Saham Pemenang

10 Comments

Sampai dengan saat ini, terdapat lebih dari 400 perusahaan yang terdaftar di BEI. Perusahaan tersebut mewakili suatu bisnis yang telah mereka jalankan dengan tujuan mendapatkan keuntungan. Perusahaan yang bisnisnya sedang bagus biasanya cenderung untuk memiliki ROE (Return on Equity) yang cukup tinggi. Karena ROE menggambarkan jumlah modal yang dimiliki oleh pemegang saham, maka emiten dengan ROE yang tinggi dapat dikatakan memberikan keuntungan bagi pemiliknya. Sayangnya, ROE yang tinggi hampir pasti akan mengundang pemain baru untuk masuk ke dalam bisnis yang sama. Semakin banyak pemain baru yang masuk, maka “kue” yang tersedia akan terbagi lebih banyak dan lama kelamaan jatah keuntungan perusahaan akan berkurang.

Hal yang menarik akan kita lihat apabila suatu perusahaan dalam jangka panjang memiliki ROE yang tinggi dan konsisten. Secara intuitif kita bisa menduga bahwa perusahaan tersebut memiliki suatu keunggulan yang membedakannya dari pesaingnya. Jika tidak tentu keuntungan yang dimiliki perlahan-lahan akan berkurang. Dengan berinvestasi pada perusahaan semacam ini akan lebih berpotensi memberikan keuntungan kita dalam jangka panjang. Kita menyebut keunggulan ini dengan competitive advantage.

Pernahkan Anda memperhatikan coffee shop yang banyak bertebaran di mal? Dari sekian banyak coffee shop itu, kita akan dapat melihat bahwa Starbucks hampir selalu ramai oleh pengunjung. Jika ada banyak coffee shop yang bertebaran, orang akan cenderung memilih Starbucks. Keunggulan dari Starbucks adalah brand nya. Starbucks adalah kopi, semua orang tahu itu. Keunggulan ini telah melekat pada Starbucks selama bertahun-tahun dan menempatkannya sebagai market leader dalam bisnis coffee shop.

Contoh lain yang dapat kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari adalah BCA. Walaupun memiliki banyak pesaing, BCA bisa menempatkan dirinya sebagai bank yang menawarkan kemudahan transaksi kita. Fokus BCA pada hal ini membuahkan hasil dan membuatnya memiliki jumlah nasabah terbesar. Walaupun bank lain telah berusaha untuk memberikan layanan yang sama dengan BCA, mengubah mindset pasar bahwa BCA unggul dalam kemudahan transaksi akan menjadi pekerjaan rumah yang cukup berat bagi para pesaingnya.

Lalu bagaimana caranya mengetahui apakah suatu perusahaan memiliki competitive advantage?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, terlebih dahulu kita harus mengetahui jenis-jenis dari competitive advantage. Pat Dorsey dalam bukunya yang berjudul “The Little Book That Builds Wealth” memberikan penjelasan yang sangat bagus mengenai hal ini. Dorsey memilih untuk menggunakan istilah “economic moat” yang memiliki arti yang sama dengan competitive advantage. Istilah economic moat ini dipopulerkan oleh Warren Buffett. Menurut Dorsey, jenis-jenis economic moat adalah sebagai berikut:

  • Intangible asset. Contohnya adalah merk, hak paten, dan lisensi yang menyebabkannya dapat menjual produk yang tidak dapat disaingi oleh kompetitornya. Contoh kita di atas, Starbucks, memiliki competitive advantage yang masuk dalam kategori ini.
  • Tingginya switching cost apabila konsumennya ingin pindah ke produk lain. Contoh yang sangat bagus adalah bank. Kita akan mengalami kesulitan yang cukup besar apabila ingin berpindah bank. Jarang sekali seseorang berpindah dari satu bank ke bank lain. Kalau menambah rekening di bank lain mungkin, akan tetapi jarang sekali yang benar-benar menutup rekeningnya di suatu bank.
  • Network economics, merupakan competitive advantage yang muncul karena luasnya jaringan yang dimilikinya. Dorsey memberikan contoh Amex (American Express). Competitive advantage Amex muncul karena kartu kreditnya dapat diterima di mana-mana. Semakin banyak merchant yang mau menerima kartu kredit Amex, semakin besar competitive advantage yang dimilikinya. Apa gunanya sebuah kartu kredit apabila tidak dapat dipergunakan di banyak tempat?
  • Cost advantage, yang berasal dari proses produksi, lokasi, skala bisnis, dan akses pada suatu sumber daya yang menyebabkan perusahaan tersebut bisa menghasilkan suatu produk dengan biaya yang lebih rendah.

Dengan memahami jenis-jenis competitve advantage atau economic moat di atas, kita akan lebih mudah untuk menemukan perusahaan-perusahaan dengan bisnis yang memiliki competitive advantage.

Jika kita dapat mengidentifikasi perusahaan yang memiliki competitive advantage dan mampu mentranslasikannya dalam  tingginya laba yang didapatkan dalam jangka panjang, maka sepertinya kita telah berada di jalan yang benar :)

Secara kuantitatif, ada beberapa rasio yang dapat membantu kita menemukan perusahaan yang memiliki competitive advantage:

  • ROE yang tinggi dalam jangka panjang. Hal ini telah dibahas sebelumnya.
  • Tingginya gross margin. Perusahaan yang memiliki gross margin lebih tinggi daripada pesaingnya merupakan kandidat yang cukup kuat untuk memiliki competitive advantage. Gross margin yang tinggi dalam jangka panjang menandakan bahwa perusahaan tersebut dapat mematok harga produknya lebih tinggi daripada kompetitornya. Bisa juga perusahaan tersebut memiliki struktur biaya produksi yang lebih rendah daripada kompetitornya.

Kembali lagi pada Dorsey. Dalam bukunya, Dorsey juga menjelaskan proses untuk mendapatkan perusahaan yang memiliki economic moat.

Pertama-tama, pastikan dahulu bahwa perusahaan memiliki track record return on capital (ROC) yang tinggi. Yang dimaksud dengan capital adalah jumlah dari utang dan modal yang menggambarkan besarnya aset yang dimiliki perusahaan. Jika tidak, kita coba perkirakan apakah di masa datang perusahaan mampu untuk menghasilkan ROC yang tinggi. Jika tidak, mungkin memang perusahaan tersebut tidak memiliki economic moat. Langkah selanjutnya adalah mengidentifikasi apakah perusahaan memiliki salah satu dari keempat jenis economic moat seperti yang telah dibahas sebelumnya. Jika ya, apakah economic moat tersebut dapat bertahan dalam waktu yang lama? Jika ya, maka perusahaan ini hampir pasti memang benar memiliki competitive advantage/economic moat.

Jangan Lupakan Valuasi

Sekuat-kuatnya competitive advantage yang dimiliki oleh suatu perusahaan, tidak akan memberikan kita keuntungan apabila kita membeli sahamnya di harga yang tinggi. Pada umumnya, perusahaan yang memiliki competitive advantage yang dominan akan dijual mahal. Oleh karena itu, kita harus bersabar untuk menunggu ada diskon sebelum melakukan pembelian. Kita tidak harus membelinya dengan sangat murah. Suatu perusahaan dengan bisnis bagus yang dijual dengan harga wajar akan jauh lebih berharga dibandingkan dengan perusahaan yang dijual murah namun bisnisnya biasa-biasa saja.

This gallery contains 1 photo.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.