Market Noise

not a big papa, just a noise in the stock market…

CPIN: Terus Melangkah

11 Comments

Sebelumnya saya pernah membahas tentang CPIN pada artikel sebelumnya. Artikel tersebut ditulis tahun lalu ketika CPIN mulai bangkit dan kinerjanya mulai membaik. Yang saya khawatirkan pada saat itu adalah bahwa kinerja CPIN saat itu hanyalah “windfall profit” dan tidak berkesinambungan.

Bagaimana kelanjutannya?

Satu hal yang mencolok adalah adanya penurunan DER yang cukup signifikan. Dengan DER sebesar 10,19%, CPIN bisa dibilang tidak terlalu berisiko pada kondisi ekonomi yang kurang mendukung. Hal lain yang cukup menggembirakan adalah adanya turnaround untuk free cash flow nya. Sejak tahun 2008, FCF yang sebelumnya negatif berbalik menjadi positif dan terus meningkat hingga tahun 2010.

Pada tahun 2010, ROE CPIN terbilang sangat tinggi di level 49,57%. Dengan demikian kita kemungkinan akan melihat bahwa book value-nya akan meningkat cukup signifikan di tahun-tahun mendatang.

Bagaimana dengan pertumbuhannya?


Pertumbuhan revenue, operating profit, dan net profit CPIN tumbuh cukup tinggi selama 5 tahun terakhir. Hal ini merupakan pertanda bagus. Sementara itu, seperti yang telah diperkirakan sebelumnya, equity meningkat secara drastis sebagai akibat melonjaknya ROE selama beberapa tahun terakhir.

Valuasi

Saat ini harga wajar CPIN berada di level 2,796. Sebenarnya dibandingkan dengan valuasi sebelumnya, saya melakukan tuning untuk required return yang saya buat menjadi lebih konservatif dengan meningkatkannya menjadi 15,35% di kala pada kenyataannya BI rate cenderung turun.

Saat ini, CPIN cukup menjanjikan dan dapat dilirik untuk kita beli.

Disclaimer is on.

This gallery contains 4 photos

Valuasi Saham LQ45 Part II: BBRI

6 Comments

Emiten anggota LQ45 kedua yang akan kita bahas adalah BBRI. Kinerja BBRI 5 tahun belakangan ini cukup cemerlang. Seperti yang kita ketahui, BBRI memiliki jaringan yang luas sampai ke pedesaan dan hal tersebut menjadi keunggulan tersendiri karena tidak banyak bank yang mampu untuk melakukan hal yang sama.

Chart di bawah akan kita pergunakan untuk melakukan sedikit review tentang kinerja BBRI:

Terlihat bahwa kinerja BBRI cukup bagus selama beberapa tahun terakhir. Baik revenue, net earnings maupun equity-nya cenderung terus meningkat. Nilai plus lainnya adalah tingginya ROE yang konsisten berada di atas 20%.

Bagaimana dengan valuasinya?

Dengan fair value sebesar 10,171, terlihat bahwa BBRI masih cukup menarik untuk dibeli. Saat ini saham BBRI diperdagangkan di level 6,650 atau dengan kata lain terdapat safety margin sebesar 34.62%.

Disclaimer is on.

This gallery contains 2 photos

Valuasi Saham LQ45 Part I: INTP

10 Comments

Memburuknya kondisi ekonomi AS belakangan ini yang menyebabkan Dow Jones Industrial Average (DJIA) terkoreksi cukup dalam kemungkinan akan menyebabkan IHSG terkena imbasnya. Saat-saat seperti ini bisa menjadi peluang bagi kita untuk membeli saham-saham blue chip yang memiliki kondisi fundamental bagus dengan harga yang cukup murah. Cara paling mudah untuk mencari saham blue chip adalah dengan mengintip saham-saham yang masuk ke dalam daftar saham LQ45.

Pada artikel ini, saya akan mencoba untuk melakukan valuasi terhadap INTP yang merupakan perusahaan yang bergerak di sektor semen. Kondisi keuangannya selama lima tahun terakhir adalah sebagai berikut:

Terlihat bahwa revenue, operating profit dan net earnings selama lima tahun terakhir naik dengan konsisten. Tidaklah heran equity-nya pun terus meningkat. Sementara itu kita melihat bahwa INTP dengan agresif mengurangi utangnya sehingga Debt to Equity ratio-nya turun secara signifikan. Dengan ROE sebesar 24%, INTP potensial untuk masuk ke dalam portfolio investasi kita.

Sementara itu, valuasi INTP adalah sebagai berikut:


Dengan fair value 16,550, terdapat margin of safety sebesar 10,34%. Tampaknya INTP memang cukup menarik untuk kita koleksi.

Note: Mohon maaf ada kekeliruan pada perhitungan sebelumnya. Hal ini dikarenakan data ft yang misleading.

Disclaimer is on.

This gallery contains 4 photos

Screening Saham dengan Menggunakan NCAV (Net Current Asset Value)

Leave a comment

Setelah sebelumnya kita melakukan valuasi dengan menggunakan NNWC (Net Net Working Capital) sebagai filter, kita akan melanjutkan pencarian kita terhadap saham-saham yang memberikan diskon besar-besaran. Teknik yang akan kita bahas masih berasal dari ilmu yang diwariskan oleh Ben Graham, yaitu NCAV (Net Current Asset Value). Sebenarnya NCAV ini mirip dengan NNWC hanya saja pada NCAV kita mengurangi current assets dengan total liabilities kemudian hasilnya dibagi dengan jumlah saham beredar.

NCAV = (current assets – total liabilities) / outstanding shares

Sekilas NCAV ini terlihat lebih agresif dibandingkan dengan NNWC. Jangan terburu-buru menilai. Graham hanya akan membeli saham-saham yang dijual dengan harga maksimal dua pertiga dari NCAV nya .

Seperti juga NNWC, NCAV merupakan gerbang awal bagi kita untuk melakukan analisis terhadap suatu perusahaan. Setelah menemukan saham yang murah menurut kedua metode tersebut, kita tetaplah harus melakukan analisis yang mendalam terhadap saham tersebut.

Mengapa ada saham yang bisa dijual dengan begitu murahnya? Penyebab yang umum adalah bad news dan sentimen negatif investor yang berlebihan. Jangan lupa bahwa market pada waktu-waktu tertentu bisa terlihat terlalu optimis dan pada saat-saat yang lain terlalu pesimis. Saham-saham yang lolos screening NCAV ada kemungkinan hanyalah hasil dari rasa pesimis market yang berlebihan.

Jika kita telah mengetahui harga saham yang wajar dan layak untuk kita beli, lalu kapan kita bisa menjualnya? Ben Graham merekomendasikan untuk menjual saham-saham tersebut ketika kita telah mendapatkan imbal hasil sebesar 50%. Jika keuntungan kita terus melambung hingga 100%, jual separuhnya dan simpan sisanya. Kita akan mendapatkan kembali modal kita dan memiliki saham yang kita dapatkan dengan “gratis”.

Satu hal yang harus kita ingat. Screening NNWC dan NCAV akan memberikan kita saham-saham yang murah namun kemungkinan besar kinerjanya biasa-biasa saja. Peruntungan kita mungkin akan meningkat apabila ternyata ada satu atau dua saham yang memiliki prospek cukup bagus.  Kasus tersebut jarang terjadi. Oleh karena itulah, saya menyarankan untuk mengikuti rekomendasi Graham untuk menjualnya ketika telah memberikan kita keuntungan sebesar 50%.

This gallery contains 0 photos

Melakukan Valuasi dengan NNWC (Net Net Working Capital)

1 Comment

Pada artikel sebelumnya, saya pernah mendiskusikan mengenai cara menentukan harga wajar saham. Pada metode tersebut, penekanan terbesar ada pada prospek perusahaan ke depan dengan mengasumskikan bahwa perusahaan akan terus berkembang. Kali ini kita akan mencoba melakukan valuasi (atau lebih tepatnya screening) dengan memberikan penekanan pada liquidating value dan bukan prospek perusahaan.

Ide dasar dari metode ini adalah menghitung berapa besar nilai aset yang akan diperoleh pemegang saham setelah dikurangkan kewajiban-kewajibannya. Kita akan menggunakan nilai NNWC (Net Net Working Capital) yang dikemukakan oleh Benjamin Graham untuk melakukan valuasi. Formula NNWC adalah sebagai berikut:

Net Net Working Capital = Cash + Short Term Marketable Investments + Accounts Receivable * 75% + Inventory * 50% – Total Liabilities

Apa sebenarnya konsep dari formula tersebut?

  1. Aset yang diperhitungkan hanyalah current assets dan itupun hanya cash, marketable securities, account receivables dan inventory  yang memang cukup likuid.
  2. Account receivable hanya dinilai 75% dari yang tercatat di laporan keuangan karena adanya kemungkinan ada piutang yang tidak bisa ditagih.
  3. Inventory hanya dinilai 50% dari yang tercatat di laporan keuangan karena ada kemungkinan barang dagangan kadaluarsa ataupun ketinggalan zaman. Selain itu, ketika dilikuidasi ada kemungkinan inventory yang tersisa dijual dengan harga murah untuk mempercepat prosesnya.
  4. Aset-aset yang sangat likuid tersebut dikurangkan dengan seluruh kewajiban (total liabilities).

Graham mencoba bersikap sekonservatif mungkin dengan tidak menyertakan fixed assets seperti gedung, mesin dan kendaraan. Dengan demikian jika ada suatu perusahaan dijual di bawah nilai NNWC nya, sangat besar kemungkinan kita mendapatkan harga yang sangat murah.

Perlu diingat bahwa umumya perusahaan yang dijual di bawah NNWC nya jumlahnya hanya dapat dihitung dengan jari tangan.  Apa penyebabnya? Pertama, mencari saham dengan NNWC positif sangat susah. Yang kedua, kita harus mencari perusahaan dengan NNWC per lembar yang cukup besar sehingga dapat melampaui harga sahamnya.

Setelah mencari-cari, sampai saat ini saya hanya menemukan dua perusahaan yang sahamnya dijual di bawah NNWC per lembar saham, yaitu INCI dan LPLI.

Terlihat bahwa setelah dikurangi dengan kewajiban-kewajibannya, harga sahamnya masih diperdagangkan jauh di bawah NNWC nya. Apabila kinerja perusahaan ke depan buruk pun, nilai asetnya masih berpotensi untuk memberikan keuntungan.

Disclaimer is on.

This gallery contains 1 photo.

BFIN: Promising

5 Comments

Rendahnya suku bunga belakangan ini memang cukup membantu meningkatkan kinerja perusahaan financing, tidak terkecuali BFIN.

Terlihat bahwa selama lima tahun terakhir kinerja BFIN terus menunjukkan peningkatan. Sebenarnya selama tiga tahun belakangan, pertumbuhan revenue-nya tidak terlalu besar namun karena suku bunga terus menurun, operating income dan net income pun turut terdongkrak.

Mungkin yang perlu diwaspadai adalah meningkatnya DER. Sepertinya BFIN berusaha memanfaatkan peluang sebaik mungkin dengan menggunakan leverage.

Di harga saat ini, BFIN menawarkan margin of safety sebesar 16,54%. Tidak terlalu besar memang. Untuk lebih amannya, coba untuk menunggu harga yang lebih baik sebelum memutuskan untuk membeli.

Disclaimer is on.

This gallery contains 2 photos

Behind The Scene: Penjelasan Metode Valuasi Yang Saya Gunakan

4 Comments

Sudah hampir 3 tahun berlalu sejak saya menulis artikel tentang cara melakukan valuasi saham. Metode tersebut terbilang cukup sederhana, terlebih apabila dibandingkan dengan metode valuasi yang umum digunakan oleh oleh para profesional. Walaupun sederhana, bukan berarti metode tersebut tidak efektif. Kesederhanaan filosofi metode valuasi tersebut justru menjadi kekuatannya. Dalam banyak kasus, terbukti bahwa hasil valuasi memberikan hasil yang cukup memuaskan. Thanks to Mr. Mizrahi yang telah menjadi ‘guru’ saya dan memperkenalkan metode tersebut.

Sebelum menggunakan senjata, kita harus memahami anatominya agar dapat menggunakannya dengan baik. Demikian pula dengan metode valuasi yang ada di blog ini. Kita harus memahami konsep-konsep yang mendasarinya agar dapat menggunakannya dengan benar.

Hal pertama yang perlu digarisbawahi adalah bahwa hasil valuasi memberikan informasi pada kita tentang level harga yang masih masuk akal bagi kita untuk berinvestasi. Artinya, jika hasil valuasi menunjukkan bahwa harga wajar suatu saham adalah 1000, bukan berarti jika pada saat ini kita membelinya di harga itu kita tidak akan mendapatkan keuntungan. Dengan membeli saham tersebut di harga 1000, maka kita mengharapkan imbal hasil per tahun sebesar risk premium yang telah ditetapkan. Pada contoh valuasi UNVR yang digunakan pada artikel tersebut, harga wajar UNVR adalah 6,023 dan risk premium-nya adalah 18.61%. Jika kita membeli UNVR di harga 6,023, maka kita mengharapkan imbal hasil per tahun sebesar 18.61%. Walaupun begitu tentu saja akan lebih baik apabila kita dapat membeli dengan harga yang lebih murah.

Pada dasarnya, kita mencoba mencoba untuk mencari harga suatu saham di masa mendatang berdasarkan data PER historis dan proyeksi EPS dan kemudian mengestimasikan harga yang wajar untuk saat ini. Pada prinsipnya, semakin konservatif asumsi kita mengenai PER dan pertumbuhan EPS, semakin kecil risiko kita jika membeli sahamnya. Sayangnya, apabila kita terlalu konservatif, kita akan mendapatkan pilihan saham yang sangat sedikit. Perusahaan yang bagus biasanya dijual dengan PER yang lebih tinggi sehingga kita tidak dapat menyamakan dengan PER perusahaan yang lebih buruk kinerjanya.

Jangan lupakan juga pentingnya validitas informasi yang kita gunakan sebagai input valuasi. Sebagai contoh , suatu perusahaan pada tahun ini tiba-tiba melonjak laba bersihnya. Apabila kita menggunakan EPS tersebut maka kemungkinan besar hasil valuasi kita akan terlalu tinggi karena secara historis kinerja perusahaan tersebut biasa-biasa saja. Metode ini akan memberikan hasil terbaik untuk perusahaan yang memiliki earning growth yang stabil dan secara historis diperdagangkan pada range PER yang sempit. Metode ini akan sangat lemah untuk digunakan pada perusahaan yang baru tumbuh dengan pesat dan tidak memiliki data historis earning growth yang stabil. Kesalahan asumsi valuasi yang kita pergunakan akan membuatnya menjadi ‘garbage in, garbage out’.

Hal lain yang perlu diluruskan adalah bahwa valuasi hanyalah sentuhan akhir. Sebelum melakukan valuasi kita harus memastikan bahwa perusahaan dalam kondisi yang prima dan mampu memberikan kinerja yang baik di masa mendatang. Saya lebih memilih untuk berinvestasi pada perusahaan yang dijual sedikit di atas harga wajarnya namun berpotensi tinggi dibandingkan dengan perusahaan biasa-biasa yang dijual dengan harga murah. Ekstrimnya, perusahaan yang sangat bagus ada kemungkinan layak kita beli walaupun pada saat itu dijual dengan PER 30x. Untuk perusahaan yang biasa-biasa saja, jangan sekali-kali mencoba melakukan hal yang sama.

This gallery contains 0 photos

TOTL: The Art of Building A Business

3 Comments

Total Bangun Persada (TOTL) merupakan sebuah perusahaan konstruksi yang telah berdiri sejak 40 tahun yang lalu. Pengalaman puluhan tahun tersebut telah membuat perusahaan ini semakin matang dan mampu melakukan positioning dengan baik. Perusahaan ini memiliki spesialisasi untuk pembangunan office dan high-rise commercial buliding serta menyasar segmen pasar premier, yaitu proyek-proyek yang prestisius, berkualitas tinggi,  atau yang skala proyeknya cukup besar. Membaiknya kondisi ekonomi meembuat spesialisasi  dan segmentasi pasar TOTL tersebut sangat berarti. Sejalan dengan positioning-nya, TOTL menerapkan konsep “Green Bulding” yang bersifat sinergis. Selain itu, TOTL juga menerapkan program “Lean Construction” yang dapat memangkas prosedur kerja yang tidak efisien. Hal ini tampak pada menurunnya COGS sehingga meningkatkan net profit margin secara signifikan (5,24% pada tahun 2010 vs 3,01% pada tahun 2009).

Pada tahun 2010, TOTL melancarkan aksi bisnis yang cukup menarik dengan merambah sektor properti melalui anak perusahaannya, PT Total Persada Development. Dengan menggandeng PT Dewata Maju Makmur, PT Total Persada Development mendirikan anak perusahaan, PT Total Camila Development dan membangun  Kondotel Ramada Hotel & Suites Sakala di Tanjung Benoa, Bali. Proyek ini diharapkan mulai memberikan pendapatan untuk TOTL pada tahun 2011.

Grafik kinerja TOTL adalah sbb:

Apa yang kita lihat adalah perbaikan kinerja yang cukup signifikan sejak tahun 2009 setelah pada tahun sebelumnya dihempas oleh krisis global. Laporan keuangan TOTL untuk kuartal pertama 2011 mengkonfirmasikan hal tersebut.

Prospek yang cukup cerah tersebut didukung oleh valuasi yang terlihat cukup menarik.

Fair value TOTL untuk required return sebesar 14,63% adalah 578, cukup jauh di atas harga saat ini.

Disclaimer is on.

This gallery contains 2 photos

Adira Dinamika Multifinance (ADMF): Wonderful!

9 Comments

Tidak banyak emiten di BEI yang dapat memiliki kinerja yang konsisten dari ke tahun. Salah satu dari sedikit emiten tersebut adalah ADMF (Adira Multifinance). Perusahaan yang berdiri pada tahun 1990 ini mampu menampilkan performa yang luar biasa selama beberapa tahun belakangan, bahkan saat krisis global melanda dunia tahun 2008.

Perusahaan financing mau tidak mau akan terpengaruh oleh tingkat suku bunga kredit. Saat ini dengan BI rate terbilang cukup rendah, yaitu sebesar 6,75%. Akibatnya perusahaan financing rata-rata mampu menampilkan kinerja yang bagus karena konsumen akan terdorong untuk mengambil kredit pembiayaan. Bagaimanapun juga, kondisi perekonomian yang kondusif tidak akan dimanfaatkan semaksimal mungkin tanpa peranan manajemen dalam mengelola sumber dayanya. Saya cukup terkesan dengan ADMF ini. Mari kita melihat grafik di bawah ini untuk memahami bagaimana performa ADMF.

Tampaknya revenue, operating income, net profit, dan equity ADMF meningkat secara mantap selama lima tahun belakangan. Pada tahun 2010 ADMF mengalami sedikit revenue hiccups dan bagi saya tidak menjadi masalah karena setelah melihat LK Q1 2011, ADMF telah kembali ke jalur yang benar.

Sebagus apapun kinerja perusahaan, jangan lupa untuk melakukan valuasi. Apakah ADMF masih murah?

Saya mencoba melakukan valuasi secara konservatif untuk menghindari optimisme yang berlebihan. Dengan asumsi EPS growth sebesar 15% (seharusnya bisa lebih tinggi) dan PER 10, fair value ADMF adalah 18.677. Nilai tersebut memberikan kita margin of safety sebesar 39%. Sepertinya ADMF masih cukup menarik.

Disclaimer is on.

This gallery contains 2 photos

ARNA: Still Compelling

4 Comments

Sebelumnya saya sudah pernah melakukan analisis dan valuasi terhadap ARNA pada artikel sebelumnya. Tampaknya memang pasar belum merespon kinerja ARNA. Bagi saya ini merupakan kesempatan bagi para investor untuk membeli di harga yang murah. Update kinerja ARNA adalah sbb:

Terlihat bahwa kinerja ARNA cukup mengesankan. Dengan ROE 26% dan DER hanya 73%, ARNA masih terlihat menarik. Bagaimana dengan valuasinya?

Dengan margin of safety sebesar 95%, ARNA terlihat sangat murah. LK Q1 menunjukkan bahwa kinerja ARNA masih tetap konsisten. Dengan asumsi input valuasi yang cukup konservatif, ARNA bisa menjadi pilihan investasi.

Disclaimer is on.

This gallery contains 2 photos

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.